Nadira menghela nafas panjang saat akan memasuki mobil Robin ,
tapi Robin nampak begitu tergesa gesa ingin segera sampai ke kantor ,
mobil pun melaju di aspal dengan sedikit kencang ,
nadira tidak memberanikan dirinya
untuk bertanya lebih lanjut. sementara terlihat cemas dari raut wajah Robin yang sesekali tangannya mengusap dagunya yang di tumbuhi bulu bulu halus ,
" sebenarnya ada apa dengan Robin , kenapa raut wajahnya terlihat cemas , apa ada masalah di kantor " ucap Nadira di dalam hati nya , tapi Nadira hanya diam saja dan sesekali melirik ke arah Robin ,
*****
setelah sampai di kantor , Robin memarkiran mobilnya seperti biasa ,
" sayang aku masuk duluan ya " sambil mencium kening Nadira , Robin meninggalkan Nadira di parkiran ,
Nadira hanya melihat Robin berjalan dengan tergesa gesa sampai Robin hilang dari pandangan Nadira , dan Nadira memutuskan untuk ke ruang kerjanya sambil mengerjakan pekerjaanya yang sudah menumpuk di mejanya ,
" wih kemana aja nad, kirain resign " ucap salah satu teman kantor nadira yang duduk bersebalahan dengan Dian ,
nadira hanya tersenyum menanggapi ocehan teman sekantorku ,
dilihat Dian hanya diam tidak mengatakan apapun bahkan untuk menoleh ke arah Nadira pun tidak ,
" apa mungkin Dian marah sama saya gara gara kemarin itu, " ucap Nadira dalam hati ,
saat ini yang mengetahui bahwa Nadira adalah istri sah dari CEO Robin Danuarta hanyalah Dian , Dian sahabatnya yang memang Dian sendiri pun meng idolakan Robin sejak awal Dian bergabung di perusahaan ,
" hai di " sapa Nadira , namun Dian hanya fokus pada layar laptopnya ,
Nadira hanya menarik nafas dan mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya ,
Nadira mulai menyalakan komputernya , membuka satu persatu pekerjaanya ,
dan jari lentiknya mulai menari lincah di atas keyboard ,
*********************
Robin berjalan menuju ruang meeting di lantai 5 , dari luar pintu nampak jelas ada beberapa orang dengan memakai jas hitam sedang menunggu kedatangan Robin ,
" selamat pagi pak , pak Danuarta sudah menunggu di dalam " ucap orang orang itu kepada Robin ,
sementara Robin hanya menghela nafas panjangnya ,
terlihat di meja panjang ada tiga orang yang menunggu dengan raut wajah yang memanas ,
" selamat pagi pah, " Robin menjabat tangan papahnya pak Danuarta
" selamat pagi pak Erwin, pak Danu, "
Robin Duduk di ujung meja dekat layar proyektor yang biasa di gunakan untuk mempresentasikan pekerjaan ,
pak Erwin Atmaja adalah salah satu investor terbesar pada perusahaan Danuarta corporate , sekaligus ayah dari Andin Atmaja , Andin yang memilih untuk bekerja di perusahaan yang Robin pimpin , posisi Andin sebagai atasannya Nadira di departemen ke uangan ,
sedangkan pak Danu adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan pak erwin yang menangani segala urusan pak Erwin ,
" baik lah , kita mulai saja , sebenarnya ada masalah apa pak danu , sehingga mengharuskan saya dan papah saya untuk segera bertemu , ini dadakan sekali , bukan kah meeting bulanan akan di lakukan Minggu depan ? "
ucap Robin dengan posisi yang sedikit membungkuk ke depan dengan kedua tangannya yang saling berpegangan ,
" begini , maksud dari pertemuan ini , akan membahas masa depan perusahaan ini yang akan semakin baik "
ucap santai keluar dari mulut pak Danu yang di percayakan pak Erwin untuk menyampaikan maksudnya ,
" saya tidak mengerti ? maksudnya seperti apa "
Robin menyandarkan bahunya pada kursi hitam , sambil sesekali melirik ke arah papah nya yang masih diam tidak bicara apapun ,
