BAB 11
Jessy disuruh Alma mampir ke café setelah jam kantor, ada yang mau diobrolkan.
“APPAAAA…” Jessy teriak histeris ketika Alma mengatakan dia sudah tunangan dan bulan depan akan menikah.
“Ditunda atau lama hanya menunggu siap juga buktinya tetep saja gue ga jadi.” Jelas Alma.
“Iya tapi gakk segitunya lagi Alma, Jantung gw hampir copot tau.” Jessy menyeruput Fruit Funch pesanan matuhnya.
“Lu beneran siap nikah,” Jessy menyelidiki.
“Looh kan harusnya gue sudah nikah sama Jea, kalau mikirin siap ya kapan siapnya. gue lakonin saja hidup.”
“Iya sih bagus gitu kayaknya, terlalu banyak pertimbangan juga akhirnya gak jadi.
“Lu ngabarin Jea juga?” Jessy khawatir setelah Alma menceritakan kondisi Jea.
“Iya di kabarin jugalah, keluarga mereka juga diundang. Bagaimanapun mereka pernah deket. Mereka sayang banget sama gur.”
Alma menerawang mengingat dulu gimana dekatnya mereka.
***
Gama dan Gani sudah sibuk ngurus segala keperluannya, selalu diskusi dengan WO yang disewa.
“Kak nanti fitting pakaian di butik kak Salsa, mau sama kak Yuval atau kita ?” Gani melirik Gama
“Sama kalian saja, biarin kak Yuval fokus kerja saja.” Alma minta mereka jangan ganggu Yuval, dan Gama mengangguk.
Alma pun tetep mendatangi keluarga Jearau,
Ting tong…
“Kak Alma kok gak ngabarin mau kesini.” Casey senang sekali Alma datang.
“Mama ada sayang ?”
“Maaaa…. Ada kak Alma.” Casey teriak sambil menarik Alma duduk.
“Ada angin apa membawamu kesini,” Sella mamanya Jearau memeluk Alma.
“Dimana Jea, Ma,”
“Dia lagi mesantren di Jawa, mau menenangkan diri dulu.” Sella seneng Jea mulai pulih dan semangat lagi apalagi sekarang mau belajar agama.
“Ma… Casey… aku bulan depan akan menikah.” Alma bicara pelan saking ga enaknya.
“Kak beneran, secepat itu.” Casey kaget dan gak percaya.
“Tadinya juga Al ragu Ma, tapi difikir lagi mau cepat atau lambat tidak ada jaminan akan langgeng. Acaranya pun hanya akad saja gak dirayakan. Mama dan Casey datang yaa kalian tetep keluargaku.” Alma berharap mereka datang.
“Tentu saja kami akan datang. Kamu juga sudah dianggap anak sama mama.” Sella ikut senang, walau terbersit rasa khawatir pada Jea.
“Yang ngabarin Jea, mau mama atau aku ?” Alma bingung, memberi pilihan itu pada keluarganya Jea.
“Biar mama saja yang ngabarin.”
Setelah ngobrol basa-basi, Alma pun pamit.
“Makasih Alma kamu masih menganggap kami keluarga,” Sella memeluk Alma sebelum Alma pergi.
“Tentu saja mama, Alma disini sebatang kara, pasti ada sesuatupun Alma minta tolong sama keluarga mama, sampaikan salam buat papa dan Jea.” Alma pun memasuki mobil.
= = = = =
Fix semuanya sudah beres, ftting baju, daftar ke KUA, ijin ke mesjid, masakan, dekorasi tempat dan MuA. Semuanya sudah detail check and re check.
“Kak Al kelihatan khawatir, jangan difikirkan semua sudah beres.” Gani menenangkan untuk mengurangi kegelisahan kakaknya.
“Kakak takut terjadi sesuatu sebelum acara seperti kakak dengan kak Jea,” Alma tidak menutupi kecemasan nya.
“Wajar kakak trauma, tapi apapun kembalikan pada Allah, Apapun yang terjadi, terjadilah.
Semoga besok acaranya lancar, semua sudah di urus dengan teliti, kalau sampai terjadi sesuatu itu bener-bener kehendak Allah, jangan sampai mengganggu fikiran kakak.” Gani memeluk kakaknya dengan erat.
Yuval pun gak kalah senewen menghadapinya, dia uring-uringan dan terus-terusan nanyain Gama segala sesuatunya,
“Gama, gimana acara nya besok ?” Yuval bolak balik bertanya.
“Kakak relax saja ga usah senewen gitu. Kan sudah ada WO yang nanganin. Duduk nikmati hidup saja. Samapai dari tadi mondar mandir terus, yang liatnya ikut pusing.” Gama gemes lihat kakaknya yang ga bisa diam.
“Ini kan baru pertama kali buat kakak.”
“Yaelaaah bukan buat kakak saja semua orang pastinya ngalami pertama kali.” Gama geli melihatnya.
“Sana minum obat tidur saja biar besok fresh. Sekali-kali boleh kali minum obat yang ngandung obat tidur biar kakak tenang.”
= = = = =
Pagi-pagi semua sudah siap pengantin cowok di depan penghulu, pengantin cewek di sebelahnya, semua sudah komplit. Tamu semua sudah datang. Gama di sebelah Alma sedangkan Gani sebagai wali kakaknya.
Keluarga Jea juga datang kecuali Jea, mereka sangat menyayangi Alma. Mama dan papa nya Jea yang mendampingi Alma masuk ke mesjid.
Yang tau sih melihatnya sedih seperti Jessy dan Gani, ikut merasakan kesedihan mereka, seharusnya Alma sudah menjadi menantu mereka.
Setelah ijab kabul penghulu, “SAAAAH hadirin??”
Dijawab semua tamu, “SAAAAHHH”
Yuval dan Alma yang tadi sangat kelihatan tegang akhirnya mencair, mereka terlihat sangat bahagia.
Setelah semuanya memberi ucapan selamat.
Mereka kembali ke café untuk acara makan-makan.
“Terima kasih sayang, kita bersyukur gak ada kendala yang berarti, semuanya dipermudah.”
Yuval menggengam tangan Alma berjalan menuju mesjid yang hanya 50 meter dari Café.
“Iya Val, lancar, padahal dari malam aku nervous banget.”Alma tersenyum.
“Iya aku pun diomelin Gama terus karena gelisah.”
“Jodoh kita semudah ini yaa, dari ketemu ke nikah hanya beberapa bulan, yang pacaran lama malah gak jadi.”
Alma mengangguk karena dia pun merasakannya pacaran dengan Jea dengan segala rencana yang matang malah berantakan. Orangtua Jea malah telah memberikan hadiah rumah yang ditempati Jea yang saat itu kepergok selingkuh.
Di café terlihat sibuk, tamu menikmati hidangan yang sederhana tapi berkelas, karena pengantin lulusan jurusan F&B service di akademi yang terkenal.
Betapa pengantin cowok sangat bahagia mendapatkan istri yang sangat mahir memasak dan bikin penganan. Dari awal dia sudah menyukai masakan istrinya dan yang paling penting juga dia tidak menuntut sama suaminya.
Selama pacaran tidak sekalipun Alma minta uang. Karena selain dia penghasilan besar, peninggalan orangtua dari asuransi yang orang tuanya tinggalkan belum lagi dari asuransi maskapai dan kost-kostan.
Betapa beruntung Yuval ketika Alma putus, wajar saja Jea merasa bersalah begitu besar, karena Alma calon istri paket komplit.
“Makasih sayang aku adalah laki-laki yang sangat beruntung mendapatkamu.” Yuval berulang kali bilang terima kasih setiap kesempatan.
“Sudah kakang Prabu… mau sampai berapa ratus kamu ngucapkan terima kasih, akupun beruntung mendapatkan kamu yang gak rewel sama sekali mempercayaiku sepenuh hati. Aku merasakan cinta yang besar darimu itu sudah cukup buatku." Setelah acara selesai. Tamu sudah pulang.
Kring…. Kring…. Kring….
Ponsel Alma berbunyi,
Dilihat ternyata dari Jea, Alma melirik Yuval mengangguk.
“Hallo apa kabar.” Alma membuka pembicaraan dengan suara ramah.
“Baik Al, Selamat yaa semoga kalian bahagia.” Suara Jea sedikit bergetar,
“Terima kasih. Kamu baik-baik kan disana.”
“Semakin baik, terima kasih Al, kamu masih peduli sama aku. Oke aku telpon hanya mau bilang selamat, sudah dulu yaa.” Jea gak bisa terlalu lama berbicara dengan Alma masih ada rasa sakit didada.
Gama dan Gani mendatangi Alma dan Yuval yang sedang duduk di sofa rumah, menyodorkan amplop hadiah perkawinan untuk mereka.
Tenyata menginap empat hari di hotel mewah di Marriott Hotel the Surawongse, Bangkok serta ticket pulang pergi pesawat. Gama dan Gani pun tanpa sepengetahuan mereka telah menyiapkan baju buat mereka di koper dan sudah disimpan di mobil.
“Cepat kalian ganti baju dan pergi sekarang. Semua keperluanmu selama 4 hari sudah ada di koper di mobil. Aku dan Gama akan antar ke bandara.” Gani bersemangat.
Yuval dan Alma sesaat bengong mendapatkan paket honeymoon dari adik mereka.
Mereka memeluk adik-adiknya bergantian, betapa mereka begitu perhatian sama kakak nya.
“Kalian punya uang dari mana.” Alma menggernyit karena lihat nama hotelnya yang mahal.
“Kami berdua ngumpulin dari beberapa bulan lalu. Semoga kakak menyukainya.”
“Makasih yaa, kalian adik-adikku yang terbaik.” Yuval tidak pernah merasa sebangga ini kepada adiknya.
Mereka pun ke bandara.
“Gama selama gak ada kakak kamu diam di café yaa, tidur di kamar kakak.” Alma khawatir kalau di rumah Gama hanya sendirian pembantu gak tiap hari datang.
“Sippp kak Alma, jangan memikirkan kita disana, kita pasti aman-aman saja.”
Yuval dan Alma check in kemudian Boarding dan akhirnya pesawat take off menuju ke Bangkok.
Gani dan Gama berpelukan, merasa beban beberapa minggu ini ikut terbang ke angkasa.
Mereka ikut merasakan kebahagian kakak mereka.
*** TBC