Tak ada ungkapan tepat untuk melukiskan perasaannya. Lana seperti terhempas truk besar dari belakang. Hatinya cedera begitu dalam, seolah dibalur oleh timah panas. Ia melesat keluar dari gedung apartemen. Meninggalkan kesalahpahaman itu di balik punggungnya. Pandangan kosong. Mata sembab beriak. Kepala wanita itu bersandar ke kaca jendela macam tak bernyawa. Tak hanya hati, tubuh Lana serasa digilas hingga remuk. Gambaran Stela di atas tubuh Althaf terpatri jelas di otaknya. Potongan adegan itu seperti irisan belati yang menusuk berulangkali. Lana berhasil lari—meski jiwanya tertinggal di tempat tadi. Seruan suara Althaf masih terngiang. Namun kecewanya terlampau besar. Wanita itu kini meringkuk di dalam taksi biru. Si supir menatap khawatir. Ia tak punya hati untuk menegur, karena c

