Aku tahu dia akan pergi. Bukan dari pesan yang dia kirim, karena tidak ada pesan itu. Tapi dari suasana kota yang tiba-tiba terasa lebih hening. Seperti ada satu suara yang tidak akan terdengar lagi. Suara langkah Revan. 📎 Di kafe tempat biasa aku mengoreksi tugas murid-muridku, aku duduk sendiri hari ini. Kopi favoritku sudah dingin, dan di tanganku ada amplop tak beralamat. Isinya surat—tapi tak akan kukirim ke mana-mana. Surat ini hanya untukku, untuk menyelesaikan apa yang tertunda. Revan, Terima kasih karena pernah mencintaiku, meski hanya sampai titik tertentu. Dan maaf… karena aku mencintaimu lebih lama dari yang seharusnya. 📎 Aku tersenyum kecil. Sejak kapan aku jadi seseorang yang menulis surat tanpa niat untuk mengirimnya? Mungkin sejak kehilangan jadi hal yang biasa. Mu

