Wajah perempuan itu—yang sebagian tertutup hijab tipis yang masih ia kenakan hingga tidur—terpantul dalam cahaya temaram lampu dinding. Ada ketenangan yang terpancar, seolah seluruh dunia ini telah memaafkan masa lalu dan mengizinkannya menatap masa depan dari wajah Rurayya. David tak bergeming. Hanya menatap. Lama. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Pukul 2 dini hari. Rurayya mengerjap pelan. Ia membuka mata, merasa ada yang berbeda. Dan benar—pandangan David bertemu dengan matanya. Lelaki itu tampak terkejut, seakan tak menyangka sang istri terbangun di jam seganjil ini. Mereka sama-sama tak bersuara. Hening. Rurayya hanya berdehem kecil, lalu duduk perlahan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Madiev yang meringkuk kecil di antara mereka. David buru-buru memejamkan mata, berpura-pu

