BAB 13
Pernikahan Yuval dan Alma, adem ayem tentram sentausa, sangat jarang ada percikan perselisihan diantara mereka, adik-adiknya sendiri sampai heran melihatnya gak pernah liat saling bantah.
Mereka saling menghargai pendapat pasangan dan tidak saling dominan satu sama lain.
“Kak kalau aku nikah nanti ingin seperti kakak harmonis gitu.” Gama berharap dapat pasangan yang saling mengerti.
“Sebenernya gak bisa seperti itu. Kak Alma mendapat jodoh sangat singkat perkenalannya, tapi ternyata sayang banget sama kakak. Feeling saja laah, tapi kamu harus punya kriteria tertentu jangan asal cinta.” Alma sangat berharap perkawinannya selalu seperti ini.
“Kapan kalian berangkat. Jaga diri baik-baik disana. Kakak mengeluarkan uang tidak sedikit, anggap saja uang itu untuk investasi masa depanmu.”
“Iya kak Alma doakan selesai tepat waktu dan pulang secepatnya.” Gani pun akan berusaha menyelesaikan tepat waktu ga ingin meninggalkan kakaknya lama-lama.
“Dari sekarang persiapkan, bawa saja hal-hal yang penting. Kalian beruntung dari berangkat sudah ada temen untuk berbagi.” Alma setiap saat selalu ngingetin untuk jaga diri di negeri orang.
Yuval tak henti-hentinya bersyukur mempunyai istri yang sangat mengerti adiknya. Saat ini pun sebagian biaya Gama ditanggung Alma, sebagai pinjaman karena Alma gak mau merendahkan harga diri suaminya.
Karena suaminya lagi butuh uang banyak di perusahaannya. Lagi banyak proyek. Setelah proyeknya selesai janji akan menggantinya.
Mereka mengantar adik-adiknya ke bandara.
Sebelum check in mereka berpelukan, Gama dan Alma menangis sedih.
“Sampai disana langsung kabari kakak ya, di bandara sana banyak Wifi gratis, kakak pasti kangen kalian” Alma tau karena pernah liburan ke sana bersama keluarga.
Adik-adiknya boarding, Yuval dan Alma pun pulang.
“Mulai sekarang kita akan kesepian ya, kadang aku masih merasa mimpi, benarkah adiknya bisa kuliah di luar negeri ? gak nyangka bisa pisah jauh.
Sebelum ada Gani kan adikku segala sesuatu minta tolong aku setelah ada Gani baru berkurang.” Yuval membayangkan 2 tahun gak ketemu adiknya.
“Kalau mikir begitupun aku pasti sedih gak tega pisah dengan mereka, tapi buat masa depannya.
"Kita harus mengalahkan ego diri kita sendiri. Adik kita pasti berhasil melewati semuanya.” Alma yakin Gani mampu karena dia cukup keras mendidik Gani untuk mandiri.
“Kamu ditinggal mereka berdua, mengelola café gak kewalahan ?” Yuval khawatir istrinya kecapaean.
“Sebenarnya café bisa ditinggalkan sama sekali tanpa aku, karena sudah berjalan sistemnya, tadinya malah aku mau menambah lagi café, tapi difikir nantilah kalau Gani sudah pulang, pasti dia membawa ilmu yang fresh untuk membuat café lebih baik.”
“Istriku memang luar biasa, aku selalu dibuat takjub setiap harinya.”
“Kamu gak perlu berlebih begitu, biasa saja kalii.”
“Aku membayangkan andai Jea tidak ketahuan sama kamu terus kamu menikah dengan dia, pasti aku sekarang akan tetap seperti dulu menutup diri mengacuhkan adikku. Hanya memberi apa yang diminta. Membayangkannya saja aku merinding, betapa memalukannya aku ya dulu.” Yuval melirik pada istrinya, dia makin cinta saja.
“Nah itu harusnya segala sesuatu dijadikan pelajaran seburuk apapun itu.”
“Ngomong-ngomong aku ditelpon mama Sella sampai nangis bilang makasih telah membuka jalan buat Jea, perkembangan Jea luar biasa. Dia malah sekarang bikin usaha umroh bersama kyai yang membimbingnya. Setelah umroh dengan kyai itu Jea dikenalkan di Arab sama relasi-relasi kyai dan memberi akses segala perijinannya.”
“Kamu yang luar biasa,” ungkap Yuval dengan nada cemburu sebenarnya.
“looh kenapa aku, ya Jea saja yang keren ternyata naluri bisnis nya bagus juga.” Sela Alma ga ngerasa luar biasa.
“Tanpa kamu mendatangi menyemangati dan memberi saran pada Jea untuk mendatangi kyai apalah artinya dia sekarang Alma.” Yuval tetep ngingetin peran Alma untuk membuat Jea bangkit.
Jea dalam setahun saja sudah memberangkatkan umroh ratusan orang yang membuat dia makin maju belum haji. Sella, ibunya Jea selalu mengirim oleh-oleh yang dibawa Jea buat Alma. Yuval kadang cemburu dengan kedekatan Sella dengan istrinya.
“Kamu kok selalu penting dikeluarga Jea sih, apapun pasti mereka inget kamu.” Yuval menahan untuk tidak ketahuan cemburu.
“Mereka bilang walau aku putus dengan Jearau mereka tetep menganggapku keluarga mereka. Aku menghargai kebaikan mereka, jadi apapun yang aku dapat apalagi oleh-oleh pasti aku inget mereka. Kalau masak kelebihan pun aku selalu mengirim pada mereka,” Alma berbicara dengan nada biasa saja tetapi Yuval panas juga mendengarnya.
“Apa kamu masih punya hati pada Jea, apalagi dia makin berhasil.” Yuval menyelidikinya.
“Hahahahahaha…. Kamu cemburu yaaa. Aku malah belum pernah ketemu dia dari terakhir ketemu waktu diminta Casey untuk menasihatinnya.” Alma tertawa tepingkal-pingkal melihat suaminya cemberut gitu.
Yuval makin cemberut diketawai istrinya.
“Sungguh aku takut kamu berpaling lagi padanya, setelah dia semakin baik.”
“Jangan berfikir begitu. Aku bukan tipe seperti itu Val. Kalau aku telah memilih sesuatu aku akan fokus pada yang aku pilih, kecuali kalau kamu meninggalkanku, aku pun gak mungkin kan harus terpuruk meratapimu. Aku pasti akan cepat bangkit.” Alma tipe orang easy going sesuatu yang terjadi seharusnya dihadapi saja dan cari solusi bukan malah dipersulit.
Kehidupan perkawinan mereka berjalan baik baik saja, tak terasa sudah 1 tahun lebih sedikit berjalan.
Di dapur Alma menyediakan masak untuk mengirim makan siang buat suaminya, dia, merasa bingung beberapa minggu ini nafsu makannya sangat turun dan mulai merasa mual kalau bau asap masakan di dapur. Puncaknya hari ini dia bener-bener gak kuat lagi menahan akhirnya dia meraih plastik disekitarnya dan muntah-muntah tiada henti. Semua karyawan panik. Sasy langsung membawa ke kamar Alma.
Sasy mengurut punggung Alma, membalurnya dengan kayu putih.
“Tolong terusin masakanku, sebelum jam istirahat kirim ke Kak Val ya. Aku sudah enakan sekarang. Mau rebahan dulu bikinin juice blackcurrant saja aku lagi ingin.
Sasy mengkerut dahinya, dia ngerti banget kalau Alma gak suka buah blackcurrant.
“Ahh mungkin dia mulai belajar suka.” Fikir Sassy keheranan.
Sepeninggal Sassy, Alma rebahan. Tak lama Sassy kembali bawa gelas berisi juice blackcurrat,
Alma langsung meraihnya glek…glek… glek.. langsung tandas.
“Al, gue heran deh sama elu mulai kapan elu suka blackcurrant. Kan elu anti banget sama buah ini.”
“Ga tau tiba-tiba ingin saja. Ingin menghilangkan mual tiba-tiba terfikir juice buah ini ternyata bener seger banget, aneh yaa kenapa gue gak suka dulu.”
“Lu mual, muntah, lalu bisa makan yang lu gak suka, jangan-jangan lu hamil Al,” Sassy curiga, karena beberapa hari ini Al selalu mual kalau ke dapur, tapi sebatas mual saja gak sampai muntah kayak tadi.
“Coba deh lu inget-inget Al kapan terakhir haid.”
“Alma berhitung, kayaknya bener gue hamil baru inget sudah telat sebulan.”
Sassy cepet-cepet berhambur ke luar,
“Lu mau kemana ini gelas kotor sekalian bawa.” Alma teriak Sassy gak menggubris.
Sassy pergi ke apotik yang memang ada beberapa buah disekitar situ, karena Café Alma’S memang di pusat kota. Setelah dapat, dia cepet-cepet balik ke kamar Alma.
“Nih cepat pake testpacknya.” Sassy menyodorkan 3 buah testpack.
“kenapa harus 3 buah Sas.” Alma keheranan.
“Biar yakin saja masa sih kalau 3 buah sampai salah hasil test.”
Alma nyari penampung untuk air seni nya, lalu masuk kamar mandi. Agak lama, tiba-tiba terdengar suara jeritan Alma,
Sassy langsung masuk kamar mandi merebut salah satu testpacknya, dilihat ada 2 setrip warna pink. Sassy memeluk Alma dengan bahagia.
“Selamat ya Al, gue akan gak sabar nunggu lu lahiran.”
“Ampuun Sassy, ini baru positif juga belum tau dah berapa minggu, lu malah mikir lahiran. Sas jangan dulu bilang ke yang lain kalau aku hamil biar Yuval duluan yang tau.”
Sassy mengangguk,.
“Kamu gak usah ke depan, istirahat saja disini dulu.”
“Aku sudah enakan lagi sekarang. Sudah ga mual lagi.” Alma liat jam sebentar lagi jam istirahat, dia mau bawa sendiri makan siang suaminya.
“Beneran kamu mau nyupir ke sana sendiri ?” Sassy khawatir.
“Emang kenapa, aku merasa gak ada masalah. Sekalian memberikan hasil testpack ini.”
Alma bergegas berias sedikit menyisir rambutnya dan memberi seulas lipstick, berjalan ke depan, makanan baru saja mau diantar karyawannya. Alma memanggilnya.
“Biar aku saja yang antar,” Alma mengambil rantang nasi dari tangan pegawainya.
“Kak Al sudah sembuh ?”
Alma mengangguk, lalu beranjak pergi ke arah mobil.
Sassy ngabarin Yuval Alma sudah berangkat.
Sampai di lobby Yuval sudah menunggu istri pujaannya. Mereka masuk ruangan Yuval beriringan.
“Aku punya hadiah spesial buatmu hari ini. Tapi kamu makan dulu yaa.”
Alma membuat Yuval sangat penasaran,
“Hari ulang tahunku perasaan masih lama Al, dalam rangka apa kamu memberi hadiah.”
“Pokoknya kamu makan dulu saja. Aku mau memberikan jatah sekretarismu.”
Di rantang paling bawah memang khusus buat sekretaris Yuval.
Setelah Alma kembali dari ruang sekretarisnya, Alma duduk di sebelah suaminya.
Yuval bergegas menghabiskan makannya saking penasaran hadiah apa yang akan diberikan Alma buat dirinya apa ticket ke Paris buat nengok adik mereka, memang rencana akan liburan ke sana sekalian nengok adiknya itu.
Alma memperhatikan dengan geli, Yuval makan tergesa-gesa.
“Val makanannya santai dikit, nanti kamu keselek.”
“Salah kamu sih bikin aku penasaran jadi ingin cepet selesai, jadi gak menikmati masakanmu.
“Kalau aku kasih sekarang malah kamu ga mau makan masakanku.”
“Masa sih hadiah sampai membuat gak mood makan, berarti hadiah yang menyedihkan yaa.”
Yuval malah jadi was-was mendengar omongan Alma.
Melihat Yuval selesai makan dan nyuci tangan, Alma membereskan rantangnya lalu menyuruh sekretaris Yuval membersihkannya sekalian di susun kembali.
“Apa dong yang bikin aku deg degan gini.”
“Kayaknya liburan kita ke Paris gak jadi deh Val.” Alma sambil menyodorkan kotak.
Yuval membukanya dengan gak sabar.
Yuval terbelalak melihat 3 testpack yang jelas terpampang garis 2 buah di semua testpacknya.
Dia langsung berhambur memeluk Alma dengan bahagianya.
“Ini hadiah bener-bener spesial sayang.” Yuval menciumi Alma bertubi-tubi.
“Makasih sayang, Tuhan memberinya pas kita bener-bener sedang mempersiapkan untuk mempunyai anak. Jadi kita gak bisa nengok adik kita yaa. 1 tahun ke depan mereka sudah selesai,”
“Bisa sih sebenarnya, kita konsul saja ke dokter, apa kandungan ini kuat mendapat getaran peawat selama hampir 18 jam.” Alma ragu-ragu akan kekuatan kandungannya.
“Lebih baik kita tunda saja, nanti kan bisa jalan-;jalan sama anak kita kalau sudah besar. Nanti sore kita ke dokter kandungan. Sekarang aku daftar dulu yaa.” Yuval menelpon rumah sakit untuk termin dokter kandungan.
Alma pulang diantar sampai parkiran mobil, tadinya mau diantar pulang tapi Alma gak suka dimanja seperti itu Yuval mengalah daripada ribut ngotot-ngototan.
Begitulah perkawinan mereka gak pernah sampai berantem rame karena selalu ada yang mengalah diantara mereka.
Jadi segala sesuatu masalah cepat selesai gak berlarut-larut karena saling mau mendengar keinginan masing masing.
Mereka berusaha saling memahami satu sama lain, menunda momonganpun mereka sepakat memahami masing-masing pasangan dulu baru mereka memprogram kehamilan.
***TBC