Yuval sangat menjaga kandungan Alma, dalam hal ini Yuval sedikit ngotot gak mau di bantah.
Alma dilarang nyupir lagi kerjaan dibatasi gak boleh banyak keluar, segala kegiatan harus lapor dulu.
Alma risih dengan perlakuan Yuval tapi Alma tau karena Yuval gak mau terjadi apa-apa pada kandungan Alma. Jadi berusaha menerimanya walau sedikit jadi menyebalkan.
“Al kapan kontrol dokter lagi ?”
“Hari kamis ini, kamu sudah termin?”
“iya sekarang termin.” Yuval mengelus-elus kandungan Alma yang sudah menginjak lima bulan, tiap pagi dan malam Yuval yang buatin s**u.
“kamu melahirkan, Gani dan Gama gak bisa nyaksikan yaa, mereka 6-7 bulam lagi sedang kamu 4 bulan lagi melahirkan, mereka baru bisa liat ponakan setelah merangkak.”
“Mereka sangat antusias ketika dibilangin kamu hamil. Apalagi Gama sampai teriak-teriak histeris saking kesenengan.” Ungkap Yuval matanya berbinar-binar.
Sepulang dari dokter Yuval memberitahu,
“Yang, besok aku ada tugas ke luar kota, berangkat agak siangan ada yang harus dibereskan di kantor dulu.”
Alma mengangguk, “Hati-hati kamu di jalan. Berangkat sama supir ya jangan nyupir sendiri”
“Iya sama pak Yusuf nanti supirnya. Sebenarnya aku males sekali ninggalin kamu, tapi Pak Jalil yang biasa gantikan aku sedang sakit. Hanya pak Jalil yang mengerti proyek ini.
Alma menyiapkan semua kebutuhan Yuval selama 3 hari pakaian, alat-alat mandi, dan keperluan yang lainnya.
Malamnya Yuval terlihat gelisah.
“Kamu kok belum tidur, ini sudah tengah malam.” Alma keheranan melihat Yuval hanya bolak balik badan.
“Aku gak ngeerti kok susah tidur hari ini.”
Alma mendekap suaminya sambil ngusap-ngusap kepalanya akhirnya Yuval tertidur setelah merasa nyaman.
Gantian Alma yang menjadi gak bisa tidur, terpengaruh Yuval tadi. Menjelang dini hari akhirnya Alma pun bisa tidur.
Pagi-pagi seperti biasa Yuval pamit. Mencium kening alma lamaaa, “Nanti aku akan kangen disana, gimana dong ? Kalau gak hamil pasti aku paksa ikut”
“Makan siang masih di kantor atau sudah berangkat yang.”
“Sepertinya makan siang dikantor, selama aku disini gak mau tertinggal makan siang masakanmu.” Yuval mencium bibir Alma sekilas lalu masuk mobil dan berangkat ke kantor.
Alma ke dapur mulai masak. Sekarang dia sudah gak mual lagi, apalagi setelah ke dokter diberi obat anti mual jadi jarang muntah-muntah lagi. Nanti siang dia akan mengantarkan makan siang ke kantor suaminya. Sepanjang hari ini dia merasa ada perasaan yang berbeda, merasa ada akan terjadi sesuatu tapi gak tau apa, dia hanya merasa berprasangka saja.
Di kantor Yuval di telpon Diva. Yuval heran ada apa dia telpon setelah bertahun-tahun pergi.
“Ada apa kamu telpon saya ? masih kurang menghancurkan saya ?”
“Val sungguh aku minta maaf, aku ingin kamu mendengarkan aku dulu baru kamu akan mengerti kenapa aku melakukan itu. Tolonglah Val. Sekali saja beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.”
“Setelah kamu membuat aku terpuruk, keluargaku hampir bangkrut. Penjelasan apa yang bisa membuat jadi memahamimu. Sudahlah aku tidak menuntutmu juga sudah berbaik hati pada kamu. Tapi kalau kamu masih menggangguku aku memikirkan untuk menuntutmu.” Klik Yuval mematikan ponselnya dengan kesal.
Alma sudah di depan pintu ketika Yuval mematikan ponselnya.
“Kenapa kamu gak memberitahu akan ke sini, aku kan jemput di depan.” Yuval langsung tersenyum ketika yang membuka pintu istrinya. Seketika mood buruknya hilang, mood nya sempat anjlok ketika ditelpon Diva.
“Kamu tuh yaa kapan hilang lebay nya sih, aku gak enak sama karyawan, kamu memperlakukan berlebih. Barusan saja dicandai sekretarismu, Bu tumben gak dijemput di depan.’ Alma cemberut,
Yuval malah tertawa terbahak.
Alma menunggu sampai Yuval selesai makan dan bersiap untuk pergi ke luar kota. Alma mengantar Yuval sampe masuk mobil
“Hati-hati di jalan yaa.” Alma mencium bibir Yuval sekilas. “Aku tunggu kepulanganmu nanti bayinya kangen kamu kalau kelamaan.”
Yuval kembali keluar mobil lalu memeluk lagi Alma, seperti berat akan berpisah padahal ini hal yang sangat biasa.”
Setelah mobil melaju, Alma masuk mobil kembali ke café menjalankan aktivitas seperti biasa.
Jam 6 sore Yuval dan sopir istirahat di rest area untuk makan malam.
”Suf kamu ngantuk lelah ? Kalau ngantuk istirahat dulu saja sejam tiduran di mobil dulu.” Yuval ngingetin Yusuf untuk jaga stamina.
“Bapak seperti baru saja, kita kan sudah biasa pergi seperti ini. Saya sebelum berangkat sudah banyak tidur dan istirahat. Kita istirahat setengah jam saja ya pak, menghilangkan pegel kaki doang.
Yuval mengangguk.
Setelah selesai shalat magrib, mereka memulai lagi pejalanan yang tinggal 2-3 jam lagi.
Kriing… kriiiing telpon masuk di lihat telpon dari mantannya, Diva. Yuval langsung mematikan panggilan.
Tiba-tiba mobil oleng menabrak pembatas jalan … terserempet truk yang meletus bannya. Kepala Yuval membentur pintu begitupun sopir keduanya pingsan. Ga lama ambulan datang.
Ketika polisi mau mencari nomor telpon keluarganya, ponsel Yuval berbunyi, ternyata dari Diva.
“Halo Val,”
“Maaf bu, ibu keluarganya ? saya dari kepolisian,”
Diva kaget yang nerima polisi.
“Ya saya keluarganya. Ada apa yaa.”
“Suami ibu kecelakaan, saat ini di rumah sakit Budi Asih, mereka berdua masih pingsan,”
Ok saya ke sana sekarang. Kebetulan sekali dari daerah Diva hanya butuh 2 jam ke rumah sakit yang dituju. Diva bergegas ke sana langsung minta tolong sodaranya untuk mengantar ke sana.
Di rumah sakit Yuval dan sopirnya belum sadar diri. Setelah beberapa jam Yusuf sadar dia melihat sekeliling putih. Dia bangun ternyata kecelakaannya tidak terlalu parah hanya kepalanya saja rada sakit.
“Bapak sekarang sudah sadar, tapi teman bapak belum sadar,” Perawat nunjukin kasur sebelahnya.
“dia Boss saya,” Yusuf lalu mengambil ponsel disakunya. Dia menelpon temen-temen kantornya untuk menghubungi Alma, dan berikan nomor telpon yusuf pada Alma soalnya Alma gak tau nomor telpon yusuf sedangkan nomor Yuval dikunci dan belum sadar.
Malam-malam ada bell di rumah Alma. Walau takut Alma membukanya karena bell tidak berhenti.
“Bu Alma… Pak Yuval kecelakaan.” Velly sekretaris Yuval langsung membimbing Alma duduk.
“Saya dikabari pak Yusuf mobilnya menghindar ketika diserempet truk yang pecah ban, dia menabrak pembatas tidak fatal sih pak yusuf juga gak kenapa-napa. Tapi pak Yuval belum sadar.
Mudah-mudahan Pak Yuval juga baik-baik saja. Tapi kata pak yusuf bapak juga gak ada yang terluka banyak hanya goresan kaca saja.
“Kalau ibu mau kesana nanti saya nyuruh karyawan laki-laki menemani ibu. Kalau berangkat sekarang ibu sampai pagi. Kalau ibu naik pesawat jam 6 ada keberangkatan hanya 1 jam dari sini, mudah-mudahan ada seat kosong. Alma mikir ya sudah pesawat saja.
Alma menghubungi pak yusuf, minta dipindahin ke rumah sakit besar yang ada kota besar yang terdekat dari situ biar di CT scan dan diperiksa secara menyeluruh dia akan kesana besok pagi dan tidak lupa minta pak yusuf menjaganya.
2 jam kemudian Diva sampai di rumah sakit, Yusuf heran kenapa Diva ada disini. Duuh bingung, kalau ngusirpun bukan haknya dia.
Yusuf minta ambulan untuk mindahin ke kota besar dan membayar semua biaya selama disitu, karena Alma langsung mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan yusuf ngurus biaya
kepindahan Yuval.
Yuval dipindahin ke kota besar terdekat, kebetulan dekat bandara juga jadi Alma tidak terlalu lama dari bandara.
Di ambulan Diva menemani Yuval,
“Yuval kenapa kebetulan sekali kamu malah kecelakaan di dekat kotaku, aku sangat membutuhkanmu, maafkan aku Val,” Diva terisak melihat Yuval.
Setelah masuk rumah sakit di kota Jogyakarta. Yufal langsung diperiksa semuanya. Ternyata gak ada yang patah hanya kepalanya saja terbentur agak keras.
Dini hari Yuval sadar.
“Val kamu sadar.” Diva langsung memijit bel manggil perawat dan dokter jaga.
“Diva, apa yang terjadi padaku ? aku ada dimana ?”
“Kamu kecelakaan ketika menuju kota jogja.”
“Memang kamu ikut saya ya kok ada disini.”
Diva kaget Yuval gak membencinya, dan mengira dia masih karyawannya.”
Diva mengangguk tersenyum senang sekali mendapatkan Yuval hilang ingatan nya.
Menjelang subuh Yusuf masuk ke kamar Yuval.
“Bapak sudah sadar, apa bapak ada yang dirasa sakit ? nggak Suf hanya kepala saja yang terbentur sakit nih.” Yuval memegang kepalanya yang sakit.
“Istri bapak nanti kesini dengan pesawat penerbangan pertama.” Yusuf memberitahu.
*** TBC