Pagi itu Aryan dan Vito hendak melaju menuju kantor. Namun, setelah terngiang tentang apa yang menimpa Hana, hati pun jadi gelisah. Aryan tak bisa membiarkan wanita yang mencuri hatinya hidup dalam nestapa. Saat mobil melaju menuju arah timur, Aryan meminta Vito segera memutar jalur. “Putar balik, To.” “Oh, oke.” Vito berputar setelah lampu merah padam. “Kita mau kemana?” “Rusun Harum.” Vito memiringkan kepala lalu mengenyit perlahan. Sesaat hening. Baik Vito dan Aryan sama-sama larut dalam lamunan masing-masing. Sesekali Vito melirik ke belakang melalui kaca spion. Memandang sang tuan yang merasa gelisah, membuat Vito semakin penasaran. “Bro, gue boleh tanya sesuatu?” Aryan mendongak. Tatapan mata mereka bertemu di balik kaca spion disana. Tak seperti biasanya, Vito kini berbi

