“Halo, halo? Ki?” Laila memanggil-manggil Kirani karena lama tak terdengar suara. “Iya, aku masih mendengarkan, kok,” sahut Kirani. “Aku kira sambungannya terputus,” ujar Laila. “Nggak, kok. Oya, omonganmu mungkin benar, La. Tapi aku perlu waktu memikirkannya,” kata Kirani. “Sebagai teman aku hanya memberi pandangan. Jangan marah, ya,” pinta Laila. “Iya. Aku tahu kamu tulus, kok,” balas Kirani tenang. “Oke deh, sudah dulu kalau begitu.” Laila pamit dan memutuskan sambungan. Kirani menghela napas. Memaafkan Fadhil masih berat terasa baginya saat ini. Kirani meletakkan kembali ponselnya dan memutuskan untuk keluar kamar menemui Marni. Selain itu, ia juga mulai merasa lapar. Derit pintu kamar yang dibuka Kirnai menarik perhatian Marni. Marni yang sedang menyendokkan nasi ke piring,

