Vanya memasuki ruangan ICU dengan di temani suster. Ia melihat Evan yang terbaring lemas di atas tempat tidur. d**a Vanya terasa sangat sesak, melihat suaminya seperti ini karena dirinya. Vanya mendekat, ia langsung memegang tangan Evan. "Mas..." Panggilnya dengan suara yang lirih. Evan membuka matanya perlahan, ia menoleh ke arah Vanya. "Anya..." ucapnya tidak kalah pelan. Air mata Vanya langsung membasahi pipinya. Dia benar-benar tidak melihat suaminya seperti ini. "Maafin aku Mas, maafin," ucap Vanya sesegukan. Evan tersenyum sangat tipis, tipis sekali saat melihat Vanya menyesali akan perbuatannya. "Mas, kamu boleh kok hukum aku. Kamu boleh marahin aku Mas, tapi jangan tinggalin aku Mas!" Pinta Vanya dengan memohon. "Siapa yang bakalan ninggalin kamu?" "Aku takut aja Mas ning

