Wajahku memanas hingga ke belakang telinga. Jika saja suasana di sekitar kami tidak remang-remang, pastilah Raisen bisa melihat kulitku yang berubah kemerahan. Ingin sekali aku berteriak kepada diri sendiri agar sesegera mungkin menemukan jawaban. Bila tidak, maka aku harus menanggung konsekuensinya. Aku menghindar dari pandangan Raisen sambil mengakses memori semasa di bangku sekolah. Aku akan meniru cara guru SMP mengajarkan perbedaan pria dan wanita tanpa memancing fantasi yang berlebihan. Namun sialnya yang teringat di benakku malah penjelasan dari guru biologi. “Raisen akan menghitung mundur satu sampai tiga. Kalau Aya belum menjawab, Raisen akan….” “Stop! Jangan, Raisen!” pekikku ketakutan. Secara refleks, aku menyilangkan kedua tangan untuk melindungi tubuhku. Dalam kondisi te

