“Mas Dani sendirian? Aku pikir bersama Mas Fadhil,” sambut Kirani di depan pintu rumah. Dari pakaian yang dikenakan oleh Kirani, Dani tahu bahwa Kirani telah sempat mengganti seragam gurunya dengan pakaian rumah. Dani mengembuskan napas lega. Jadi dia tidak datang terlalu cepat. Dani melihat ekspresi bingung di wajah Kirani. Dani meneliti sekali lagi, adakah raut kecewa di dalam sorot mata Kirani? Tapi Dani tak dapat menemukan apa-apa selain keheranan yang sempurna. “Iya. Aku datang sendirian saja, Ki. Sengaja,” ucap Dani tenang. “Silakan masuk, Mas,” ujar Kirani ramah. Senyumnya telah kembali mengembang. “Kamu baru pulang kerja? Maaf, ya. Masih capai sudah aku ganggu,” kata Dani seraya berjalan melewati pintu yang dibentangkan oleh Kirani. “Nggak apa-apa. Sudah biasa, kok,” jawab Ki

