“Wah, Ibu bisa saja. Mana ada yang mau dengan saya, Bu,” sahut Arun dengan senyum ge-er menghiasi bibir. “Pasti banyak lah. Mas Arun kan orangnya baik,” timpal Marni. Kirani jengah mendengarkan obrolan akrab Marni dengan Arun. Kirani beringsut pergi, ia tak mau menjadi kambing congek diantara Marni dan Arun. Lebih baik ia pergi daripada harus mendengarkan obrolan mereka dan merasa muak sendiri. “Mau ke mana, Ki?” cegah Marni seketika. “Mau mengambilkan air minum buat Mas Arun, Bu. Kasihan dari tadi belum disuguhi,” jawab Kirani tangkas. Untung saja otaknya lekas menemukan jawaban yang masuk akal. Kalau tidak, bisa-bisa Marni menjadi curiga. Kirani cepat melangkah menuju dapur, lalu menyiapkan secangkir teh manis hangat. Cangkir teh diletakkan Kirani pada nampan kecil bercorak bunga m

