BAB 16
“Istri ? memang saya sudah nikah ? bukankah pacar saya Diva kenapa saya sudah nikah dengan orang lain lagi ?”
Yuval melirik Diva bingung mendapatin kenyataannya dia sudah menikah dengan orang lain bukan Diva.
“Istri bapak sedang hamil 5 bulanan pak.” Yusuf juga bingng mendapatkan Yuval gak ingat sudah nikah.
Pak Yusuf pamit untuk shalat subuh dulu.
“Benarkah aku sudah menikah ? dengan siapa ?” Trus kamu gimana? Aku ga ingat sama sekali.”
“Iya kamu sudah menikah, dijebak perempuan itu. Kamu meninggalkan aku selagi aku hamil.
Anak kita sudah 3,5 tahun Val, kamu belum pernah melihatnya.
“Kok aku sejahat itu ke kamu yaa.. maafkan aku Diva. Perempuan itu jahat sekali memisahkan aku dengan kamu.”
Yusuf menunggu Alma di Bandara.
“Bu saya disini, “ Yusuf mendekat ke Alma.
“Gimana bapak ?"
"Beliau baik-baik saja hanya saja….. “ Yusuf bingung mengatakannya.
“Ada apa pak?” Alma penasaran.
“Sepertinya bapak hilang ingatan tentang ibu. Dan disana ada Diva yang menemani bapak.
“Ya sudah apapun yang terjadi kita kesana.” Yusuf mengantar alma naik taxi ke rumah sakit.
Ketika depan pintu rumah sakit terdengar Yuval sedang ngobrol dengan seseorang sambil ketawa-ketawa.
Ceklek pintu dibuka, Alma masuk.
“Val kamu gak kenapa-napa ?”
“Siapa kamu ? Ngapain kamu kesini.” Yuval ketus sekali menjawab.
“Ini Bu Alma istri bapak.” Yusuf menerangkan karena Yusuf tau persis masalah Yuval dengan Diva, kalau kayak gini bisa jadi bencana lagi buat Yuval.
“Istri ? Istri yang menjebak seorang laki-laki yang sudah punya pacar.” Yuval menggenggam tangan Diva. Aku akan menikah dengan nya dan menceraikan kamu.”
“Terserah kamu mau menceraikan aku, kenyataannya aku istri sah kamu, aku yang akan ngurus kamu. Sebentar lagi kamu akan pindah ke Jakarta.” Suara Alma bergetar menatap Diva yang menundukkan kepalanya.
“Aku gak mau kamu yang ngurus, biar Diva yang ngurus aku.” Yuval ngotot.
“Terserah saat ini yang terpenting kesehatan kamu ingatan kamu kembali, biar kamu tau betapa kamu sangat membenci perempuan ini yang telah menghancurkan hidupmu.”
“Kamu jangan seenaknya ngomong.” Yuval sewot dan mgerang kesakitan ketika menahan emosi.
“Yuval buat aku besok cerai juga gak masalah tapi yang saya inginkan kepulihan ingatanmu. Saya sudah terbiasa kehilangan. Tapi kamu akan menyesalinya seumur hidup kamu ketika ingatan kamu kembali. Ingat Yuval saya bukan cewek yang ngemis-ngemis harta kamu yang ada sekolah adikmu di Paris aku yang bayarin belum diganti kamu. Selama aku nikah dengan kamu sepeserpun aku belum pernah makan uang kamu. Jadi jangan berfikir aku menikahimu karena uangmu. Apalagi harus membuat kamu bangkrut” Alma menyindir Diva yang duduk sebelah Yuval.
Alma enarik nafas lama.
“Kamu tidak malu datang menemui suamiku setelah membuat dia hampir kehilangan segalanya.”
“Sudah, kamu jangan ikut campur urusanku Alma.” Yuval marah, Diva akan tetep disini bersamaku.
Alma keluar diikuti Yusuf. Alma menangis dipelukan Yusuf.
“Kita berdoa saja semoga Pak Yuval cepet mengingat semua sebelum hal buruk terjadi.”
Tak lama kemudian Diva mendekati Alma minta berbicara berdua,
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada dan sangat penting.” Diva menghiba.
Akhirnya Alma menerimanya, mereka duduk di kursi yang tidak jauh dari situ.
“Aku tau sangat kurang ajar saat ini datang pada Yuval.” Diva memulai pembicaraan.
“Saat itu memang saya jahat sekali tapi itu karena ada sebab juga.“
“Pertama saya sangat butuh biaya besar karena ibuku sakit kanker. Kedua saya diperas mantan saya akan menyebarkan video porno saya sama dia. Tidak ada jalan lain selain ngambil uaang perusahaan sedikit-sedikit saya manipulasi pembukuannya. Tetapi lama-lama tidak dapat ditutupi lagi.
Terakhir saya transfer dalam jumlah besar lalau saya kabur, dan saya kembali pada pacar saya hanya untuk mengambil video porno tersebut setelah berhasil menghapus di file-file yang dia simpan sayapun kabur meninggalkannya. Dan perlu diketahui ternyata ketika saya meninggalkan Yuval, saya sedang hamil anaknya. Sekarang dia sangat memerlukan bantuan ayahnya, karena sedang kritis. Dia kanker darah.” Diva sesenggukan.
Alma terdiam.
“Saya tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini, beberapa hari ini saya menghubungi Yuval sama sekali nggak mau mendengar penjelasan saya. Dan ketika telpon terakhir diterima polisi, dan memberi tau posisi Yufal, akhirnya saya datang kebetulan diam di Kebumem, ibu dan bapak saya sudah tidak ada.” Diva menangis terisak-isak.
“Saat ini bawa Yuval ke Jakarta. Bawa juga anaknya ke Jakarta bagaimanapun anak itu tanggung jawab Yuval. Tapi kamu jangan sampai membuat perusahaan krisis kembali. Kasihan dia. Kalau kamu memeras Yuval lagi kamu berhadapan denganku, aku akan mengontrol keuangan dia di kantor. Urus kepindahan anakmu. Aku akan mengurus kepindahan Yuval. Kalau Yuval
membantah kamu harus mendukungku.”
Kamu jangan dulu menceritakan soal anak ke Yuval sebelum dia betul-betul sehat, terserah buat aku seumur hidup lupa dan harus pisah dengannya. Untuk saat ini tanggung jawabku Yuval sehat dulu.
Diva mengangguk.
Beberapa hari setelah Yuval sehat mereka pindah ke Jakarta, Diva tinggal dengan Yuval. Alma di café sekali kali melihat perkembangan Yuval.
Dia sama sekali gak pernah nyapa Alma, Yuval keukeuh mau menceraikan Alma.
“Alma, aku gak mencintai kamu, seharusnya kita pisah saja.”
“Sekarang kan kita sudah pisah.”
“Aku ingin cerai dan secepatnya menikahi Diva.”
“Val nanti setelah kamu pulih ingatan apapun pilihan kamu aku akan nerima dengan lapang d**a. Ingat penyesalan itu ada diakhir Val.”
“Aku yakin pernikahan kita mungkin dipaksakan kenapa aku hanya ingat Diva bukan kamu.”
“ Aku mau perceraian kita setelah anak ini lahir. Ayo kita bercerai.”
“Sekarang jalani saja hidup seperti ini. Kamu tetap sama Diva, Aku di tempatku yaa.” Alma gak bisa marah karena ini bukan Yuval yang sebenarnya dan tidak bisa memaksa.
“Aku akan menceraikanmu secepatnya, aku gak mau Diva hamil duluan.”
“Val aku memohon beri aku waktu sampai melahirkan saja, apa kamu tega aku melahirkan sendirian, Yuval.” Alma terisak.
“Maafkan aku Alma, aku tidak bisa menundanya. Besok aku akan memasukkan berkasnya.”
Yuval bergeming. Sedikitpun gak punya kasihan pada Alma.
“Ya bagaimanapun keputusan ada ditanganmu. Aku tidak bisa terus-terusan menahanmu untuk membuat keputusan setelah ingatanmu kembali. Hanya menunggu sampai aku melahirkan anakmu saja kamu tetep nggak mau."
Alma sudah kehabisan akal.
“Ada yang mau aku perlihatkan padamu, pernikahan kita bukan paksaan.” Alma mengirimkan video ketika Yuval melamarnya di mercure dan pernikahanya di mesjid serta bulan madu di bangkok. Semua foto-foto yang mereka sedang mesra, dikirimkan.
"Bisakah kamu bersikap seperti itu kalau kamu terpaksa ?"
Yuval kaget, dia terlihat sangat bahagia bersama adiknya ketika acara tunangan dan pernikahannya. Tidak sedikitpun terlihat ada paksaan. Apalagi liat ketika bulan madu begitu mesra.
“Jadi pernikahan kita sangat bahagia, kamu selalu menjagaku dengan sangat baik, adiku dan adikmu barengan kuliah mereka yang menjodohkan kita ketika kamu 3 tahunan ditinggal Diva.
Aku pun baru putus dengan pacarku dan kamu menyaksikan ketika aku putus dari pacar. Ketika kamu tanpa sengaja, mendengar pacarku minta maaf.”
“Aku sama sekali tidak mengingatmu Alma, yang ada saat ini saya sangat mencintai Diva.”
“Makanya kamu ambilah keputusan setelah kamu mengingat semuanya, aku akan sabar menunggu sampai kamu mengingatnya. Karena ini kecelakaan aku tidak bisa marah padamu. Aku hanya ingin kamu ingat kita baru mengambil keputusan.” Alma terisak menahan rasa.
“Apa video dan foto itu terlihat kamu dijenbak atau terpaksa menikahiku. Tolong tunggu satu bulan saja aku akan membuktikan siapa Diva mu itu. Hanya satu bulan kalau gitu ya Yuval” Alma sudah bingung gak ada cara lagi saat ini sedang ngumpulin bukti kecurangan Diva.
“Tapi Diva tidak bisa menunggu lebih lama untuk menikah denganku. Dan kamu jangan sekali-kali menjelekan dia didepanku.”
“Buat aku cerai sekarang atau nanti tidak masalah karena penyesalan akan ada di pihak kamu Yuval," Alma menarik nafas panjang.
“Saya khawatir ketika kamu ingat semuanya, kamu sudah tidak bisa memiliki aku lagi.”
“Ga apa-apa aku kan sudah menikah dengan Diva. Aku sangat mencintainya.” Yuval tak tergerak sama sekali oleh penjelasan Alma.
Alma akhirnya menyerah.
“Aku baru tahu ternyata kamu sekeras kepala ini. Sungguh ketika denganku kamu selalu berusaha mengerti diriku selalu berusaha memahami mauku, berusaha menyenangkanku.” Alma sesaat menahan tangis.
“Semoga kamu tidak menyesal. Kalau keputusannya bercerai aku berdoa semoga ingatanmu gak akan kembali karena kamu akan menderita sekali,”
Alma berdiri, sebelum berlalu, “Aku tunggu surat cerainya. Ingat sekali lagi aku sudah menahannya untuk perceraian ini. Aku berpesan jangan kamu kasih tau adikmu sampai mereka pulang supaya studinya tidak terganggu.”
Alma pergi meninggalkan Yuval yang sedang gamang. Dia mulai meragu, tetapi cintanya pada Diva sungguh sangat besar, Yuval kembali pada saat sedang mencintai Diva, tidak mendengarkan siapapun yang mengingatkan Yuval.
Akhirnya Diva menikah dengan Yuval, sebelum sidang perceraian di pengadilan gak sampai sebulan berkas masuk dan Yuval minta surat pernyataan Alma membolehkan Yuval menikah.
Alma nyerah.
“Vell, sudahlah ibu sudah gak bisa lagi nerusin mempertahankan perkawinan ini, ibu lelah.”
“Ibu boleh nyerah tapi aku tidak akan bu, aku akan berusaha membuka mata pak Yuval.”
“Itu urusanmulah Vel, aku nyerah,” Alma terisak menahan tangis.
Velly memeluk Alma.
Beberapa hari setelah menikah Diva menelpon Alma,
“Alma…. “ Diva terisak
“Anaku Al…. gak bisa tertolong lagi.”
***Bersambung