Satu minggu berlalu, kondisi Mita jauh lebih membaik. Ia masih berada di rumah Satria, walau sebenarnya ia sangat ingin pulang. Terlebih lagi, ia sangat merindukan kekasihnya --- Dandi. Mita memeluk tubuhnya, menatap luar jendela. Ia tak tahu saat ini ia berada di kota mana. Mita benar-benar sangat lelah untuk bertanya pada Satria karena ia tak akan mendapat jawaban darinya. Mita sangat merindukan Dandi dan juga kedua orang tuanya. Mita merasa hidup dan senang bisa mengenal mereka. Mereka bisa menghargai Mita disana. Air mata Mita jatuh menetes, ia tidak bohong. Ia sangat merindukan mereka, terlebih Dandi. Mita pun terkejut, saat tangan seseorang menghapus air matanya. “Apa yang kamu tangisi, Sayang?” tanya Satria dengan penuh penasaran. Mita pun mengubah posisi duduk dari santai hi

