Chapter 22

1579 Kata
“Yakin nggak pa-pa?” Nanda berdiri di depan Raga. Menatap nya dengan sorot meragukan. Tangan nya memainkan tali di tas selempang nya. Sesekali dia menunduk, merasa bersalah karena harus menyita waktu Raga lebih banyak. Raga menatap sekeliling. Mereka berdiri di tengah mall dengan Nanda yang menunduk menyesal di depan nya, terlihat seperti seorang laki-laki yang ingin memutuskan pacar nya tapi pacar nya enggan dan bersiap untuk menangis. Jaket yang dia gunakan sebelum nya Raga ikatkan di pinggang, memperlihatkan kemeja lengan panjang yang sengaja dia gulung sampai siku. Celana hitam yang panjang nya sampai mata kaki dia padukan dengan topi putih polos kesayangan nya. sementara tas nya dia sangga di bahu kanan nya dengan asal. Raga masih tetap tampan meski wajah nya sedikit berminyak karena hanya mandi tadi pagi. Menepuk lengan Nanda, Raga bersuara menenangkan. “Nggak pa-pa. Nggak ada yang ngelarang gue buat main sampai sore, lagian gue bukan bocah lagi. Jadi, nggak pa-pa.” “Yakin?” Nanda mendongak. Mata nya yang besar berkaca kaca, bibir bawah nya dia gigit kecil, hidung nya memerah karena menahan tangis, belum lagi wajah menyesal nya yang membuat Raga ingin sekali mengurung Nanda ke kamar nya. Imut sekali. Gemas. Raga menangkup wajah Nanda, memainkan pipi nya sambil mengetatkan rahang. Berhati hati supaya tidak membuat Nanda kesakitan. “Imut banget sih lo?!” “Huh?” “Mau nggak?” Nanda reflek menggeleng. Membuat Raga tak tahan untuk memainkan pipi nya lagi. “Lo belum tau apa yang gue mau.” Bibir Nanda maju beberapa senti saat Raga menekan pipi nya. “Gue tetep nggak mau.” Raga mendekat. Mencium tangan nya yang masih memainkan pipi Nanda, berharap dia bisa mencium Nanda sesuka nya tanpa ada halangan tangan nya lagi. “Kita di tempat umum!” Nanda bersuara tidak jelas. Raga terkekeh mendengar nya. Melepaskan satu tangan nya dan menaruh nya di depan bibir Nanda. Mencium punggung tangan nya lagi lalu menyeret tangan Nanda, berjalan mencari kedai es krim. “Kita makan es krim. Gue yang traktir.” Mengabaikan wajah nya yang memerah, Nanda berjalan di samping Raga pasrah. “Gue mau yang banyak toping nya!” “Siap!” “Gue juga mau pudding yang banyak buah nya. Gue mau kiwi, belimbing, nanas, apel, stowbery, mangga, melon, semangka yang nggak ada isi nya. Kenapa yang nggak ada isi nya? Karena bunda gue sering bilang kalau makan semangka terus isi nya ke telen, nanti semangka nya tumbuh di perut kita!” Raga tersenyum mendengar celotehan Nanda. Tangan nya melepaskan lengan Nanda dan dengan cekatan menyatukan jari jari mereka. “Terus lo percaya?” Nanda diam. Tidak terlalu keberatan. Toh dia juga sering begini saat bersama Gilang, tidak ada beda nya bagi Nanda. “Enggak lah! Tapi gue nggak mau makan semangka yang ada biji nya. Parno!” “Buah yang nggak lo suka apa?” “Jambu biji.” Raga melirik Nanda, lalu kembali berjalan. “Kenapa?” “Gue pernah susah b***k cuman karena makan jambu biji waktu SMP. Gue b***k aja sampai nangis! Kebayang nggak lo gimana rasa sakit nya?!” Nanda menceritakan nya dengan antusias. Seolah tak sadar saat tangan nya memeluk lengan Raga, Nanda kembali bercerita. “Terus gue nyoba makan jambu lagi waktu awal masuk SMA. Masih aman. Terus besok nya gue makan jambu lagi, terus gue nggak sekolah seminggu dan harus berdiam diri di ranjang rumah sakit cuman karena kebanyakan makan jambu!” “Terus-“ “Terus nabrak.” Nanda             diam, mendongak menatap Raga dengan mata tajam. “Gue lagi cerita! Jangan di ganggu!” “Lo cerita mulu nggak capek?” “Capek kenapa?” “Mulut lo. Nggak keram gitu?” Nanda mengigit lengan Raga. “Mau mati lo?” “Lo pernah sakit keras, Nan?” “Pernah.” Raga menghentikan langkah nya, menatap Nanda kaget. Dia tidak tau perempuan seaktif Nanda bisa sakit keras. Perlahan, takut menyakiti perasaan Nanda, Raga bertanya. “Kenapa?” “Gue udah cerita tadi! Kebanyakan makan jambu biji!” Berdecak, Raga mencubit pipi Nanda. “Gue tanya beneran loh padahal.” Nanda memukul tangan Raga keras, bergumam kesakitan sambil mengerutkan alis nya. Merasa kasihan, Raga melepaskan cubitan nya lalu mengelus nya sayang. “Sakit ini!” “Ya maaf. Kelepasan tadi.” “Nggak mau tau! Gue minta traktiran lebih!” “Apa?” “Gue mau takoyaki, mau sashimi, mau ikan bakar, mau cumi bakar, mau es krim doble, mau rujak, mau… makanan kesukaan doraemon nama nya apa? Ah iya! Dorayaki, mau bakso dengan kuah pedas plus plus, mie ayam tapi setengah porsi aja, yang setengah nya lo makan nggak pa-pa. Terus minum nya-“ Mengusap wajah Nanda, Raga menggerutu dengan nada geli. “Astaga, Nan! Makanan sebanyak gitu muat di perut lo?” “Kan gue makan nya dikit dikit. Gue belum minta minum nya loh! Gue mau es degan, mau es campur, mau es teh s**u, mau jus alpukat, mau-“ Ocehan Nanda terhenti saat tangan Raga dengan iseng menutup mulut nya, mengatupkan rahang Nanda secara paksa saat si empu berusaha untuk berbicara. “Diem!” Raga melepaskan genggaman tangan nya, sekarang sepenuhnya berdiri di depan Nanda. Dia sesekali tertawa melihat mata melotot Nanda dan sedikit mengaduh saat tangan Nanda dengan usil memukul tubuh nya. “Bangkrut gue kalau makan lo sebanyak itu.” Nanda menggeleng cepat. Menatap Raga dengan puppy eyes nya. “Enggak apa?” “Gue nggak mau lepasin. Gimana dong?” Mata Nanda berkedip lucu, menatap Raga memelas. “Gue lepasin asal lo janji sama gue. Apapun yang gue tanya in, lo harus ngangguk!” Nanda mengangguk cepat. Raga tersenyum. “Lo seneng bisa kenal gue?” Nanda mengangguk. “Lo suka bisa satu kelompok sama gue?” Nanda mengangguk. “Lo seneng kalau gue selalu ada dan selalu pengertian sama lo?” Nanda mengangguk lagi. Raga tersenyum tipis. Terdiam beberapa  detik sebelum kembali mengajukan pertanyaan. “Lo cinta sama gue?” Nanda buru buru menggeleng dengan raut wajah panik. Tangan nya dengan kasar memukul lengan Raga, tidak peduli jika wajah nya ikut terkena nanti. “Gue bilang ngangguk sama apa yang gue tanyain. Ngapain geleng?” Nanda masih menggeleng. Memukul lengan Raga berkali kali, kaki nya bahkan tidak diam, ikut menendang kaki Raga keras. Sebenarnya Raga merasa sakit, terlebih tendangan Nanda tidak bisa di anggap remeh. “Jangan geleng! Ngangguk!” Raga mencoba memaksa kepala Nanda untuk mengangguk, tapi Nanda menolak dengan terus menggelengkan kepala nya. Dia hampir saja menangis sebelum suara yang tak asing menginterupsi nya. “Kak Nanda?” Raga dan Nanda menoleh, menatap segerombolan anak SMA dengan seragam yang masih terlihat baru melekat di tubuh mereka. Raga melirik Nanda, mendapati mata Nanda yang menatap ke depan terkejut, Raga menurunkan tangan nya dari leher Nanda. Salah satu dari segerombolan SMA itu menatap Nanda dan Raga bergantian. Raut wajah nya terlihat ragu dan sedikit ada gurat kekecewaan disana. “Kak Nanda… Selingkuh?” *** Nanda masih tertawa terbahak. Tangan nya dengan iseng memukul punggung Raga yang duduk di samping nya. Dia menyeka air mata nya yang keluar secara paksa karena terlalu banyak tertawa. Di depan nya 4 anak SMA berseragam menatap Nanda tegang.  Demi apa, teman nya yang bernama Vero ini memiliki kenalan anak kuliahan jurusan kedokteran. Terlebih perempuan di depan nya ini adalah pacar –padahal bukan- kakak nya Vero yang notabe nya adalah dokter yang sekarang sedang melanjutkan kuliah di oxford. “Aduh, bentar. Ketawa aku nggak bisa berhenti!” Nanda mengeluh. Mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan, tapi saat mata nya bertatapan dengan mata Vero, tawa nya kembali pecah. Raga yang duduk di samping nya menggeleng pasrah. Tangan nya meraih cemilan yang ada di meja, sesekali menyeruput jus apel nya. Nanda meminta nya paksa untuk mentraktir orang yang bahkan tidak dia kenal. Karena sudah terlanjur malu, Raga menurut. “Abai in. Dia gila!” Raga menunjuk Nanda dengan dagu nya diiringi cengiran, menunjukkan gigi taring kanan nya. 4 anak SMA di depan nya menggigit bibir bawah nya saat melihat betapa tampan nya Raga, kecuali Vero. Perempuan yang tinggi nya tidak beda jauh dengan Nanda itu menatap Nanda dengan bibir sedikit terbuka. “Kak?” Mengambil napas dan menghembuskan nya perlahan, Nanda tersenyum pada Vero. “Kenalin, dia Raga.” Vero melirik Raga, lalu kembali menatap Nanda. “Pacar kak Nanda?” Nanda mengetatkan rahang nya, mencoba untuk tidak kelepasan tertawa. “Bukan. Temen kuliah aku.” Mendesah lega, Vero baru berani menatap Raga. Menundukkan kepala nya pelan lalu tersenyum. “Halo kak.” Raga balas tersenyum. “Halo.” “Eh, di makan. Kasian kalau duit Raga hangus tak berguna lagi.” Nanda tersenyum, meminta ke 4 anak SMA di depan nya untuk lebih rileks. “Kak Nanda gimana kabar nya?” Nanda mengangguk semangat. “Baik. Kamu sama tante gimana?” “Baik kok, kak. Ibu juga udah lebih baik dari sebulan lalu. Dulu kan ibu keseringan nangis, kata nya nggak rela kalau harus di tinggal anak sulung nya. Kak Nanda kenapa nggak pernah mampir?” “Aku sibuk. Tugas aku numpuk. Kalau nggak segera di kerjain, nanti malah ketimbun sama tugas yang lain. Ini aja baru ada waktu buat istirahat. Maaf ya, aku nggak ada waktu buat mampir. Sampai in salam aku buat tante, sehat selalu dan disertai rejeki yang lancar. Aamiin.” “Aamiin. Gimana kakak sama bang Gilang?” Pertanyaan sensitif. Senyum Nanda memudar, Raga yang memperhatikan nya sedari tadi menyerngit. “Baik kok. Cuman dia nggak pernah hubungin aku lagi.” “Gilang siapa?” Vero dan Nanda menoleh pada Raga. Menyerngit, lalu langsung mengerti karena Nanda belum memperkenalkan Vero pada Raga tadi. “Vero adek nya Gilang. Gilang mahendra.” “Cowok b**o yang ninggalin lo itu?” Nanda mencubit pinggang Raga. Melotot, Nanda berbisik. “Dia adek nya! jaga bahasa lo dong!” “Apa peduli gue?” “Lo lagi gibah in abang nya! coba di balik, kalau gue gibahin Rega gimana reaksi lo?” “Ikut gibah!” Raga mengerang saat Nanda memukul belakang kepala nya keras. “g****k!” “Nggak pa-pa kok, kak. Bang Gilang emang salah, aku nggak bakalan marah kalau kak Raga bilang gitu.” “Noh, adek nya aja bilang gitu.” Nanda meringis, merasa tak enak pada Vero. “Maafin dia ya, mulut nya emang nggak bisa di atur.” “Nggak pa-pa kak. Oh iya kak, bang Gilang sering ngabarin kamu nggak? Ibu tanya terus, kata nya kangen tapi tiap telpon selalu nggak di angkat.” Ah… Bukan hanya Nanda saja yang di abaikan, keluarga nya pun sama, ibu yang selama ini merawatnya saja tidak pernah dia kabari. Entah Nanda harus merasa senang karena dia tidak diabaikan sendiri atau sedih karena Gilang sampai berbuat seperti itu kepada keluarga nya. “Kak Gilang nggak pernah ngabarin aku. Ngabarin sebulan waktu awal berangkat, terus 2 bulan belakangan ini dia nggak pernah ngabarin.” “Kak….” Vero memanggil, Nanda berdeham menyahutnya. “Gimana kalau kita kerjain bang Gilang?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN