POV Nadira
, , , , , , , ,
happy reading
* * * * * * * *
robin masih terus saja mengetuk pintu kamarku
dan meminta maaf , tapi aku belum bisa menerima kebohongan Robin ,
" sayaaang , maafin aku , please buka pintunya "
" tok tok tok , sayaaaanggg , aku tahu aku tidak seharusnya membohongimu , "
" sayaannggg , dari pertama aku melihatmu aku memang sudah menyukaimu , tapi aku hanya takut jika kamu sama sperti yang lain , yang hanya mengincar hartaku , saat aku semakin dekat dengan mu aku sadar bahwa perasaan ini memang seutuhnya hanya kepadamu , sayang please buka pintunya "
penjelasan Robin memang membuatku sedikit berbunga bunga tapi tetap saja Robin membohongiku dan memaksaku untuk menikah dengannya ,
ya sebenarnya memang aku sendiri bahagia bisa di nikahi Robin , cowok yang di impikan semua cewek yang memiliki segalanya , ketampanan , harta , kedudukan ,
pasti semua perempuan ingin berada di posisiku saat ini menjadi istri Robin Danuarta CEO Danuarta corporate , tapi tetap saja rasa kecewa ku ini masih menyakiti hatiku ,
aku tertidur di belakang pintu karena terlalu banyak menangis ,
ku dengar sudah tidak ada suara Robin di luar pintu ,
lalu ku putuskan untuk membersihkan tubuhku , dan berganti pakaian tidur yang tersisa di lemari , karena memang tadi siang semua pakaianku aku pindahkan di kamar Robin ,
perutku sudah mulai brontak ingin di isi makanan tapi aku malas untuk keluar , aku masih belum ingin melihat Robin ,
" keluar enggak ya .... " ucapku di depan cermin
aku jalan menuju pintu ,dan ku dengarkan dari dalam kamar
" sunyi .... gak ada suara apapun , apa Robin pergi ya , " lalu buru buru aku melihat ke jendela kamarku , ku arahkan pandanganku di gerbang masuk
" tapi gerbangnya masih dikunci dari dalam , berarti Robin masih di rumah , Robin sudah makan belum ya .... " aku masih menghawatirkan Robin karena mengingat dari tadi siang kami berdua belum makan apapun ,
aku jadi kasihan memikirkan Robin ,
" apa aku keluar aja ya ..... "
lalu aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar , dan berniat untuk membuat makanan agar bisa kami berdua makan ,
" ckreekkk " ku buka pintu kamarku
lalu kulihat Robin yang tertidur di depan pintu kamarku ,
awalnya aku mengabaikannya , karena aku sendiri masih kecewa dengan Robin ,
tapi melihat wajah Robin yang pucat , aku menghampirinya ,
" maass , maass " ku coba bangunkan Robin , tapi tidak ada jawaban apapun dari Robin ,
lalu akupun mencoba untuk memegang tangannya ,
" ya ampun , tangannya dingin sekali "
lalu ku tempelkan tanganku di keningnya
" ya Tuhan , badannya panas banget "
" Maas , Maas ,bangun " aku semakin hawatir melihat Robin dalam kondisi seperti itu
lalu aku peluk Robin dan menyandarkan kepalanya di dekapanku ,
" maaass, kamu sakit " tanyaku
aku bingung harus berbuat apa , lalu aku ingat dokter yang dulu mengobatiku dan sekaligus dokter itu pun teman nya Robin ,
" ah sial aku gak punya nomornya , "
aku cari cari handphone nya Robin di kantong celananya pun tidak ada ,
sepertinya Robin meninggalkan hp nya di kamarnya ,
aku bergegas mencari cari hp nya Robin ,
" ah ini dia handphonenya "
lalu ku coba membuka nya , tapi .... hp nya Robin memakai password
" duuhh apa yaa password nya "
aku mencoba melihat id nya , dan ku cocokan dengan tanggal lahirnya tapi gagal ,
" aduuhhhhh password-nya salah lagi , ini password nya apaan sih "
ku coba sejenak berpikir dan mencoba tenang
" apa mungkin " aku berpikir jika password nya adalah tanggal pernikahan kami ,
lalu aku pun mencobanya
daaannn
" haaahhh terbukaaa " ko bisa
password-nya tanggal pernikahan kami ,
apa memang benar apa yang di ucapkan Robin , bahwa Robin sudah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu ,
aku langsung buru buru mencari nama dokter Rian , aku langsung menelponnya dan meminta dokter Rian datang ke rumah secepat mungkin ,
sambil menunggu kedatangan dokter Rian , Robin masih dalam pelukanku ,
aku penasaran ingin tahu dengan siapa saja dia mengirim pesan ,
" buka gak ya , buka gak ya " hatiku ingin membuka pesan pesannya tapi aku takut jika Robin mengetahui handphonenya aku buka dan pesan nya aku baca Robin akan marah kepadaku ,
tapiiiiii aku ingin tahu
" buka gak yaaaa,,,,, " lalu ku beranikan diri untuk membuka pesan Robin ,
" haaahhhh , my love " jantungku berdetak sangat kencang darahku seakan mendidih sehingga membuatku merasa panas ,
" siapa my love " aku tidak berani membuka pesannya karena takut aku sakit hati membacanya ,
tapi rasa penasaran yang ada di hatiku lebih besar dari pada aku akan terus di hantui rasa penasaran
dengan tangan yang bergetar aku buka pesan yang bertuliskan my love
" haaaaahhhhhh " membelalak mataku melihatnya ,
" ko bisaaa, ternyataaa.... "
aku tidak tahu harus berekspresi apa , tapi aku hanya bisa tersenyum lega karena ternya my love itu adalah nomor saya sendiri , hihihi
aku pun penasaran isi handphone Robin , ku mulai buka galeri Robin ,
dan isinya membuatku semakin terkejut ,
hampir semua isinya adalah fotoku ,
aku sedang memasak , beres beres bahkan aku sedang tidur pun ada , kapan ya dia ngambil fotonya padahal kan kita berdua tidak satu kamar ,
aku senyum senyum sendiri melihat isi handphone Robin tanpa ku sadari badan Robin semakin panas ,
" ting tong Ting tong " Bel pun berbunyi menandakan bahwa ada orang di luar rumah ,
aku bergegas buru buru turun dan memastikan siapa yang datang , dan setelah ku buka
" dokter Rian , syukurlah dok cepat sampai "
" Robin kenapa ?
" badan nya sangat panas dok "
" sudah di beri pertolongan pertama "
" haaahhh pertolongan pertama " ?
" iya , kamu kompres kening nya Robin , atau memberikan obat penurun panas ke Robin ??
tanya dokter Rian membuatku tidak berarti menjadi istri Robin ,
" apa apaan aku ini bukannya aku mengompres kening nya Robin atau mencarikan obat untuk nya , aku malah asik buka handphone Robin sambil senyum senyum " ucap ku dalam hati merasa bersalah
" dimana Robin " ? tanya dokter Rian
" di atas dok , di depan pintu kamar "
jawabku
" gak di bawa ke kamar "
tanya dokter Rian
" berat dok , badan Robin kan tinggi gede " ucapku sedikit gugup
ku lihat dokter Rian hanya tersenyum tidak mengatakan apapun
aku dan dokter Rian membantu Robin pindah ke kamarnya , dan setelah itu dokter Rian pun mendiagnosa sakitnya Robin ,
" Nadira , Robin baik baik saja ko hanya demam biasa , ini obat dan dosisnya sudah saya tuliskan , dan jangan lupa robinnya di kasih makan ya , " dokter Rian samb senyum senyum melihat ku dan robin
" tapi ko dok Robin tidak sadarkan diri , "
tanyaku keheranan
" dia sadar ko. cuma lemas aja , jaga Robin baik baik ya "
" baik dok , "
" hmmm baik lah , sepertinya saya harus pamit dulu , bro cepat sembuh ya , jangan lama lama pingsannya hahahaha "
" iya dok terimakasih banyak ya sudah mau ke sini , maaf jika merepotkan "
ucapku ke dokter Rian
" iya sama sama "
aku mengantarkan dokter Rian pulang sampai depan gerbang ,
lalu aku langsung mendatangai Robin dan memeriksa ke adaan Robin ,
" maaas , " sambil aku kompres keningnya Robin dengan air hangat
" maafin aku ya mas , kamu jadi sakit kaya gini "
tiba tiba robin memegang tangan ku ,
aku terkaget karena Robin sudah ada reaksi dan kembali sadar ,
" Maas kamu udah sadar " sambil ku genggam tangannya ,
" jangan marah lagi "
ucap Robin dengan suara seraknya
" mas jangan gerak dulu , istirahat aja ya , aku buatkan kamu makan dulu ya mas "
Robin menarik tanganku
" jangan kemana mana aku tidak mau jauh dari kamu " robin terus menggenggam tanganku
" tapi kamu belum makan mas "
" handphone ku mana " tanya Robin
" ini mas " aku sedikit cemas takut Robin menyadari aku sudah membuka buka hp nya ,
" halo , kirimkan beberapa makanan yang Nadira suka " ucap Robin di telpon , ntah Robin menelpon siapa
" sudah beres , nanti orang ku akan ke sini mengantar makanan , kamu jangan kemana mana , aku mau kamu di samping ku "
sebenarnya robin sakit apa ya , sepertinya Robin baik baik saja saat di dekat Nadira ,