Pagi itu, setelah Demio berangkat dengan langkah yang lebih tegap dan kaus kaki cashmere yang baru dijahit, Yuni merasa ada energi baru yang mengalir di dalam dirinya. Ia tidak lagi hanya seorang mantan santriwati yang kabur dan takut dihina. Ia adalah istri seorang ‘mata-mata rahasia’ yang sedang berjuang demi keadilan. Beban trauma yang ia bawa dari Sragen terasa sedikit terangkat, digantikan oleh rasa bangga yang tulus pada suaminya. Kontrakan kecil mereka, yang dulu terasa seperti persembunyian, kini terasa seperti markas rahasia. Yuni memulai rutinitas hariannya. Ia membersihkan rumah dengan semangat. Ia mencuci pakaian Demio, termasuk seragam biru cleaning service yang ia anggap sebagai simbol penyamaran dan perjuangan. Aroma deterjen yang kuat, yang dulu hanya berbau 'pekerjaan', k

