"Gue gak habis pikir deh, kenapa si Mario bisa suka sama Oliv?" Flora memasukkan gorengan ke dalam mulutnya setelah berseru heran. "Cinta itu buta dan tuli," sahut Caca. "Tak melihat, tak mendengar." Mella menimpali. "Namun datangnya dari hati." Aku menautkan alis. "Itu bukannya lagu, ya?" Caca dan Mella terbahak. "Tahu aja lo, Sha. Tapi, memang begitu, kan?" kata Caca. "Gue serius! Menurut gue, tipe-tipe Mario itu bukan cewek lebay macam Oliv. Apa sih yang dia lihat dari cewek itu? Cantik? Cewek cantik, kan, banyak!" Flora berseru-seru. Warung Mpok Inem lengang sejenak. Ya, kami berempat sedang berada di tempat ini setelah dari sekolah. Sebuah warung kecil yang terletak di belakang sekolah. Aku menegakkan badan lalu menatap Flora. "Flo, mungkin ada sesuatu yang menarik dalam diri

