“Kamu serius, Fad? Sudah mempertimbangkan masak-masak?” tanya Dani dengan mata terbelalak. Saking kaget dan terpana, Dani tak sadar mulutnya yang ternganga lupa ditutup. Fadhil mengangguk lemas. Kelopak matanya sayu. “Aku nggak sanggup lagi berpikir dan mengonsep konten. Pikiranku dipenuhi dengan Renata, Dan,” keluh Fadhil. Dani terdiam. Ia berpikir dan mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi. “Aku nggak tahu kenapa jadi begini. Aku seharusnya benci sama dia, tapi aku nggak bisa. Meskipun sudah diputus, aku tetap ingin tahu segalanya tentang dia,” aku Fadhil seraya mengembuskan napas berat. Dani tetap diam. Fadhil melanjutkan ucapan, “Aku ikuti terus semua akun media sosialnya, aku datangi rumah indekosnya, hanya demi melihat wajahnya dan aktivitasnya,” tambah Fadhil. “Kamu ini

