Diagnosa dokter beberapa saat lalu terus terngiang di telinga. Aryan yang tengah menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan mendongak ketika seseorang menyebut namanya. “Tuan Aryan Malik Kartawijaya?” Sorot mata langsung bertemu di udara. Sesaat hening. Baik Aryan maupun pria itu tak mengucapkan kalimat lain. Disaat berikutnya, Aryan beranjak dengan pandangan sinis terhadap pria tersebut. “Apa kabar?” sapa pria itu, menunjukkan senyuman yang ramah. Namun, tidak dengan Aryan yang bersikap dingin. Tak sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di lobi hotel. Dari kejauhan, Vito telah mengamati dengan rasa cemas. Pasalnya, ia tak pernah melihat Aryan memandang seseorang begitu tajam. Ia pun ancang-ancang jika sesuatu …. “Dasar bajiingan!” Benar saja! Vito langsung be

