Suasana kamar yang awalnya terang benderang kini berubah menjadi hitam pekat, Aku tidak bisa melihat apapun, termasuk jari jemariku sendiri. Butuh beberapa lama untuk mataku beradaptasi, tapi tetap saja hanya kegelapan pekat yang aku dapati. Di sebelahku, Raisen bergerak gelisah dalam tidurnya. Napasnya juga mulai terengah-engah seperti orang yang tengah dikejar oleh sesuatu. Kemudian tiba-tiba saja dia mulai berteriak dengan keras, membuatku terkejut sekaligus panik. “Tolong!” pekik Raisen. "Raisen, tenanglah. Ada aku di sini.” Dengan mengandalkan indera peraba, aku mencari-cari dalam gelap, berusaha menggapai Raisen. Untung saja aku berhasil menyingkirkan bantal-bantal yang menghalangi. Secara perlahan, aku bergeser dan meraba tubuh Raisen. Aku meraih telapak tangannya yang terasa s

