“Tidak! Kau bukan kehidupan ku! Kau memaksa ku di sini, dan menyakiti ku seolah kau tidak punya hati. Sebenarnya apa tujuan mu? Apa kau sadar, jika kau sudah gila! Kau hanya terobsesi padaku!” Helena menepis kasar tangan Jack yang masih menggenggam pergelangan tangannya, air mata membasahi pipinya yang pucat, membentuk guratan-guratan air yang berkilauan di bawah cahaya remang kamar. Rambutnya yang hitam panjang berantakan, kontras dengan gaun sutra putih yang kusut akibat perjuangannya melawan Jack. Jack, dengan sabar yang tak terduga, mengambil pecahan gelas kristal yang masih tergenggam erat di tangan Helena yang gemetar. Pecahan-pecahan itu berkilauan seperti berlian yang terluka, memantulkan cahaya yang menyayat hati. Dengan gerakan cepat dan terampil, ia membuangnya ke sudut lema

