BAB 12
Siang ini sengaja Alma akan membawa sendiri menu makan siang spesial ke kantor, karena beberapa hari ini selalu diantar oleh pegawainya, karena harus makan siang sama klien yang akan menyewa cafenya.
Gama dan Gani sedang sibuk menghadapi sidang skripsi, beberapa bulan ini kedua adiknya memang sangat kurang membantu di café, karena dilarang sama Alma. Dipaksa harus fokus pada sidang skripsi. Alma gak mau mereka telat.
Alma mengendarai mobil menuju kantor suaminya. Sampai lobby suaminya sudah menyambutnya, Yuval selalu menyambut istrinya dia sangat menghargai istrinya.
Semua karyawan gak menyangka seorang Yuval yang begitu dingin dan terluka bisa mendapatkan cintanya lagi, dan bisa begitu terbuka memperlihatkan pada publik betapa dia sangat mencintai Alma, bahasa kekinianya Bucin kali. Saat ini dia sangat anti lembur apalagi nongkrong sama teman-temannya, padahal Alma tidak pernah melarangnya.
“Hari ini masak apa sayang,” Yuval gak sabar ingin makan masakan istrinya, yang semua orang tau betapa lezatnya masakan istrinya.
“Kamu tuh seperti sudah setahun ga makan masakanku, padahal tiap haripun kamu makan masakanku.
“Kamu bikin aku gak bosan makan masakanmu, tiap hari selalu jadi teka-teki masak apa hari ini.
Tak henti-hentinya aku bersyukur betapa beruntung nya aku menikah denganmu. Aku harus beli alat gym sendiri dirumah harus tiap hari latihan gak mungkin kan ke gym tiap hari.”
“Val yang istrinya pinter masak itu banyak gak kamu doang, jadi ga usah lebay.” Alma mendelik.
“Val kamu sibuk ga siang ini, aku akan ke kampusnya Gani dan Gama memberi semangat dan membeli bunga buat mereka setelah istrirahat mereka sidang. Kalau kamu ga bisa aku akan sendirian” Alma ngingetin Yuval.
“Bisa, kita berangkat setelah makan yaa, mampir dulu ke toko bunga.” Yuval sangat menikmati makan siangnya.
Almapun selalu menyisihkan makan siang buat sekertaris suaminya, bukan main sekretarisnya seneng tiap hari makan enak terus gratis lagi.
Sekretarisnya suka sedih kalau pas jam makan siang kebetulan Yuval masih tugas luar, alamat ga dapat jatah makan siang.
Ditoko bunga Yuval bingung apa kesenangan bunga adiknya.
“Kamu tuh ga tau apa bunga kesukaan adikmu. memperhatikan adikmu pada hal-hal materi saja, nanti kasihan suaminya, kalau kamu menyayanginya beri dia pendidikan yang bagus, beri dia pengetahuan seluasnya untuk mampu mandiri bukan memberi uang dan membelikan apa yang dia mau? Alma ngomel-ngomel.
“Iya sayang, aku melihat kamu mendidik Gani jadi merasa bersalah telah mendidik Gama dengan cara yang salah. Gama beruntung cepat kenal kamu jadi masih bisa berubah sekarang.”
“Kalau begitu bucket bunganya yang berisi macam-macam saja pak,” Pelayan memberi solusi dengan menunjuk beberapa contoh bucket bunga campuran.
Yuval mengangguk setuju.
Alma pun ke supermarket untuk membeli coklat buat adik mereka selain bunga, karena Gani penggemar coklat.
Dikampus mereka menunggu di depan ruang sidang, Yuval menunggu di ruang sidang Gani dan Alma menunggu diruang sidang Gama, karena ruang sidang nya berbeda.
Pintu ruang sidang terbuka Gama keluar. Teriak histeris ketika melihat kakak iparnya ada di depannya.
“Wah surprise banget kaak. Makasih,” Gama memeluk alma dengan erat, sampai terisak.
“Aku lulus kak, terima kasih bunganya,” Gama menghirup bunganya pelan.
“Ayo ke tempat Gani, kak Val ada disana.” Mereka berdua bergegas ke depan ruang sidang Gani. Yuval melihaat Gama lalu berdiri memeluknya.
“Makasih kak, dikira kakak ga dateng.”
“Kakak hampir lupa looh, ini dijemput sama kak Alma.”
Beberapa saat kemudian Gani keluar mereka berpelukan bahagia.
“Ayo kita rayakan makan dimana, tapi kakak tadi sudah makan. Biar kitaa makan dessert nya saja. Kalian saja yang makan utama.”
Di mobil Gani dan Gama membuka kado yang diterima dari temen-temen juga dari kakaknya.
Gani histeris ketika membuka kado berisi coklat dari kakaknya, coklat kesenangannya.
“Kalian kok gak ditungguin pacar kalian sih.” Yuval heran pada adik-adiknya, dia lagi mahasiswa malah gonta ganti pacar.
“Emangnya kakak lagi kuliah bukannya konsen kuliah malah pacaran mulu, mentang-mentang ngerasa laku yaa ?” Gama sebel mengingat waktu kakaknya masih kuliah.
“Jangan suka membongkar kejelekan kakak depan kakak iparmu Gama.” Yuval tertawa.
“Bagaimana rencana kalian, kakak lebih senang kalian kuliah lagi deh, kakak berharap kalian kuliah diluar biar bisa membuka cakrawala lebih. Dulu kakak ga mungkin nerusin kuliah master ninggalin kamu lagi kecil. Tapi kamu tidak punya alasan ga kuliah keluar karena ga mau ninggalin kakak,”
“Trus café dan kakak gimana,” Gani tetap khawatir.
“Kakak kan sekarang sudah ada yang jagain, suami. Kamu bisa fokus kuliah. Master itu Cuma 2 tahun. Sangat gak terasa. Kakak ga mau kamu hanya S1, biaya ada. Gama pun harus ikut kuliah.
Sudah nanti kuliah lagi ditempat yang sama.”
Gama ga berani jawab takut kakaknya ga punya uang.
“Gama kamu jangan mikirin uangnya. Pokoknya daftar kalian berdua.” Alma ngerti dengan diemnya Gama.
“Beneran Gama bisa kuliah lagi bersama Gani.” Gama langsung bersemangat.
“Tapi syarat jangan banyak main-main. Harus tepat waktu, kalau molor waktunya ga ada uang tambahan. Kamu sekarang tau kan nyari uang itu susah.” Alma memberi peringatan untuk serius menjalani kuliah apalagi di luar negeri.
“Buat kakak terserah kalian mau kuliah lagi disini atau diluar. Yang penting kuliah lagi. Tapi kalian melakoninya jangan merasa terpaksa.
“Aku ingin sekali kuliah di luar apalagi di Perancis.” Gama membayangkan betapa senangnya di sana.
“Wah elu mah pasti mikir wisatanya disana.” Gani malah meledek.
“Kalau gitu sambil nunggu wisuda kursuslah bahasa Perancis dari sekarang kalian kan sudah kosong ambil yang intensif setiap hari, selama 6 bulan sudah cukup, karena master banyak yang pakai bahasa inggris, tapi tetep saja perlu bisa bahasa setempat.” Alma memberi saran pada adik-adiknya, mereka menyetujui.
“Ya aku akan ambil secepatnya setelah menentukan mau di Perancis atau Belanda.” Gani sebenernya ingin di Belanda.
“Val kamu mau kembali ke kantor ? atau mau ikut ke café ?’
“Ke Café saja bentar lagi juga bubaran kantor.”
Ketika berdua di kamar.
“Kamu yakin Gama mampu kuliah diluar?” Yuval ga yakin takutnya sudah mengeluarkan uang banyak trus ga bener kuliahnya.
“Ga usah mikir sejauh itu. Mereka pasti bertanggung jawab. Dulu aku sangat ingin meneruskan di Perancis, tapi ga mungkin ninggalin Gani sendirian disini, mestinya saat itu aku berani bawa
Gani saat SLTA ke sana. Kuliah master hanya 2 tahun apalah artinya 2 tahun kalau level kita naik seumur hidup.”
“Setiap hari aku selalu dibuat kagum oleh kamu. Selalu membawa inspirasi dan aura positif disekitarmu,” Yuval memeluk Alma makin sini makin bangga pada istrinya, selain pinter masak wawasan nya juga sangat luas.
Gama dan Gani mulai browsing mencari universitas di luar negeri. Mereka berdua berdiskusi plus minus setiap universitas yang akan dituju.
Mereka merasa bersyukur punya kakak yang begitu mensupport untuk kemajuan masa depannya.
Pagi-pagi mereka sarapan bersama,
“Kak, Gama dan Gani sudah menemukan universitas yang sekiranya cocok buat kita berdua.”
Gani dan gama saling berpandangan.
“Dan kami juga nyari yang diluar kota, biar dorm dan uang kuliahnya lebih murah.” Gama menambahkan.
“Kalian nyari Flat yang 1 kamar Gama bisa dikamar dan Gani diruang tamu yang disulap kamar. Atau flat yang dua kamar juga boleh.”
“Al masa mereka serumah ? Yuval merasa khawatir.
“Hahahahaha, kamu khawatir terjadi apa-apa pada mereka, tinggal kawinin kalo mereka hamil….. maaf kakak hanya becanda,” Alma terkekeh.
“Nih kalau soal itu Val jangan takut. Itu tanggung jawab kalian yang harus bisa jaga diri. Sekarang kita bebasin sedemikian rupa anak-anak kalau tau tanggung jawab nya pasti akan menjaganya. Mau dijaga seketat apapun anak kalau niat nakal pasti bisa nakal. walau ga ada orang tuanya punya tanggungjawab ya bisa jaga diri, walau dirumah bareng orang tua banyak juga anak-anak yang hamil.” Alma menerangkan panjang lebar.
“Ya liat contoh kak Alma, pacarna lebih dari 2 tahun dengan ka Jea. Kak Val tetep dapetin kak Alma perawan. Padahal kak Alma ditinggal orangtuanya lagi kuliah.
Itu namanya tanggung jjawab pada diri sendiri. Tidak ada satupun orang lain bisa menjaganya.” Yuval memberi contoh kepada adik-adiknya.
“Ga usah jauh-jauh deh kakak, walau ada mama dan papa, dulu kakak mana tau namanya tanggung jawab, pacaran dan clubing.” Gama mencibir.
“Mulai deh Gama.” Kakaknya kesal, dia malu mengingat kelakuannya dulu.
“Ngomong-ngomong aku dapetin kamu perjaka apa nggak yaa,” Alma melirik Yuval yang tersedak, gelagapan. semua tertawa ngakak.
“Lagian aku sudah nganggap Gani sodara, gitu juga Gani. Ga serulah kakak dengan kakak, adik dengan adik, ga nambah sodara jadinya. Lagian aku mau sama bule saja laah boleh kan kak.”
Gama menatap kakaknya, meminta persetujuan.
“Masalah jodoh kakak gak bisa ngatur harus ke siapa orang mana, melihat orang tua yang maksa kawin dengan pilihannya sampe mengunci anaknya di kamar, sampe ngusir kalau nolak, menurutku picik, mau melebihi tugas Tuhan, yang penting kalian berusaha nyari yang terbaik, satu pesan kakak yang harus kamu pegang. Tidak kasar, tidak narkoba, tidak judi, tidak main cewek atau cowok. Selain itu plus minusnya kalian yang akan menerimanya. Tapi ga tau kriteria
kakakmu Gama.” Alma memberi ultimatum soal jodoh.
“Sama saja standartnya seperti itu. Dulu kakak salah tidak melihat ada kriteria tertentu untuk memilih pasangan, yang penting cinta, mau cewek itu boros tukang hang out, ga menghargai pasangan. Kakak sampai mikir sekarang kok bisa kakak sebodoh itu yaa” Yuval merengkuh Alma lalu mencium pipinya.
“Emang bodoh banget. Sampai papa mama bosan nasihatin kakak kalau milih pacar, cuma cantik doang yang dilihat.” Gama mendelik karena inget kelakuan kakaknya dulu. Kalau cinta bucin banget.
***TBC