Bolehkah Aku Menciummu

1498 Kata

Raisen tak lepas menatapku, seolah-olah dia benar-benar memohon supaya aku mengabulkan permintaannya. "Aya mau nggak tidur di kamar Raisen?” ulangnya mengharapkan jawaban dariku. Raisen merajuk dengan wajah yang terlihat muram, membuatku menjadi tidak tega bila sampai menolak keinginannya. "Oke, Raisen. Aku akan menemanimu." Melihatku mengangguk, Raisen meraih tanganku untuk digerakkan seperti orang yang tengah menari. "Hore, Aya mau menemani Raisen!” pekiknya kegirangan. Aku ikut merasa senang untuknya. Jika dipikir-pikir, tidak mungkin ada yang terjadi di antara kami seperti halnya malam kemarin. Raisen hanya minta ditemani karena lingkungan kamar yang berbeda. Dia tidak akan memiliki pemikiran lain seperti pria dewasa pada umumnya. Pak Jan yang berada di sebelahku menghela napas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN