Laila menjentikkan jari di depan wajah murung Kirani yang duduk sendiri di ruang guru. “Hei, kusut banget itu muka. Lupa disetrika, ya?” tegur Laila. Kirani mendongak. Ia memaksakan diri untuk tersenyum. Sejak telepon Daffan kemarin malam, Kirani sulit untuk merasa riang kembali. Meskipun hubungannya dengan Daffan belum lama dan tidak dalam, tetap saja Kirani merasa ada yang hilang dari dirinya. “Kamu, La,” sapa Kirani lesu. “Astaga. Ini serius? Kamu kok muram betul. Pasti lagi ada masalah, ya?” tanya Laila seraya menarik kursi untuk duduk di dekat Kirani. Ruang guru masih sepi. Kirani sengaja berangkat sangat pagi, ia ingin menenggelamkan diri pada pekerjaan dan tidak larut pada kesedihan. Tak disangka, Laila juga datang lebih pagi daripada biasanya. “Nggak ada masalah, sih. Hanya s

