Akira duduk di tepi ranjangnya sambil mengelus-elus perutnya yang masih terbilang datar, hanya sedikit membesar dari biasanya. Dengan tubuhnya yang mungil tidak begitu memperlihatkan kehamilannya. “Nak, apapun yang terjadi, kita berjuang bersama ya, sayang. Kamu lihat kan, mama bisa berjuang sampai di sini. Selama satu bulan mama bertahan dengan keadaan seperti ini. Maafkan mama ya sayang, mama tahu apa yang mama perbuat sangat salah, tapi mama yakin pilihan mama untuk mempertahankan mu tidak salah” ucap Akira sambil mengelus perutnya. Flashback on Akira menatap nanar rumah kontrakannya itu, air mata lagi-lagi lolos membasahi pipinya. Ia tak menyangka hanya karena satuu orang, ia harus meninggalkan begitu banyak orang yang sangat ia sayangi dan juga menyayangi dirinya. “Selamat tinggal

