… Anton, dan kedua orang tuanya berlari di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin Rara di rumah sakit, dan bagaimana bisa di bersama dengan Rangga? entahlah… mereka tidak tahu. Anton pun tiba di depan pintu kamar dimana Rara di rawat, lalu di susul oleh kedua orang tuanya yang jauh tertinggal di belakang sejak tadi. Anton berlari lebih dulu, karena ia merasa sangat khawatir pada sang adik. Anton pun masuk setelah ia mengatur napasnya yang tersengal, lalu di ikuti oleh kedua orang tuanya. Mereka jelas melihat, disana ada Rangga yang menemani Rara. Rara masih tak sadarkan diri, bahkan selang infus pun sudah terpasang. Terlebih lagi, ia di bantu memakai alat bantu pernafasan. Anton berjalan mendekati ranjang dimana adiknya terbaring. “Sayang, maafkan kakak…” lirih Anton melihat sang

