perjodohan Robin dan andin

1231 Kata
Nadira menghela nafas panjang saat akan memasuki mobil Robin , tapi Robin nampak begitu tergesa gesa ingin segera sampai ke kantor , mobil pun melaju di aspal dengan sedikit kencang , nadira tidak memberanikan dirinya untuk bertanya lebih lanjut. sementara terlihat cemas dari raut wajah Robin yang sesekali tangannya mengusap dagunya yang di tumbuhi bulu bulu halus , " sebenarnya ada apa dengan Robin , kenapa raut wajahnya terlihat cemas , apa ada masalah di kantor " ucap Nadira di dalam hati nya , tapi Nadira hanya diam saja dan sesekali melirik ke arah Robin , ***** setelah sampai di kantor , Robin memarkiran mobilnya seperti biasa , " sayang aku masuk duluan ya " sambil mencium kening Nadira , Robin meninggalkan Nadira di parkiran , Nadira hanya melihat Robin berjalan dengan tergesa gesa sampai Robin hilang dari pandangan Nadira , dan Nadira memutuskan untuk ke ruang kerjanya sambil mengerjakan pekerjaanya yang sudah menumpuk di mejanya , " wih kemana aja nad, kirain resign " ucap salah satu teman kantor nadira yang duduk bersebalahan dengan Dian , nadira hanya tersenyum menanggapi ocehan teman sekantorku , dilihat Dian hanya diam tidak mengatakan apapun bahkan untuk menoleh ke arah Nadira pun tidak , " apa mungkin Dian marah sama saya gara gara kemarin itu, " ucap Nadira dalam hati , saat ini yang mengetahui bahwa Nadira adalah istri sah dari CEO Robin Danuarta hanyalah Dian , Dian sahabatnya yang memang Dian sendiri pun meng idolakan Robin sejak awal Dian bergabung di perusahaan , " hai di " sapa Nadira , namun Dian hanya fokus pada layar laptopnya , Nadira hanya menarik nafas dan mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya , Nadira mulai menyalakan komputernya , membuka satu persatu pekerjaanya , dan jari lentiknya mulai menari lincah di atas keyboard , ********************* Robin berjalan menuju ruang meeting di lantai 5 , dari luar pintu nampak jelas ada beberapa orang dengan memakai jas hitam sedang menunggu kedatangan Robin , " selamat pagi pak , pak Danuarta sudah menunggu di dalam " ucap orang orang itu kepada Robin , sementara Robin hanya menghela nafas panjangnya , terlihat di meja panjang ada tiga orang yang menunggu dengan raut wajah yang memanas , " selamat pagi pah, " Robin menjabat tangan papahnya pak Danuarta " selamat pagi pak Erwin, pak Danu, " Robin Duduk di ujung meja dekat layar proyektor yang biasa di gunakan untuk mempresentasikan pekerjaan , pak Erwin Atmaja adalah salah satu investor terbesar pada perusahaan Danuarta corporate , sekaligus ayah dari Andin Atmaja , Andin yang memilih untuk bekerja di perusahaan yang Robin pimpin , posisi Andin sebagai atasannya Nadira di departemen ke uangan , sedangkan pak Danu adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan pak erwin yang menangani segala urusan pak Erwin , " baik lah , kita mulai saja , sebenarnya ada masalah apa pak danu , sehingga mengharuskan saya dan papah saya untuk segera bertemu , ini dadakan sekali , bukan kah meeting bulanan akan di lakukan Minggu depan ? " ucap Robin dengan posisi yang sedikit membungkuk ke depan dengan kedua tangannya yang saling berpegangan , " begini , maksud dari pertemuan ini , akan membahas masa depan perusahaan ini yang akan semakin baik " ucap santai keluar dari mulut pak Danu yang di percayakan pak Erwin untuk menyampaikan maksudnya , " saya tidak mengerti ? maksudnya seperti apa " Robin menyandarkan bahunya pada kursi hitam , sambil sesekali melirik ke arah papah nya yang masih diam tidak bicara apapun , " pak Erwin Atmaja sudah menjadi investor selama 10 tahun pada perusahaan ini , dan sama sama kita tahu bahwa anak dari pak Erwin Atmaja yaitu Andin Atmaja bekerja pada perusahaan ini karena satu alasan , yang mungkin kita semua sama sama sudah tahu maksudnya , jadi untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan memeprkuat perusahaan , pak Erwin Atmaja mengajukan usul bagaimana jika Robin Danuarta dengan andin Atmaja di jodohkan , " ucap pria sekitar umur 50 tuhan itu dengan senyum kecil nya , Robin melirik ke arah papahnya yang hanya diam saja dan sesekali tersenyum tipis , sementara pak Erwin Atmaja dengan pengacaranya terlihat bahagia yang terpancar dari wajahnya , " maaf pak tapi saya ..... " belum sempat Robin mengatakan sesuatu pak Danu langsung memotong perkataanya , " kamu sudah menikah , iya kan " jawab pak Danu , " iya saya sudah mempunyai seorang istri, tidak mungkin saya menerima perjodohan ini " tegas Robin dengan wajah tegangnya , " saya tahu kamu menikah dengan gadis kampung yang tidak punya apa apa , bahkan gadis itu adalah karywan biasa di perusahaan ini , " ucap pak Erwin merendah kan Nadira , " cukup pak Erwin Atmaja saya saya hormati , saya sudah menikah , dan saya tidak mungkin menerima Andin menjadi istri saya " ucapan tegas dari Robin membuat pak Erwin naik pital " pak Danuarta , jika Robin tidak mau menerima Andin sebagai istrinya , saya pasti kan akan menarik semua investasi saya di perusahaan ini , " ancam pak Erwin dengan nada meninggi , " begini pak , untuk masalah perjodohan ini berikan kami waktu untuk memikirkannya dan mencoba bicara pada Robin " ucapan ayah Robin membuat mata Robin membulat " tapi paahh .... " tangan ayahnya langsung menghentikan Robin untuk bicara , " kenapa harus nanti pak , sekarang saja putuskan jawabannya apa " ucap pak Danu dengan nada menekan ayahnya Robin , " maaf pak , karena kan ini masalah yang besar dan serius jadi kami mohon untuk di berikan waktu agar kami bisa mendiakusikan dengan pihak keluarga " ucap ayah Robin kepada pak Erwin untuk meminta waktu , " baiklah saya tunggu jawaban pak danuarta dan Robin Minggu depan , saya harap pak Danuarta memikirkan nasib perusahaan ini juga , " lalu pak Erwin dan pak Danu berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar , setelah mereka berdua sudah tidak lagi terlihat, Robin mulai protes dengan jawaban papah nya , " pah apa apaan ini, saya sudah punya Nadira , perempuan yang saya cintai pah " robin berdiri dengan wajah memerah karena marah , tapi papahnya Robin hanya diam tidak mengatakan apapun. , dan langsung melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar ,. " maafin papah nak, karena Erwin atamaja mengetahui rahasia papah dulu , dan Erwin Atmaja masih menyimpan bukti bukti nya untuk mengancam papah , " ucap papahnya Robin dalam hati sambil pergi meninggalkan Robin dalam ruangan , Robin membanting semua barang yang ada di depannya sambil berteriak dan meremas rambutnya , " aku tidak akan menerima perjodohan ini, perempuan satu satu nya yang aku inginkan hanya Nadira istriku , Bukan Andin dan tidaj mungkin aku menikahi Andin , aku tidak pernah menyukai gadis manja dan sombong itu , " ************ jam sudah menunjukan 16:00 saat nya semua karyawan membereskan pekerjaannya merapihkan meja nya dan siap siap untuk pulang , Robin menatap foto pernikahannya dengan Nadira di ruangannya yang di temani segelas kopi panas , " aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang " ucap Robin masih menatap foto itu yang terbingkai manis dengan frame warna hitam , tiba tiba ada pesan masuk dari Nadira , " mas sudah selesai belum ? , aku tunggu di parkiran ya " melihat pesan dari Nadira , Robin bergegas bangkit dari kursinya dan buru buru mengambil kunciobilnya di atas meja , dengan mata memerah Robin menghela nafas panjang agar tetap tenang di hadapan Nadira ,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN