PEMBALASAN

807 Kata
“Mio, istri lo… istimewa,” ujar Dodi, menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa? Ada apa?” tanya Demio, pura-pura tidak tahu. “Tadi, sekitar jam 10, ada Satpam datang ke sini bawa bungkusan. Katanya, itu dari istri lo. Katanya, bekal rendang jengkol dari ‘Tuan Mata-mata’,” Bima terkekeh. Wajah Demio memerah. “Tuan Mata-mata? Istriku… dia hanya bercanda.” “Bercanda? Katanya, lo itu lagi menyamar, pura-pura jadi cleaning service padahal lagi menyelidiki kebobrokan kantor. Satpam itu sampai ngakak lho, Mio. Dia bilang, ‘Dasar bocah polos. Suaminya dibohongi mentah-mentah malah dikira pahlawan’,” Dodi menirukan nada Satpam. Demio menyandarkan tas punggungnya ke dinding dengan keras. “Kalian jangan macam-macam ya, sama istri saya!” “Lho, kenapa lo marah? Kenapa lo tersinggung? Istri lo sendiri yang bilang. Kami cuma menyampaikan. Tapi serius, Bro. Lo itu hebat. Lo bisa meyakinkan istri lo yang santriwati polos itu kalau lo itu James Bond versi pembersih lantai,” Dodi tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel mahal terdengar di koridor. “Siapa yang membuat keributan di sini?!” Itu adalah Rina, Manajer Pemasaran. Ia sedang ditemani oleh Pak Hendra, Kepala Divisi Keuangan. Rina menatap Dodi, Bima, dan Demio dengan tatapan jijik. “Kalian ini! Jam istirahat juga masih saja ribut! Memangnya kalian pikir ini kandang?!” “Maaf, Bu Rina. Kami hanya… sedang berdiskusi,” jawab Dodi dengan nada takut. Rina mengalihkan pandangannya ke arah Demio. Ia melihat lunch box yang ada di tangan Demio. “Kamu! Cleaning service yang membersihkan lantai tiga! Kamu yang membuat lantai tiga becek kemarin, kan?” “Saya sudah meminta maaf, Bu Rina,” jawab Demio, mencoba menahan emosinya. “Permintaan maaf tidak membuat sepatu Gucci saya bersih! Kamu tahu berapa harganya? Harga sepatu saya ini mungkin setara dengan gaji kamu lima bulan!” Rina meninggikan suaranya. “Rina, jangan seperti itu. Dia hanya cleaning service. Kasihan dia,” ujar Pak Hendra, nadanya merendahkan, bukan menolong. “Kasihan? Mereka ini memang harusnya dikasari, Pak Hendra! Kalau tidak, mereka tidak akan bekerja benar! Hei, cleaning service! Coba kamu lihat sepatu saya sekarang! Kotor karena debu dari koridor bawah! Cepat bersihkan!” Rina meletakkan sepatu hak tingginya di atas lunch box Demio. Seketika, rendang jengkol itu mengeluarkan bau kuat. Demio bisa merasakan mata Dodi dan Bima membelalak. Bau rendang jengkol yang menyengat dihidung Rina dan Pak Hendra yang terbiasa dengan parfum mahal, pasti terasa menjijikkan. “Cepat bersihkan, clean!” Rina membentak. Demio menatap sepatu mahal yang mengotori bekal pemberian istrinya. Emosinya pecah. Ia tidak tahan lagi. Bukan karena hinaan kepada dirinya, tapi karena penghinaan terhadap ketulusan Yuni. Ia mengambil lunch box itu kembali. Bau rendang jengkol kini menempel di sepatu Rina. “Maaf, Bu Rina,” suara Demio terdengar dingin, sangat dingin, berbeda dari biasanya. “Saya tidak akan membersihkan sepatu Anda.” Rina terperangah. Pak Hendra terkejut. Dodi dan Bima mundur selangkah. “APA KATAMU?! KAMU MENOLAK PERINTAH SAYA?!” Rina berteriak. “Saya menolak. Dan saya minta maaf, Bu Rina, Pak Hendra, sepertinya aroma rendang jengkol dari bekal makan siang saya sudah menempel di sepatu mahal Anda,” Demio mengambil tisu, pura-pura mengelap sepatu Rina. Ia sengaja mengoleskan sedikit kuah rendang di sol sepatu Rina. Rina menjerit tertahan. “DASAR KOTOR! SAYA AKAN LAPORKAN KAMU KE HRD! KAMU AKAN DI PECAT, HARI INI JUGA! KEPALA HRD ITU TEMAN SAYA!” Demio berdiri tegak. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap mata Rina, lalu beralih ke Pak Hendra. Senyum tipis yang sangat berbahaya muncul di bibirnya. Senyum yang hanya dimiliki oleh seorang CEO, bukan cleaning service. “Silakan, Bu Rina. Laporkan saya. Anda bisa lapor sekarang juga ke HRD. Atau, Anda bisa langsung lapor ke Direktur Utama,” kata Demio. “Berani sekali kamu! Memangnya siapa kamu!?” Rina benar-benar marah. “Saya… hanya seorang cleaning service,” jawab Demio, nadanya datar. “Tapi, Bu Rina, saya peringatkan Anda. Jangan pernah lagi menginjak-injak pemberian istri saya. Dan jangan pernah menghina orang yang bekerja keras, siapapun mereka. Termasuk cleaning service. Karena Anda tidak pernah tahu… siapa sebenarnya yang sedang Anda hina.” Demio berbalik. Ia berjalan meninggalkan mereka, menuju ke ruangannya yang berada di lantai 30. Saat ia berjalan, ia membuka kancing seragam birunya. Di belakangnya, Dodi berbisik pada Bima. “Gila… aura Mio… kenapa tiba-tiba menakutkan sekali?” Bima menggeleng. “Gue nggak tahu, Dod. Tapi… tatapan matanya… seperti tatapan mata Tuan Besar.” Rina, yang masih berdiri mematung karena terkejut, tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari HRD: “Ibu Rina, dan Bapak Hendra. Anda berdua diminta untuk segera menghadap Direktur Utama. SEKARANG. Ada masalah serius. Jangan sampai terlambat.” Rina dan Pak Hendra saling pandang, kebingungan. Sementara itu, Demio sudah berada di lift eksklusif, menuju ruangannya. Di dalam lift, ia meremas seragam biru kotornya. “Maaf, Sayang,” bisiknya pada seragam itu. “Sandiwara ini akan segera berakhir.” BERSAMBUNG YA GUYS
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN