Aku Mencintainya.

1346 Kata

“Kamu ga balik ke kantor, Nak?” tanya Habibah saat Aryan tengah membantu Humaira membersihkan sisa makanan di mulutnya. “Oh, engga, Umma.” “Kenapa?” “Itu—” Aryan menghentikan aktivitasnya, lalu melirik Hana yang tengah menaruh piring bekas makanan ke wastafel. “Biar saya saja, Nona.” “Ga apa-apa, Bi.” Suara Laila membuyarkan lamunan Aryan. “Oh, ga apa-apa.” Aryan menggeleng cepat. “Lagi mau istirahat aja.” Aryan kembali memalingkan wajah ke arah putrinya. ‘Gelagat kamu ketahuan banget, Nak.’ Habibah tersenyum. “Sekarang waktunya tidur siang. Humaira kembali ke kamar, ya?” Senyum mengulum di bibir Aryan dan membuat perasaan Humaira menghangat. Meski ia tak bisa mendapat kasih sayang dari ibu yang melahirkannya, Humaira merasa beruntung karena sang ayah begitu mempedulik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN