40. Tantangan Berikutnya

1142 Kata

Seno menatap nanar pada pria bule itu untuk beberapa saat hingga ia kemudian tersadar. Ia menyambar kerah baju bule itu karena geram. "Manusia macam apa kalian itu, hah? Sudahlah tidak mau bertanggung jawab dengan anaknya, dia juga lantas pergi dengan meninggalkan penyakit berbahaya itu untuk putriku! Di mana hati nurani kalian, hah? Di mana?!" Setelah mengguncang-guncang tubuh pria itu Seno menghempaskannya dengan kasar. Sedang Clarissa, lututnya tak lagi kokoh. Ia terjatuh ke lantai dengan pikiran yang kacau. Ya, pria itu sudah pergi. Sudah pergi untuk selama-lamanya. Ia tak mungkin lagi bertemu dengannya. Air matanya kembali jatuh berderai. Pikirannya tiba-tiba kosong. Entah berapa lama ia di lantai, ia tak ingat. Tiba-tiba saja sang ayah membuatnya berdiri dan mengajaknya pergi ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN