“Ya, Tuhan! Jangan sampai aku hamil. Kami belum lama melakukan itu. Baru sepuluh hari, ‘kan! Tidak mungkin sudah bisa terdeteksi.,” ucap Sekar, merasa cemas dengan alat test pack di tangannya. “Tidak. Sebaiknya aku tunggu sampai tanggal haidku tiba. Hanya tinggal dua hari saja. Nanti kalau telat, baru aku tes dengan alat ini,” ucap Sekar lagi, bertarung antara batin dan logikanya sendiri. Antara rasa penasaran dan merasa ketakutan. Sekar memilih memasukkan alat test pack itu ke dalam tas lagi. Dia berharap dua hari lagi akan datang bulan dan tidak perlu menggunakan test pack tadi. Setelah itu, Sekar berjalan ke ranjang. Dia rebahkan diri di tempat tidurnya yang empuk dan nyaman dengan membawa segala kecamuk batin dan pikiran tentang informasi kehamilannya. Sebenarnya Sekar merasa lapar.

