“Nggak, sama botol,” sahut Laila kesal. Fadhil menatap Laila dengan dahi mengernyit dan sorot mata seperti memandang makhluk hutan turun gunung. Namun tak ada kata yang terucap dari mulut Fadhil. Ia malah kembali memandang Kirani, seolah-olah kehadiran Laila hanyalah angin lalu. “Sudah dari dulu kubilang, kalau jalan itu pakai mata. Masih untung aku nggak ketumpahan kuah panas,” gerutu Fadhil dengan mulut mengerucut. “Maaf, Mas. Saya betul-betul nggak sengaja,” balas Kirani lirih. Ia menundukkan wajah dengan perasaan bersalah. “Sengaja nggak sengaja, kamu tetap harus bertanggung jawab!” geram Fadhil lagi. Sementara itu, Dani di hadapan Fadhil terpelongo melihat pertengkaran antara Fadhil dan Kirani. “Sudah, sudah! Biar saya yang ganti bakso yang Mas pesan,” lerai Laila. Tanpa menun

