Chapter 21

1555 Kata
Nanda mendongak, menatap poster yang berjejer rapi di dinding dengan tas selempang yang ada di pundak nya. Rambut nya yang sengaja dia kucir, membuat leher jenjang Nanda semakin terlihat. Sesekali dia bergumam, membaca nama film dan menimang film mana yang akan mereka tonton. Nanda tidak sendiri. Ada si kembar Raga dan Rega, Tsuki, pasangan t***l Ashi dan Keanu, Haru –Nanda yang memaksa karena Haru tidak mau ikut saat Raga di dekat nya-, dan Arlan. Senior nya yang satu itu mengajukan diri, berniat mentraktir mereka makan setelah selesai memonton film karena dia mendapat gaji hasil kerja paruh waktu nya. “Mau nonton apa?” Nanda bertanya kepada teman teman nya. Seakan tidak lelah, Nanda masih mendongak. Mata nya terus tertuju pada poster dengan tokoh Vin Diesel dan kawan kawan nya. “Gue pengen Frozen.” Mereka menoleh pada Haru serempak. Kening mereka berkerut, menatap Haru aneh. “Lo bukan bocah lagi.” “Apa hubungan nya?!” Nanda berdecak. “Yang lain!” “Lorong?” Rega berpendapat. Tsuki yang ada di dekat nya langsung menolak. “Arlan nggak suka horror.” Nanda mengulum senyum tanpa menoleh. Tsuki mengatakan nya dengan refleks, dia tidak tau jika teman nya yang lain akan menatap diri nya, dan karena itu lah yang membuat nya semakin manis. Arlan yang memang tidak peka, menanggapi ucapan Tsuki. “Masih bisa gue tonton asal nggak terlalu serem.” Sebelum keadaan menjadi canggung, Nanda menyela. “Yang lain! Next….” “Crazy Rich Asian.” “Dan ngebiarin lo ber-lovey dovey sama Ashi? No!” “Fast and Furious gimana?” “Gue nggak suka action.” Haru menolak pendapat Nanda. Dia suka sama Raga, dan dia tau Raga suka sama Nanda. Mungkin karena itu yang membuat nya sedikit tidak suka dengan apapun yang Nanda lakukan. Haru sudah mencoba mengontrol perasaan nya, dia tau jika Nanda tidak bersalah dalam hal ini, hanya saja melihat Raga terus membela Nanda membuat perasaan iri nya meluap begitu saja. “Dibagi aja deh… Kalian mau nonton apa terserah, gue ikut Nanda. Nanti kita ketemuan di café depan. Sekarang, bubar!” Raga menengahi. Mencari titik tengah dimana mereka tidak harus bertengkar di tempat umum. Kedatangan mereka kesini itu juga dadakan karena dosen mereka tidak bisa hadir. Merasa memiliki waktu luang sampai sore, Nanda mengajak teman teman nya untuk beristirahat sebentar. Toh, juga tidak ada yang merasa dirugikan. Nanda berjalan di belakang Raga yang sedang memesan tiket. Saat menoleh ke belakang, Raga hampir tertawa keras. Bisa dia lihat semua teman teman nya ada di belakang, tidak terkecuali Keanu yang sudah berwajah masam karena mengikuti perintah Ashi. “8 mbak.” Raga membayar dengan kartu nya. Mentraktir teman nya nonton bukan hal baru. Raga terlalu loyal dengan orang yang ada di dekat nya, selalu mengiyakan apa yang mereka minta, tidak peduli bahkan jika mereka bermaksud untuk memanfaatkan nya. Toh itu uang milik nya sendiri, nenek nya yang memberikan karena Raga menjadi mahasiswa yang baik. “Lo harus nya mencontoh kakak lo yang baik hati ini. Nggak  pelit, sering traktir kita, minta contekan tugas juga dia kasih. Baik banget! Nggak kayak lo.” Raga yang berjalan di depan mencari tempat duduk mereka tertawa ringan. Rega yang mendengar kritikan s***s dari Nanda hanya mencibir. “Tuh anak cuman jaga imej. Padahal pelit asli, buku aja masih minjem gue. Padahal dia lebih dari mampu buat beli sendiri.” “Bukan nya pelit. Gue cuman membantu lo buat ngerawat buku yang udah berdebu, kasian dong kalau mereka udah di beli tapi nggak pernah di baca.” “Gue baca kok!” Raga duduk di kursi nya. Di ikuti yang lain. “Kapan?” “Waktu lo nggak ada!” Raga menunduk, menatap remeh Rega yang duduk di samping Tsuki. “Mohon maaf, nih. Cuman kita barengan aja nggak kurang dari 20 jam sehari! Sekalipun gue nggak ada juga lo tidur!” Kicep. Rega diam. Menyandarkan malas punggung nya di kursi, tangan nya sesekali mengecek ponsel nya. Lalu berdecak saat tidak mendapatkan notip pesan dari orang yang selalu dia nantikan. “Susah lo kalau ngejar Ayu.” Arlan yang duduk di samping nya bersuara. Mata nya menatap Rega dengan bibir tersungging. “Tuh bocil nggak beda jauh sama Nanda.” Rega menyerngit. “Ayu udah ada cowok?” Arlan mengangguk. “Ada.” “Pas gue ajak jalan dia nya mau!” “Dia peka peka g****k soal nya.” “Ha?” “Ayu tau lo suka dia. Tapi dia nggak tau kalau dengan nerima ajakan jalan lo, dia juga ngasih harapan berlebih sama lo.” “Dia nggak bilang kalau punya cowok. Nyinggung cowok nya aja nggak pernah.” “Lo kan tau sependiam apa itu anak.” Rega memiringkan tubuh nya ke Arlan, sedikit tidak terima saat perasaan nya dimainkan. “Kenapa dia nya nggak bilang? Atau nggak ngode kalau dia udah ada pacar!” “Bukan pacar sih….” Arlan bergumam ragu, dia sedikit bingung dengan hubungan Ayu dengan senior nya itu. “Ayu jelas suka. Cuman yang cowok gue nggak tau. Dia kayak suka tapi nggak bilang, jadi Ayu di gantung. Terus si cowok ngilang dari bulan lalu, Ayu tau dia kemana, tapi pas gue tanya dia enggak jawab.” “Gimana lo bisa tau? Ayu temen lo?” “Temen SMA.” “Mantan gebetan.” Arlan dan Ashi menjawab bersamaan. Rega yang mendengarnya, mengangkat satu alis nya bingung. Mereka berucap secara bersamaan, jadi Rega tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. “Apa kalian bilang?” Ashi menyeringai, sedangkan Arlan sudah terperangah dengan bibir terbuka. “Sejak kapan lo denger apa yang gue omongin?” “Sejak lo dengan enteng nya ngomongin temen gue yang notabenya gebetan lo waktu SMA.” “Nguping dosa loh!” “Gue nggak nguping! Gue cuman nggak sengaja denger aja.” “Tetep aja, lo harus nya tutup telinga atau gimana gitu.” “Ya nggak bisa lah!” “Bentar bentar… Maksud nya apa ini?” Rega menengahi pertengkaran mereka. Sorot mata nya yang bingung menatap mereka secara bergantian. “Ayu gebetan siapa?” “Arlan.” “Lo nggak serius ngejar Nanda?!” Arlan panik, suara Rega yang bisa terbilang tak pelan itu mengundang banyak perhatian. “Gue gebet Ayu waktu SMA! Sekarang udah enggak!” “Lo kalau nggak serius sama Nanda bilang dong! Nggak kasian sama abang gue yang berhati-hati biar nggak nyakitin hati lo waktu kita kumpul?!” Raga yang mendengar keributan di sebelahnya setengah berdiri. “Ngapain bawa bawa nama gue woi!” “Demi apa bisa kecilin suara lo itu? Gue bisa jelasin pelan pelan.” Rega berdiri. Menunjuk Arlan tidak terima. “Lo kalau cuman main main mending ngejar Ayu lagi sono! Biar Raga bisa leluasa buat deketin Nanda!” Wajah Raga memerah. Mereka sudah menjadi pusat perhatian sekarang, dan saudara nya itu dengan enteng menyebut nama nya dan mengatakan perasaan nya kepada Nanda secara tidak langsung. Mengatasi rasa malu nya, Raga menarik tangan Nanda. Membawa nya keluar dari gedung bioskop, di ikuti Keanu menyeret Ashi dan Tsuki yang masih berdiam disana membela Arlan. *** “b**o boleh tapi jangan malu malu in!” Raga menarik telinga Rega, berteriak tepat di samping telinga saudara nya. berharap saudara nya itu akan jera dan berhenti berlaku bodoh di tempat umum. “Bukan salah gue, Arlan yang ngejelasin setengah setengah.” “Gue mau jelasin tapi lo udah marah duluan g****k!” Melepaskan telinga Rega, Raga menoyor kepala Rega dan kembali duduk di kursi nya. Mereka sedang berada di café, tidak jadi nonton film karena ulah Rega. Terlebih banyak orang yang melihat mereka karena suara keras Raga saat memarahi Rega. “Berhenti, Ga! Lo bikin kita tambah malu!” Nanda menegur. Perempuan itu duduk di kursi dengan minuman di tangan nya sambil membelakangi mereka. Tidak ingin ikut campur apalagi ikut menjadi sorotan karena keributan mereka. “Kita di tempat umum! Marahin adek lo nanti kalau di rumah.” “Tiket nonton gue hangus gara-gara lo.” “Tau gini mending gue ngerem di perpus.” “Lo nggak tau seberharga apa kelas yang baru aja gue lewatin cuman buat nemenin kalian?” “Nyesel gue ikut.” “Apalagi gue! Duit gue hangus cuman gegara kunyuk g****k ini!” Amarah Raga meledak. Tangan nya dengan enteng menampol kepala Rega. “Gantiin duit gue nanti!” “Duit lo kan banyak! Nggak mau gue!” Rega menolak, ikut duduk di samping Haru. Raga mendekat, menarik telinga Rega lagi. “Yang nyuruh lo duduk siapa?! Berdiri!” Geram. Nanda berdiri, dengan paksa menarik tangan Raga dan menuntun nya ke kursi di samping tempat duduk nya tadi. “Berhenti!” Tangan Nanda terangkat saat merasa Raga akan berbicara membantah nya. “Diem!” “Tapi-“ “Lo bisa sepuas mungkin marahin Rega di rumah. Tapi please, jangan disini! Lo nggak liat banyak orang yang perhatiin kita? Sadar, Ga! Lo itu lebih dewasa dari Rega, jadi jangan kepancing omongan nya dia lagi!” “Nan-“ “Atau gue nggak bakalan mau bicara sama lo lebih dari sebulan.” Nanda memberi ancaman. Melipat tangan nya di d**a sambil menatap Raga, menunggu jawaban yang akan di keluarkan dari bibir nya. Raga mengangguk pasrah. Mengambil minuman yang tadi dia pesan dan meminum nya rakus. “Gue bisa urus dia nanti.” Nanda mengangguk mantap. Dia menatap teman nya satu persatu, raut wajah nya terlihat lelah, belum lagi rasa malu yang harus mereka terima. Dengan cengiran di wajah nya, Nanda bersuara. “Bagus! Sekarang, kita mau kemana?” Ashi menatap Nanda tidak percaya. “Lo masih belum puas?” Nanda menggeleng. Tersenyum manis. “Gue masih pengen main!” “Nggak bisa! Gue harus pulang! Ini udah jam 3, Nan! Janji nya tadi cuman mau nonton doang!” “Kan nonton nya batal!” Tsuki menggeleng. “Nggak! Kita harus balik. Arlan ada kelas sore, lo nggak kasian sama mereka?” Arlan mengendik. Terlihat tidak keberatan. “Pelajaran nya nggak begitu penting, masih bisa gue lewatin!” Tsuki menatap Arlan tajam. “Jangan bilang kayak gitu cuman karena Nanda yang ngajak! Lo udah semester 3! Harus sadar dong kalau ini bukan waktu nya buat bolos!” “Kan baru semester 3-“ “Nggak! Lo harus balik ke kampus! Masalah Nanda biar gue jabanin, tapi jam 4 gue harus balik. Nenek gue dateng soal nya.” Nanda menunduk, terlihat murung. “Main cuman sejam mana berasa?” “Haru?” “Lo tau abang gue pasti ngamuk kalau tau gue main lama-lama.” “Ashi?” “Gue mau nge-nolep. Tadi abis download anime baru.” “Ke-“ “Dan jangan tanya ke dia. Gue udah boking dia buat hari ini.” Ashi sudah menyela sebelum Tsuki mengutarakan maksud nya. Ragu, Tsuki menatap Rega. “Lo?” Rega tersenyum, memukul d**a nya meyakinkan. “Lo bisa-“ “Nggak.” Raga memotong ucapan Rega. Dia berdiri, menarik tangan Nanda setelah membenarkan tas di punggung nya. “Kalian bisa balik. Sorry, Ar. Tapi hari ini Nanda kencan sama gue.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN