Kalimatnya menembus macam tombak. Ia berulangkali mendesis 'sialan', dengan rahang mengerat. Althaf bangkit dengan wajah panas. Lana yang menyaksikan aksi pria itu spontan kelabakan. "Apa yang anda lakukan?" begitu tulisnya di pesan. "Pls jangan lakukan apapun!" Namun, tak pula dihiraukan. Tubuh Althaf mendekat ke sosok lelaki buzz cut itu. Iris matanya menyorot tajam. Lana menahan napas. Kakinya ingin beranjak namun seolah terpaku ke lantai. Di kepalanya terbayang seribu adegan Valdo dan sang dosen. Ia menggigit bibir. Jarak mereka makin terkikis— "Permisi," Althaf berhenti di depan Valdo. Ia justru tersenyum ramah, "Mas nya mahasiswa di sini?" Tunggu, apa? "Eh, iya. Kenapa, ya?" Valdo bertanya balik. "Maaf, boleh saya tahu di mana auditorium Fakultas?" "Oh..., itu ada di

