BAB 8

2230 Kata
BAB 8 Alma pun mengajak Gama ikut, “nanti kita tanyain kak Yuval kira-kira dia bisa ikut apa nggak.” “Pasti bisa laah kak, ga bisa juga pasti sengajain dibisa-bisain.” Ujar Gama tertawa. “Oke kita tanyain kalau kesini. Apa sekalian kita nginap saja di Bandung?” “Café gimana ditinggal ?” Gama khawatir. “Nanti ada yang double shift beberapa orang. Kalau rame nggak keteter, kita harus bisa melepas secara mandiri sebenarnya, Cuma karena kakak nggak ada kegiatan jadi ikut ngelola, sebenenya itu tidak bagus untuk usaha. Akan sulit berkembang. Masih self employee, seharusnya kakak berani melepas , nanti deh kalau Gama tertarik kita buka cabang lagi yang dipegang kamu, yang ini dipegang Gani.” Ujar Alma. “Ahhh kak Alma aku jadi bersemangat nih untuk usaha sendiri kalau gini.” Gama merasa ada yang mengarahkan hidupnya saat ini. “Nanti kalau kak Yuval datang kita bicarakan yaa. Skarang kamu bagian administrasi dulu saja beberapa bulan membantu kak Sasy.” Gama mempelajari segala sesuatu dengan serius dan detail, sebenernya dia cukup cerdas, hanya tidak ada yang mengarahkan saja, kakaknya sendiri cukup sibuk karena membenahi perusahaannya yang pernah hampir bangkrut. Selain ditinggal orangtua dan di korupsi sama mantan pacarnya. Menjelang malam kakaknya datang ke café, “Kak Yuval masuk saja ke rumah, mereka semua ada di sana,” Pelayan memberitahunya. Yuval mengangguk, langsung masuk ke rumah di belakang cafe “Mau minum apa Val,” Alma menawarkan minum. “Ingin yang yang tempo hari tengah malam itu. Enak seger.” “Ooh wedang uwuh, tunggu yaa. Ga sekalian makan atau pastry saja?” Alma menawari pilihan. “Pastry saja juga mengenyangkan” Alma memanggil pelayannya lewat interkom disebutkannya pesanannya. “Siappp tunggu sebentar.” Pelayan disana menjawab. “Harusnya kamu mencoba dulu macam-macam menu baru kamu tahu mana rasa yg paling disukai baru merasakan, itu terus saja itu jadi tidak tau yang enak sebenarnya yang mana.” “Santai saja kan banyak waktu.” Yuval jawab dengan santai. “Sabtu ini saya mau ke Bandung. Mau lihat disana ada café yang menyajikan sarapan sangat ramai, sekiranya bisa diterapkan disini tiggal memanag karyawan bagi shift. Saya tertarik untuk itu.” Alma menceritakan keinginan nya. “Kalau kamu bisa meninggalkan café ayo saja kita berangkat,” Yuval enggak keberatan. “Tuh kan kak, pasti bisa kan kak Yuval.” Gama tersenyum. “Kak kalau sudah mempelajari lama, aku mau kolaborasi dengan kak Alma buka café lagi, gimana ka Val setuju?” Gama antusias ingin mandiri. “Kamu harus belajar banyak dulu disini, mungkin 1-2 tahun kedepan baru boleh buka.” Yuval enggak keberatan malah seneng kalau adiknya punya keinginan. Gani dan Gama kembali ke depan, Yuval menarik Alma untuk duduk sebelahan, Alma masih grogi untuk memulai dekat dengan bersentuhan layaknya yang pacaran. Yuval lebih santai menghadapinya. “Al makasih yaa, kamu mau menerimaku. Gama dapat perhatian, aku terurus makan nya sungguh kamu membuat hidupku sungguh nyaman.” Yuval merengkuh Alma dengan bangganya. = = = = = Sabtu pagi pukul lima Yuval dan Gama sudah menuju kediaman Alma, mereka pun sudah menunggu, ketika datang tidak harus menunggu lama, mereka langsung meluncur ke arah tol Bandung. Sekalian refresing kulineran di bandung. Alma cukup hapal daerah Bnadung selain SD dan SLTP diem di Bandung karena orangtuanya dinas di Bandung, ketika orangtuanya masih ada sering ke Bandung, karena memang punya rumah di Bandung yang di kostkan, hanya 2 kamar yang disisakan buat dia dan adiknya kalau ke Bandung, rumahnya ada yang ngelola suami istri untuk melayani anak kost. Sampai di café tersebut Mereka turun dan memang takjub dengan menu dan pelayanannya, Gani sangat tertarik dengan konsep ini, masakan nya walau untuk sarapan tapi menunya cukup beragam dari bubur kacang hijau sampai menu berat ada. “Aku kalau punya istri pinter masak gini bisa-bisa perutku buncit nih.” Yuval memperagakan perut yang buncit. “Makanya Gani juga jadi rajin gym, karena masakan kak Alma enak kalau makan jadi banyak, kalau enggak gym dah melar kayak apa.” Gani ngaminin omongannya Yuval. “Tapi aneh kak Alma kok tetep ramping yaa.” Gama heran. “Untungnya nih kakak kalau masak cukup nyicip enggak suka makannya, suka enek duluan sama aroma asapnya, jadi untuk makan malah tetep minta tolong juru masak di café.” Mereka memperhatikan dengan detail segala yang dimasak dan konsep pelayanannya. Seharian penuh mereka keliling-keliling kota Bandung menjajal semua jajanan. “Siapa yang enggak betah di Bandung yaa, makanan dan cuacanya mendukung gini untuk menikmati malam.” “Dulu ketika papa pindah ke Jakarta aku mogok sekolah 1 bulan saking enggak ingin pindah.” Alma mengenang masa di Bandung. Setelah cape mereka nginap di rumah Alma, Yuval tidur dengan Gani. Alma tidur dengan Gama. Yuval makin suka pada Alma, dia tidak nuntut tidur di hotel, padahal dia cukup mampu, atau bisa saja di bayarin Yuval, merasa makin mantap saja untuk ke jenjang yang lebih serius, Yuval sudah memikirkan untuk tunangan. Yuval membahasnya dengan Gani. “Gan, gimana kalau kakak melamar kak Alma. Kira-kira tidak terlalu cepat kalau minta tunangan dulu.” Yuval minta saran Gani yang mengerti sifat kakaknya. “Nanti deh aku pancing dulu kak Alma nya kalau dia memberi lampu hijau ga keberatan baru kita adakan lamaran surprise.” = = = Jea makin terpuruk ketika putus dengan Alma apalagi melihat Alma sudah jalan dengan laki-laki lain, rasa bersalahnya makin mendera, sampai meninggalkan kerjaan, orangtuanya pusing menghadapi kelakuan anaknya. “Kak Jea, sudahlah lupakan kak Alma, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Kakak harus bisa menerimanya dengan ikhlas.” Casey merasa sedih melihat kondisi kakaknya yang semakin terpuruk. “Kakak tidak menerima kesalahan kakak bukan karena kakak putus dengan kak Alma. Kakak merasa kecewa ke diri kakak sendiri, rasanya tidak menerima keadaan ini, kenapa kakak sampai harus melakukan hal terkutuk lagi. Kakak sangat menyesalinya.” Jea duduk di sandaran ranjangnya menatap kosong ke depan. “Kakak kecewa pada diri kakak, bisa-bisanya kakak melakukan itu dengan cewek semurahan dia.” Jea tetep sulit menerima harus putus gara-gara Aura yang ga ada artinya sama sekali. “Tapi kakak enggak bisa begini terus, enggak akan mengubah apapun. Kakak coba bangkit bangun jadilah orang yang lebih baik. Yang membanggakan keluarga.” Casey ga akan menyerah untuk menyadarkan kakaknya. “Sekarang kakak mau gimana lagi kalau begini terus apa yang di dapat kakak, Casey sedih melihat kakak seperti ini. Setidaknya kakak bisa memperlihatkan ke kak Alma suatu saat kakak bisa jadi orang lebih baik, siapa tau kakak masih berjodoh dengan kak Alma, kita tidak tahu kedepannya. Ayolah kakak.” “Harus bagaimana kakak menjadi orang lebih baik ? apa bisa menghapus kelakuan kakak yang dulu ?” Jearau tetep menutup mata dan hatinya saking kecewanya pada diri sendiri, selama ini dia ketemu cewek yang ga bener, materialistik bisanya mencari kesenangan, ketika ketemu Alma yang pekerja keras sederhana yang mandiri tegar menghadapi cobaan, malah dia sia-siakan. Alma sangat mampu untuk berfoya-foya tapi dia tidak melakukan itu. Apa dia akan mendapatkan cewek seperti Alma lagi ? Casey akhirnya nyerah, dia mendatangi Alma. “Kak Alma.” Casey memanggil Alma, ketika Alma baru saja menutup pintu keluar dari ruang kerjanya. “Casey… ada apa kesini, kejutan sekali.” Alma merangkul Casey mencium pipi kiri kanan. “Kakak kangen sama kamu, sudah lama ya kita gak ngobrol. Walaupun kakak putus dengan ka Jea, tetep mainlah kesini. Casey langsung memeluk Alma, tangisannya meledak. Alma menuntun mantan calon adik iparnya itu, kebetulan Gama lewat. “Gama tolong bawakan minum yaa, air putih dan juice strawberry,” Alma tersenyum mengingat minuman kesenangannya Casey. “Oke kak.” Gama langsung beranjak menuju dapur café minta dibuatkan juice pada pelayan. “Gama bertanya-tanya, siapa gerangan cewek itu, kenapa menangis begitu sedihnya seperti itu. “Kak Alma tolong tengok kak Jea, tolong ingatkan dia sadarkan dia kak, Dia sekarang terpuruk sekali dia enggak mau kerja dia terus meratapi kesalahannya, terus-terusan menyesali diri. Keluarga sudah bingung menghadapinya, coba kakak liat. Casey bener-bener minta tolong kak, maafkan ka Jea.” “Kakak sudah maafkan kakakmu kok Casey, tapi untuk kembali kakak enggak bisa. Kakak sudah menerima pria lain, kakak enggak mau nyakitin dia. Begini saja besok kalau sempat kakak datang nengok kakakmu yaa.” Gama ada di balik pintu khawatir sekali mendengar percakapan mereka, apa mereka akan balik lagi. “Ini minumnya silahkan diminum.” Gama langsung balik ke café tapi fikirannya terus ke cewek yang menemui Alma, siapakah dia, Gama jadi gelisah. “Makasih ya kak Alma, aku yakin kakak mau bantu Jea untuk bangkit.” Casey memeluk Alma dengan erat. Casey pamit, Alma ikut mengantarkan ke depan, didepan ada Yuval sedang berjalan masuk café, Yuval ingat cewek yang bersama Alma adalah adiknya Jea, tapi Yuval berusaha tenang menyapa casey. “Haii, ketemu lagi kita yaa,” Yuval menyapa duluan. Casey mengangguk lalu pamit pada keduanya. “Ada apa dia kesini seperti habis nangis.” Yuval penasaran enggak sabar untuk bertanya. “Val besok aku akan menemui Jea, Ternyata dia sampai keluar kerja enggak mau ngerjain apa-apa menyesali dirinya sendiri terus menerus. Barusan adiknya minta tolong untuk menyadarkan kakaknya.” “Aku temenin ke rumahnya yaa,” Yuval khawatir terjadi sesuatu pada hubungannya. “Ga usah aku sendiri saja, enggak enak kalau kamu ikut.” Yuval mengangguk gak mau maksa keinginannya pada Alma, Yuval berusaha percaya pada Alma. Dan ingin membuat kekasihnya nyaman, karena kecemburuannya nanti malah merusak s6asana. “Kamu jangan khawatir yaa, aku kan sudah jadi pacar kamu, enggak mungkin lah kembali sama dia. “Aku percaya kok sama kamu walau ada sedikit khawatir, aku berusaha yakin kamu enggak akan tergoda lagi. Alma mengajak Yuval masuk ke dalam, sambil menunggu Gama selesai, Yuval biasanya rebahan di sofa rumah Alma, disediakan camilan dan minuman yang menyegarkan. Kurang nikmat apa coba hidup, adiknya terawasi, jadi lebih dewasa, mendapat makanan yang terjamin, dia juga ikut terjamin makannya. Mau cari cewek manalagi perbandingannya akan sulit di dapat. Yuval bersumpah enggak akan menyia-nyiakan Alma. Dia semakin menggebu ingin secepatnya tunangan kalau bisa menikah. Setelah istirahat cukup lama, Gama nyamperin Yuval. “Ayo pulang kak. Aku sudah beres.” “Hayu…, Al kita pamit yaa…pulang dulu.” “Oke hati-hati dijalan yaa,” Alma nganterin sampai depan Yuval meraih pinggang Alma lalu mencium pipi kiri Alma, dan berbisik, Aku makin cinta sama kamu.” Alma malah memukul lengan Yuval sambil tertawa, “Gombal ihh.” Di mobil Gama menceritakan perihal Casey yang menangis dipelukan Alma. “Aku khawatir kak, kalau pacarnya hanya alasan saja untuk dikasihani kak Alma.” “Kita harus percaya sama kak Alma, jangan membuat dia jadi serba salah.” “Jadi kakak ijinkan kak Alma menemui kak Jea.” Yuval mengangguk. “Kakak harus memberi kepercayaan pada kak Alma.” = = = = = Jam sembilan pagi Alma meluncur ke rumah orangtuanya Jea, Ting tong… Ibunya Jea membuka pintu melihat Alma langsung memeluk dan menangis, “Terima kasih nak, mama yakin kamu mau membantu Jea.” Alma mengangguk.memberikan kotak kue dan makanan pada Sella, ibunya Jea, lalu berjalan ke kamarnya Jea. “Jea… kamu sudah bangun,” Alma membuka pintu kamar Jea, dia tercekat melihat kondisi Jea yang sangat memprihatinkan. “Jea kenapa kamu begini ?” Alma menangis, lalu mereka berpelukan. “Jea, kita anggap saja bukan jodoh. Tuhan memisahkan kita dengan cara itu. Aku tidak suka melihat kamu seperti ini Jea. Kamu harus bangkit. Kalau seperti ini aku malah ingin marah. Siapa tau kita nanti jodoh di alam lain. Aku sudah memaafkanmu Jea, kamu harus berdamai dengan kesalahan dirimu, kamu jangan ngulang itu lagi.” Alma bangkit nuntun Jea bangun. “Ayo kamu mandi dulu, kamu bersihkan brewokmu, seperti ini kamu hilang gantengnya tau. Kita makan lalu kita ke barber shop. Aku tunggu diruang makan yaa.” Jea mengangguk. Alma keluar menuju ruang keluarga, mereka sangat berharap setelah Alma datang ada perubahan pada diri Jea. Saat Jea keluar sudah rapi tapi makin kurus, Alma merasa sedih melihatnya. “Ayo kita makan dulu, nih aku bawakan makanan kesukaanmu.” Alma membuka box yang tadi di bawanya. Jea makan dengan lahap, semua melihat dengan takjub. Selesai makan Alma mengajak Jea ke salon sambil terus ngajak ngobrol Jea untuk bangkit dari keterpurukannya. “Aku terus akan memantau kamu, aku tidak mau kamu seperti ini, aku malah jadi benci kalau kamu seperti ini Jea, sekarang kita bersahabat ya, kamu ada apapun datang padaku yaa aku akan menerima mu mendengar keluhanmu.” “Aku minta maaf ya Al.” Jea menatap nanar. “Sekali lagi kamu minta maaf aku pukul looh.” Mereka tertawa. Alma senang melihat Jea bisa tertawa. Di salon Jea di potong rambutnya yang sudah enggak karuan. “Tuh kalau rapih gini kan kamu jadi ganteng lagi.” Alma terus memuji. Setelah kembali ke rumah, Alma tidak langsung pulang. Tetep ngajak ngobrol sampai sore. “Kalau kamu merasa bersalah terus coba deh kamu datangin ulama atau ustadz siapa tau kamu punya ketenangan bathin disana, punya solusi atau apapun yang bisa membuat kamu lebih tenang. Keluarganya setuju pada pemikiran Alma. Menjelang sore Alma pamit dan wanti-wanti tidak mau liat Jea seperti itu lagi. Keluarganya mengantar sampai depan dan mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Alma datang. Jea minta maaf pada keluarganya selama ini telah sangat merepotkan mereka, dan berjanji akan bangkit kembali, tapi Jea minta keluarganya mencari seorang ulama yang bisa membimbing dia. Alma pun tetap datang dan main ke Jea walaupun Jea sudah tidak ada karena mondok. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN