Setelah menimang-nimang ucapan Umma dan juga mempertimbangkan nasehat sang ibu, Hana akhirnya jalan—mengantarkan makanan untuk Aryan. Ia dan Humaira duduk di kursi penumpang. Sesekali Hana memandang ke jendela. Sekelebat pertanyaan seolah merasuki ruang otaknya. Apa yang harus ia lakukan nanti? Mengapa ia harus melangkah sejauh ini? Bukankah dirinya dan Aryan hanya sebatas guru dengan wali murid? “Bunda,” panggil Humaira memandang ke arah Hana yang bergeming. Gadis kecil itu melihat raut wajah cemas Hana dari sisi kiri. “Bunda ga apa-apa ‘kan?” tanya Humaira. Kali ini jemari kecil itu masuk diantara buku-buku jari Hana yang lebih besar. “Ya?” Hana tak mengerti apa maksud ucapan gadis kecil itu. Namun, ia berusaha tetap tersenyum dibalik kegundahan hatinya. “Wajah Bunda kayak ga ber

