Demio kembali ke kontrakan tepat jam delapan malam, sesuai janjinya. Ia berganti pakaian formalnya dengan kaus oblong dan celana pendek lusuh di dalam mobil sebelum masuk. Ia merasa lelah bukan karena bekerja, tapi karena energi yang terkuras untuk terus berakting. Yuni sedang menyiram bunga di teras kecil mereka. Begitu melihat Demio, senyumnya mengembang, senyum yang Demio rindukan sepanjang hari. “Mas Demio! Tepat waktu! Aku sudah siapkan kopi panas,” Yuni menyambutnya. Demio memeluk Yuni erat-erat. “Terima kasih, Sayang. Mas rindu sekali sama kamu.” “Aku juga, Mas. Masih capek jadi mata-mata hari ini?” Yuni tersenyum. Demio tersenyum kecut. “Capek sekali, Yun. Tapi Mas senang, karena hari ini, Mas berhasil membuat beberapa orang yang sok kuasa itu jera.” Yuni menarik tangan Demio