" pak Erwin Atmaja sudah menjadi investor selama 10 tahun pada perusahaan ini , dan sama sama kita tahu bahwa anak dari pak Erwin Atmaja yaitu Andin Atmaja bekerja pada perusahaan ini karena satu alasan , yang mungkin kita semua sama sama sudah tahu maksudnya , jadi untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan memeprkuat perusahaan ,
pak Erwin Atmaja mengajukan usul bagaimana jika Robin Danuarta dengan andin Atmaja di jodohkan , "
ucap pria sekitar umur 50 tuhan itu dengan senyum kecil nya ,
Robin melirik ke arah papahnya yang hanya diam saja dan sesekali tersenyum tipis ,
sementara pak Erwin Atmaja dengan pengacaranya terlihat bahagia yang terpancar dari wajahnya ,
" maaf pak tapi saya ..... " belum sempat Robin mengatakan sesuatu pak Danu langsung memotong perkataanya ,
" kamu sudah menikah , iya kan " jawab pak Danu ,
" iya saya sudah mempunyai seorang istri, tidak mungkin saya menerima perjodohan ini "
tegas Robin dengan wajah tegangnya ,
" saya tahu kamu menikah dengan gadis kampung yang tidak punya apa apa , bahkan gadis itu adalah karywan biasa di perusahaan ini , " ucap pak Erwin merendah kan Nadira ,
" cukup pak Erwin Atmaja saya saya hormati , saya sudah menikah , dan saya tidak mungkin menerima Andin menjadi istri saya " ucapan tegas dari Robin membuat pak Erwin naik pital
" pak Danuarta , jika Robin tidak mau menerima Andin sebagai istrinya , saya pasti kan akan menarik semua investasi saya di perusahaan ini , " ancam pak Erwin dengan nada meninggi ,
" begini pak , untuk masalah perjodohan ini berikan kami waktu untuk memikirkannya dan mencoba bicara pada Robin " ucapan ayah Robin membuat mata Robin membulat
" tapi paahh .... " tangan ayahnya langsung menghentikan Robin untuk bicara ,
" kenapa harus nanti pak , sekarang saja putuskan jawabannya apa " ucap pak Danu dengan nada menekan ayahnya Robin ,
" maaf pak , karena kan ini masalah yang besar dan serius jadi kami mohon untuk di berikan waktu agar kami bisa mendiakusikan dengan pihak keluarga "
ucap ayah Robin kepada pak Erwin untuk meminta waktu ,
" baiklah saya tunggu jawaban pak danuarta dan Robin Minggu depan , saya harap pak Danuarta memikirkan nasib perusahaan ini juga , "
lalu pak Erwin dan pak Danu berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ,
setelah mereka berdua sudah tidak lagi terlihat, Robin mulai protes dengan jawaban papah nya ,
" pah apa apaan ini, saya sudah punya Nadira , perempuan yang saya cintai pah "
robin berdiri dengan wajah memerah karena marah ,
tapi papahnya Robin hanya diam tidak mengatakan apapun. , dan langsung melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar ,.
" maafin papah nak, karena Erwin atamaja mengetahui rahasia papah dulu , dan Erwin Atmaja masih menyimpan bukti bukti nya untuk mengancam papah , " ucap papahnya Robin dalam hati sambil pergi meninggalkan Robin dalam ruangan ,
Robin membanting semua barang yang ada di depannya sambil berteriak dan meremas rambutnya ,
" aku tidak akan menerima perjodohan ini, perempuan satu satu nya yang aku inginkan hanya Nadira istriku , Bukan Andin dan tidaj mungkin aku menikahi Andin , aku tidak pernah menyukai gadis manja dan sombong itu , "
************
jam sudah menunjukan 16:00 saat nya semua karyawan membereskan pekerjaannya merapihkan meja nya dan siap siap untuk pulang ,
Robin menatap foto pernikahannya dengan Nadira di ruangannya yang di temani segelas kopi panas ,
" aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang " ucap Robin masih menatap foto itu yang terbingkai manis dengan frame warna hitam ,
tiba tiba ada pesan masuk dari Nadira ,
" mas sudah selesai belum ? , aku tunggu di parkiran ya "
melihat pesan dari Nadira , Robin bergegas bangkit dari kursinya dan buru buru mengambil kunciobilnya di atas meja , dengan mata memerah Robin menghela nafas panjang agar tetap tenang di hadapan Nadira ,