Bimo mengecek kembali email yang masuk di ponsel miliknya, wajahnya menyeringai sambil mengangguk karena hatinya merasa puas dengan kinerja sahabatnya itu. Berkat Leo, ia mampu membalas dengan mudah semua perbuatan yang dilakukan Ranti bersama orang tuanya. Tubuhnya menyandar di kursi putarnya matanya menatap langit-langit dinding seolah menerawang hal apa yang akan terjadi selanjutnya. "Bro... Gue mau ijin ke rumah sakit." ujar Irfan yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi seberang meja kerja Bimo. Bimo meneleng menatap wajah keruh sahabatnya, ia lantas memperbaiki posisi duduknya menghadap sahabatnya. "Ngapain?" "Sarah sama anak gue disana." "Siapa yang sakit? Rafa?" Irfan menghela nafas panjang, pundaknya meluruh lemas menatap Bimo seakan memelas. "Gue di musuhin istri gue

