Robin Sakit

1445 Kata
POV Nadira , , , , , , , , happy reading * * * * * * * * robin masih terus saja mengetuk pintu kamarku dan meminta maaf , tapi aku belum bisa menerima kebohongan Robin , " sayaaang , maafin aku , please buka pintunya " " tok tok tok , sayaaaanggg , aku tahu aku tidak seharusnya membohongimu , " " sayaannggg , dari pertama aku melihatmu aku memang sudah menyukaimu , tapi aku hanya takut jika kamu sama sperti yang lain , yang hanya mengincar hartaku , saat aku semakin dekat dengan mu aku sadar bahwa perasaan ini memang seutuhnya hanya kepadamu , sayang please buka pintunya " penjelasan Robin memang membuatku sedikit berbunga bunga tapi tetap saja Robin membohongiku dan memaksaku untuk menikah dengannya , ya sebenarnya memang aku sendiri bahagia bisa di nikahi Robin , cowok yang di impikan semua cewek yang memiliki segalanya , ketampanan , harta , kedudukan , pasti semua perempuan ingin berada di posisiku saat ini menjadi istri Robin Danuarta CEO Danuarta corporate , tapi tetap saja rasa kecewa ku ini masih menyakiti hatiku , aku tertidur di belakang pintu karena terlalu banyak menangis , ku dengar sudah tidak ada suara Robin di luar pintu , lalu ku putuskan untuk membersihkan tubuhku , dan berganti pakaian tidur yang tersisa di lemari , karena memang tadi siang semua pakaianku aku pindahkan di kamar Robin , perutku sudah mulai brontak ingin di isi makanan tapi aku malas untuk keluar , aku masih belum ingin melihat Robin , " keluar enggak ya .... " ucapku di depan cermin aku jalan menuju pintu ,dan ku dengarkan dari dalam kamar " sunyi .... gak ada suara apapun , apa Robin pergi ya , " lalu buru buru aku melihat ke jendela kamarku , ku arahkan pandanganku di gerbang masuk " tapi gerbangnya masih dikunci dari dalam , berarti Robin masih di rumah , Robin sudah makan belum ya .... " aku masih menghawatirkan Robin karena mengingat dari tadi siang kami berdua belum makan apapun , aku jadi kasihan memikirkan Robin , " apa aku keluar aja ya ..... " lalu aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar , dan berniat untuk membuat makanan agar bisa kami berdua makan , " ckreekkk " ku buka pintu kamarku lalu kulihat Robin yang tertidur di depan pintu kamarku , awalnya aku mengabaikannya , karena aku sendiri masih kecewa dengan Robin , tapi melihat wajah Robin yang pucat , aku menghampirinya , " maass , maass " ku coba bangunkan Robin , tapi tidak ada jawaban apapun dari Robin , lalu akupun mencoba untuk memegang tangannya , " ya ampun , tangannya dingin sekali " lalu ku tempelkan tanganku di keningnya " ya Tuhan , badannya panas banget " " Maas , Maas ,bangun " aku semakin hawatir melihat Robin dalam kondisi seperti itu lalu aku peluk Robin dan menyandarkan kepalanya di dekapanku , " maaass, kamu sakit " tanyaku aku bingung harus berbuat apa , lalu aku ingat dokter yang dulu mengobatiku dan sekaligus dokter itu pun teman nya Robin , " ah sial aku gak punya nomornya , " aku cari cari handphone nya Robin di kantong celananya pun tidak ada , sepertinya Robin meninggalkan hp nya di kamarnya , aku bergegas mencari cari hp nya Robin , " ah ini dia handphonenya " lalu ku coba membuka nya , tapi .... hp nya Robin memakai password " duuhh apa yaa password nya " aku mencoba melihat id nya , dan ku cocokan dengan tanggal lahirnya tapi gagal , " aduuhhhhh password-nya salah lagi , ini password nya apaan sih " ku coba sejenak berpikir dan mencoba tenang " apa mungkin " aku berpikir jika password nya adalah tanggal pernikahan kami , lalu aku pun mencobanya daaannn " haaahhh terbukaaa " ko bisa password-nya tanggal pernikahan kami , apa memang benar apa yang di ucapkan Robin , bahwa Robin sudah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu , aku langsung buru buru mencari nama dokter Rian , aku langsung menelponnya dan meminta dokter Rian datang ke rumah secepat mungkin , sambil menunggu kedatangan dokter Rian , Robin masih dalam pelukanku , aku penasaran ingin tahu dengan siapa saja dia mengirim pesan , " buka gak ya , buka gak ya " hatiku ingin membuka pesan pesannya tapi aku takut jika Robin mengetahui handphonenya aku buka dan pesan nya aku baca Robin akan marah kepadaku , tapiiiiii aku ingin tahu " buka gak yaaaa,,,,, " lalu ku beranikan diri untuk membuka pesan Robin , " haaahhhh , my love " jantungku berdetak sangat kencang darahku seakan mendidih sehingga membuatku merasa panas , " siapa my love " aku tidak berani membuka pesannya karena takut aku sakit hati membacanya , tapi rasa penasaran yang ada di hatiku lebih besar dari pada aku akan terus di hantui rasa penasaran dengan tangan yang bergetar aku buka pesan yang bertuliskan my love " haaaaahhhhhh " membelalak mataku melihatnya , " ko bisaaa, ternyataaa.... " aku tidak tahu harus berekspresi apa , tapi aku hanya bisa tersenyum lega karena ternya my love itu adalah nomor saya sendiri , hihihi aku pun penasaran isi handphone Robin , ku mulai buka galeri Robin , dan isinya membuatku semakin terkejut , hampir semua isinya adalah fotoku , aku sedang memasak , beres beres bahkan aku sedang tidur pun ada , kapan ya dia ngambil fotonya padahal kan kita berdua tidak satu kamar , aku senyum senyum sendiri melihat isi handphone Robin tanpa ku sadari badan Robin semakin panas , " ting tong Ting tong " Bel pun berbunyi menandakan bahwa ada orang di luar rumah , aku bergegas buru buru turun dan memastikan siapa yang datang , dan setelah ku buka " dokter Rian , syukurlah dok cepat sampai " " Robin kenapa ? " badan nya sangat panas dok " " sudah di beri pertolongan pertama " " haaahhh pertolongan pertama " ? " iya , kamu kompres kening nya Robin , atau memberikan obat penurun panas ke Robin ?? tanya dokter Rian membuatku tidak berarti menjadi istri Robin , " apa apaan aku ini bukannya aku mengompres kening nya Robin atau mencarikan obat untuk nya , aku malah asik buka handphone Robin sambil senyum senyum " ucap ku dalam hati merasa bersalah " dimana Robin " ? tanya dokter Rian " di atas dok , di depan pintu kamar " jawabku " gak di bawa ke kamar " tanya dokter Rian " berat dok , badan Robin kan tinggi gede " ucapku sedikit gugup ku lihat dokter Rian hanya tersenyum tidak mengatakan apapun aku dan dokter Rian membantu Robin pindah ke kamarnya , dan setelah itu dokter Rian pun mendiagnosa sakitnya Robin , " Nadira , Robin baik baik saja ko hanya demam biasa , ini obat dan dosisnya sudah saya tuliskan , dan jangan lupa robinnya di kasih makan ya , " dokter Rian samb senyum senyum melihat ku dan robin " tapi ko dok Robin tidak sadarkan diri , " tanyaku keheranan " dia sadar ko. cuma lemas aja , jaga Robin baik baik ya " " baik dok , " " hmmm baik lah , sepertinya saya harus pamit dulu , bro cepat sembuh ya , jangan lama lama pingsannya hahahaha " " iya dok terimakasih banyak ya sudah mau ke sini , maaf jika merepotkan " ucapku ke dokter Rian " iya sama sama " aku mengantarkan dokter Rian pulang sampai depan gerbang , lalu aku langsung mendatangai Robin dan memeriksa ke adaan Robin , " maaas , " sambil aku kompres keningnya Robin dengan air hangat " maafin aku ya mas , kamu jadi sakit kaya gini " tiba tiba robin memegang tangan ku , aku terkaget karena Robin sudah ada reaksi dan kembali sadar , " Maas kamu udah sadar " sambil ku genggam tangannya , " jangan marah lagi " ucap Robin dengan suara seraknya " mas jangan gerak dulu , istirahat aja ya , aku buatkan kamu makan dulu ya mas " Robin menarik tanganku " jangan kemana mana aku tidak mau jauh dari kamu " robin terus menggenggam tanganku " tapi kamu belum makan mas " " handphone ku mana " tanya Robin " ini mas " aku sedikit cemas takut Robin menyadari aku sudah membuka buka hp nya , " halo , kirimkan beberapa makanan yang Nadira suka " ucap Robin di telpon , ntah Robin menelpon siapa " sudah beres , nanti orang ku akan ke sini mengantar makanan , kamu jangan kemana mana , aku mau kamu di samping ku " sebenarnya robin sakit apa ya , sepertinya Robin baik baik saja saat di dekat Nadira ,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN