Di mana aku?

1254 Kata
Kenzo telah sampai di sekolahnya lagi. Ia segera bergegas menuju ruang BP di mana pak Kendra berada saat ini. Saat ia memasuki ruangan pak Kendra, Kenzo menghampiri meja pak Kendra. Kemudian duduk di kursi yang ada di ruangan itu. " Ada apa sebenarnya ini, Pak? Kenapa bapak seperti orang panik?" Kenzo bertanya pada Kendra. Wajahnya terlihat panik. " Apa gurumu itu tidak menceritakan hal ini sama kamu?" pak Kendra balik bertanya. Kenzo menggelengkan kepalanya cepat. Sekujur tubuhnya nampak berkeringat dingin. " Baiklah, begini Kenzo, kemarin bu Anastasya sempat bercerita sama bapak kalau dia mendapat surat ancaman dari seseorang dengan inisial Mr. X. Kami sepakat untuk menyelidiki hal ini secara diam-diam. Dan dia mencurigai seseorang, yaitu Kristi. " Tadinya saya tidak percaya dengan apa yang di katakan bu Anastasya, kenapa harus Kristi yang di curigai, namun setelah mendengar penuturanmu tadi di telepon, saya jadi merasa yakin, Kristi lah biang kerok dari teror yang mengancam guru kamu, bu Anastasya," jelas pak Kendra secara detail. " Kenzo juga curiga sama Kristi pak. Waktu Kenzo tanya sama Kristi kenapa ponsel Mrs Anastasya ada di tasnya, Kristi nampak gugup dan terkejut." Kenzo mengutarakan emosinya saat melihat tingkah laku Kristi di kantin sekolah tadi siang. " Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak? Firasatku mengatakan Mrs Anastasya sedang tidak aman saat ini," lanjutnya, kemudian bertanya. " Itulah Ken, kenapa saya memanggilmu kemari. Saya ingin mengajak kamu mencari bu Anastasya. Kita telusuri sekolah ini dulu, oke? Kalau tidak ada jejak yang di tinggalkan bu Anastasya, kita cari dia di luar. Tapi, saya yakin Anastasya masih berada di sekitar sini, di sekolah ini." Kendra berkomentar. Tak lama kemudian, ia segera pergi dari ruangannya. Mengajak serta Kenzo untuk mencari keberadaan diriku saat ini. **** Sementara itu di ruangan gelap, pengap dan kotor berdebu, aku telah sadar dari pingsanku saat benda tumpul itu memukul tengkuk leherku. Rasa sakit kini terasa olehku, dan aku hanya bisa meringis kesakitan dengan tangan dan kaki yang teringat, juga mulut yang tertutup oleh lakban hitam. ' Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku berada di sini? Di mana Kristi dan Romi?' gumamku dalam hati. Aku mencoba mengingat kejadian tadi pagi, saat Romi dan Kristi berusaha ingin mencegahku agar aku tidak melapor pada polisi. " Astaghfirullahaladzim, Kristi. Kamu tega mengikat tangan dan kaki gurumu sendiri," pekikku ketika melihat kaki dan tanganku terikat. Aku berusaha melepaskan ikatan yang mengikat di kedua tangan dan kakiku. Namun, yang aku tidak bisa membuka ikatannya. Aku tak habis fikir kenapa kedua muridku itu melakukan tindakan tak bermoral seperti ini padaku. Apa salahku sama mereka? Aku bahkan tidak pernah bertindak kasar pada mereka. Hanya kepada Kenzo aku sering memarahinya, karena memang Kenzo sering berbuat ulah padaku. Tiga puluh menit berlalu. Aku terus berusaha untuk membuka ikatan di tanganku. Segala cara kulakukan, walau kutahu akan nihil hasilnya. Akan tetapi, aku melihat sebuah kater di atas meja belajar yang tidak terpakai. Ini adalah kesempatan yang bagus untukku. Dengan susah payah aku menggerakkan tubuhku. Dalam sekejap, aku bisa meraih pisau kater itu, lalu dengan segera memotong tali yang mengikat tangan dan kakiku. Setelah semua tali sudah kubuka menggunakan pisau kater, aku segera berdiri untuk pergi meninggalkan tempat yang gelap ini. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat itu. Berjalan cepat hingga di ujung koridor sekolah, aku berpapasan dengan Kristi dan juga Romi. " Mrs, Anda mau ke mana!" Berteriak Kristi padaku. Saat kutengok ke arahnya, kulihat kedua matanya melotot tajam padaku. Mungkin ingin membuat nyaliku ciut, karena aku seorang diri dan ia berdua dengan Romi. Pasti aku akan kalah telak. Dengan sikap tenang dan juga santai, aku memberikan sebuah senyuman ringan pada Kristi. Sungguh, hanya itu yang aku lakukan tidak ada yang lebih. Apalagi takut. " Ingin melaporkan perbuatan kalian sama Pak Alfan dan juga melapor pada polisi, biar kalian berdua di bekuk polisi," Kataku mengejek. " Anda tidak bisa melakukan hal itu, Mrs! Jika sampai Anda melakukannya, maka Anda tanggung sendiri akibatnya," Ancam Kristi. Telunjuknya menunjuk ke arahku. " Memang kamu bisa apa? Sampai-sampai berani mengancam gurumu?" Kristi menyeringai. " Aku akan mencegahmu untuk pergi!" " Silahkan saja, jika kamu bisa menghentikan langkah kaki saya." Aku melanjutkan kembali langkahku, saat diri ini melangkah, terasa sekali pundakku seperti ada yang mencekal. Saat aku melihat ke arah pundakku, ternyata itu tangan Kristi. Dengan gerakkan cepat, aku menangkis tangan Kristi yang ada di pundakku. Dan terjadilah tangkis menangkis antara diriku dengan Kristi. Aku tidak menyangka jika Kristi pandai dalam beladiri. Ia bisa mengimbangi gerakanku yang menyerang balik padanya. Hingga kami berdua sama-sama jatuh terpental. " Bug ...!" Kami terjatuh bersamaan. Rasa sakit menjalar di tubuhku. " Apa maumu, Kris? Saya salah apa sama kamu? Kenapa kamu ingin saya menjauhi Kenzo?" Aku berteriak lantang dengan nafas terengah-engah. Mengatur pernafasan dalam keadaan lemah, itu sangatlah susah. Aku dengan susah payah, menghirup udara agar dadaku tidak sesak. " Aku menyukai Kenzo, Mrs. Aku menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya setahun yang lalu." Ternyata Kristi menyimpan perasaan pada Kenzo. Dia begitu mencintai Kenzo, namun cara untuk mengapresiasikan perasaannya itu salah. Ia rela berbuat apapun pada orang lain yang menurutnya sebagai ancaman. Dan melakukan tindakan yang tidak bisa di maafkan. " Tapi, cara kamu salah, Kristi. Kamu tidak boleh meneror siapapun itu. Baik itu padaku, dan juga pada yang lain." Aku mencoba menasehatinya. Dan mengajak hatinya untuk tidak lagi membenci siapa saja yang dekat dengan Kenzo. " Aku tidak bisa melakukan apa pun, Mrs. Melihat dirimu begitu dekat dengan Kenzo, hatiku sakit," Hati Kristi lirih, sakit dan juga perih. Itu yang di rasakannya. Dan aku tidak peka. " Tapi, cinta itu tidak bisa di paksakan, Kris. Aku tidak menyukaimu, kau harus bisa menerima itu." Kenzo datang, dan menjelaskan panjang lebar tentang isi hatinya. " Kenzo! Kenapa kamu ada di sini?" pekik Kristi. Ia terkejut melihat Kenzo yang tiba-tiba saja datang di hadapannya. " Aku menelusuri jejak terakhir Mrs Anastasya. Hingga akhirnya aku mendengar suara gaduh dan aku langsung bergegas ke mari." Kenzo segera mendekati Kristi. Memberi penjelasan padanya panjang lebar agar ia mengerti bahwa Kenzo tidak menyukainya dan hanya menganggap Kristi sebagai teman. " Ikatan pertemanan akan selamanya kekal, tapi jika ikatan di dasari hubungan kekasih, pasti akan ada putus nyambung, berantem juga pasti ada, nah apa kamu mau itu terjadi? Kalau aku sih no ya? Karena aku tidak mau kita jadi musuhan." Untuk beberapa lamanya, Kristi mendengarkan penjelasan dari Kenzo. Ia pun sedikit mengerti cinta itu tidak bisa di paksakan, dan dengan sendirinya Kristi memohon maaf padaku. " Mrs, maafkan Kristi dan juga Romi ya? Maafkan rasa cemburuku pada Mrs. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku janji padamu, Mrs." Menangislah ia dalam tangisan penuh penyesalan. Baik aku dan juga Kenzo, juga merasakan kesedihan yang sama terhadap Kristi. Dan aku telah memaafkan Kristi dan juga Romi. " Aku dan Romi pamit undur diri ya Mrs. Sekali lagi maafkan Kristi dan Romi ya, Mrs. Assalamualaikum," ujar Kristi lalu pergi dari ruangan koridor di sekolah. Meninggalkanku dengan Kenzo dan juga pak Kendra. Alhamdulillah, masalah ini sudah selesai. Akhirnya, aku tidak akan di teror lagi oleh Mr. X. " Mrs, Anda tidak apa-apa?" tanya Kenzo saat ia mendekatiku dan berusaha membantuku untuk berdiri. " Aku tidak apa-apa, Kenzo. Aku baik-baik saja." Kupandangi wajah Kenzo ketika ia sedang berusaha membantuku berdiri. Begitu tulus Kenzo membantuku untuk berdiri. " Terima kasih, Kenzo. Kamu telah menolong saya." " Kenzo sebenarnya bersama pak Kendra, Mrs." " Lalu, di mana pak Kendra?" tanyaku menilik ke semua arah, hingga aku menemukan sosok guru BP itu. " Itu dia, Pak Kendranya, Mrs." Kenzo menunjuk ke arah di mana pak Kendra berada. Baik pak Kendra dan juga Kenzo, mereka sama-sama menuntun dan membantuku melangkah. Sebab aku merasa seluruh badanku remuk. Dan tak mampu untuk berjalan sendiri akibat pertarungan tadi bersama Kristi. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN