“Aku layak bahagia ‘kan, Bunda?” Tatapan Hana begitu sendu. Sorot matanya seolah menginginkan pengakuan itu dari sang ibu asuh. Hidup sendiri dengan menyimpan beribu sakit hati membuat Hana menjadi wanita yang mandiri. Sesulit apapun kehidupan pernikahan yang ia alami, wanita itu tak pernah ingin berbagi pada Maryam. “Ya, kamu layak bahagia, Sayang.” Maryam terisak pilu. Ia menangkup pipi Hana lalu mengangguk-angguk. “Apapun yang buat kamu bahagia, lakukanlah.” Disaat berikutnya, Maryam menarik wanita itu ke dalam dekapan. Sungguh! Pemandangan yang begitu menyayat hati. Mereka menangis seraya saling menguatkan. ‘Ga apa-apa, Bunda. Hana pasti bisa bangkit dari keterpurukan ini. Hana janji, setelah ini ga akan ada air mata lagi.’ Tak apa. Bagi Hana, ini hanya ujian. Ia pasti bisa ba

