Bab 43 : Sandiwara

1187 Kata

"Kawan terbaikmu adalah titik terlemahmu. Tapi musuh lupa, kawan terbaikmu juga bisa menjadi senjata paling mematikan." - Ghea Gemalia Saputri  Waktu berlalu cepat. Senin pagi. Serangan 'Bos Besar' Faksi Gelap tidak datang dalam bentuk bom atau peluru, melainkan dalam bentuk tekanan sistemik yang sangat halus dan mengerikan—persis seperti yang direncanakan di Presidential Suite. Di Jogja, Mahardika menerima panggilan telepon dari kantor redaksinya. Suara Dea, putri Jenderal Wirya dan Editor Senior Mahardika, terdengar dingin. "Dika, kita harus bicara serius. Internal Audit menemukan keganjilan pada dana investigasi terakhirmu. Ada dana masuk dari Yayasan yang terhubung dengan Darmawan, sebesar dua ratus juta rupiah," kata Dea, suaranya dipenuhi kekecewaan yang dibuat-buat. "Apa?! Itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN