Karena kejadian absurd itu, aku bungkam sepanjang jalan. Akhirnya, kami tiba di depan vila yang akan aku dan Raisen tempati selama beberapa hari. Pak Wawan sudah mulai sibuk menurunkan barang untuk dibawa masuk, sementara Pak Jan mendahului kami dengan berjalan kaki untuk menyiapkan kamar. Aku sendiri masih terdiam di depan vila pribadi Raisen. Walaupun tidak terlalu besar, vila itu nampak eksotik di mataku. Terlebih lokasinya menghadap langsung ke pantai. Karena merupakan milik pribadi, vila Raisen terpisah cukup jauh dari bangunan yang lain. Bisa dikatakan bahwa vila ini menjadi satu-satunya bangunan di sekitar sini. Dari gerbang, aku melihat air mancur dan beberapa tanaman hias yang ada di depan vila. Bagian luar saja begitu bagus, apalagi bagian dalamnya. "Aya, Aya!" "Ada apa, Rai

