Nanda tidur dengan posisi miring, membiarkan angin memberantakkan rambut nya dengan sinar matahari menerebos masuk di sela pohon rindang yang meneduhi mereka. Sepenuhnya mengabaikan suara ramai di sekitar, Nanda mendengkur halus. Nanda terlalu lelah, dia belajar terlalu keras, seakan tidak ada hari esok untuk nya belajar. Teman teman nya sudah sering menasehati, tapi Nanda berkelak dengan mengatakan ingin mempersiapkan ujian lebih dini.
Nanda sering melewatkan jam makan nya saat fokus belajar, hanya menyiapkan sebotol minuman di tas nya, berjaga jaga jika dia sedang haus. Nanda hanya akan makan saat teman teman nya datang mengajak, atau tidak menunggu Raga mendekati nya dengan seplastik cemilan berat untuk nya.
“Pulas banget tidur nya.” Raga bergumam. Dia duduk di samping Nanda dengan Nanda yang tidur miring menghadap nya. Tangan Raga terulur, merapikan rambut Nanda yang tertiup angin.
“Kebanyakan belajar sih, padahal belajar nggak guna!” Tsuki melotot saat Haru melempari nya kulit kacang. “Kan emang nggak guna kalau nanti pas ujian malah sakit!”
“Pelan pelan b**o, nanti Nanda bangun.” Ashi memperingati, masih sibuk membaca buku mencari materi yang penting lalu mengetik nya di laptop. Tsuki mendengus. “Nanda di jatuhi bom atom juga nggak bakalan bangun.”
“Daripada ngomong nggak jelas mending kerjain bagian lo. Lo daritadi cuman dapet 2 halaman anjir! Niat nggak lo?!” Rega berucap judes. Tidak berbeda dengan yang lain nya, Rega ikut membaca buku tebal di tangan nya. Raut wajah nya bersungut sejak dia dipaksa untuk datang kemari oleh saudara kembar nya, meminta nya berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok mereka, saudara kembar nya itu bahkan tidak peduli saat Rega terus bilang jika dia ada urusan lain.
“Perlu gue panggilin Ayu kesini?” Rega berdecak mendengar tawaran Raga. “Buat apaan? Nggak guna! Lagian siapa dia?! Nggak kenal gue.”
Raga mengangkat satu alis nya. “Bukan nya dia anak sastra semester 3? Gebetan lo kan? Kata nya mau ketemuan-“
“Terus gara-gara siapa pertemuan gue batal?!”
Raga tertawa. “Bukan gue yang pasti.”
“Kenapa lo nggak ngerjain bagian lo?! Jangan mentang mentang jadi ketua kelompok lo bisa bersikap seenak nya gini ya?!”
“Udah gue kerjain bareng Nanda, udah lama kali! Kalian nya doang yang terlalu males!”
Ashi yang mendengar nya mendecih. “Dasar bucin!”
“Apa, Shi? Nggak denger gue.”
Ashi mendongak dengan wajah lempeng nya, tersenyum sedikit menatap Raga. “Enggak pak! Rajin banget lo pak!”
Raga mengangguk, menahan senyum. Si dingin Ashi saja sudah tidak berani mengejek nya terang terangan. Mungkin karena insiden melempar kecap seminggu yang lalu, membuat tidak ada yang berani mengusik Raga. Kecuali Rega, dia selalu mengkritik nya dan tidak pernah jera walau selalu mendapat tendangan di p****t nya. “Kerjain yang bener! Gue nggak mau ngerevisi bagian kalian nanti. Jangan ada typo, jangan ada kata doble, perhatikan EYD dan jangan sampai gue pergoki kalian mainan hp.” Raga memberi ultimatum. Tangan nya sibuk membuka kacang dan memakan isi nya, melempar kulit kacang pada Rega yang terus menggerutu. “Gue jamin lo mati di rumah kalau nggak serius kerjain nya.”
“Kenapa gue?! Noh Haru malah asik nonton film!”
Merasa nama nya terpanggil, Haru mendongak. “Manggil gue?”
“Noh! Dia sampai nggak kedengeran!”
“Lo nonton film?”
Haru mengangguk. “Kan lo yang nyuruh gue ngumpulin materi lewat video barat.”
Raga mengangguk, tersenyum pada Haru dengan kaki menendang tubuh Rega. “Lanjutin….”
“Shi, laki lo kemana?”
“Menghilang di telan titan!”
“Gue tanya beneran ini.”
Ashi mendongak. “Ada apa?”
“Mau minjem buku, materi kita kurang. Gue cari di perpus nggak ada, gue cari di internet juga nggak berguna.”
Ashi berdecih. “Miskin.”
“Bilang apa lo?”
Ashi menggeleng. “Tadi ada bapak Minkis lewat. Nanti gue tanya in sama Keanu nya kalau ketemu.”
“Thanks.”
“Gue lagi marahan sama dia tapi, jadi perlu waktu buat gue bicara sama dia.” Raga mendengus. Mereka terlalu sering bertengkar, entah Keanu yang terlalu banyak menuntut atau Ashi yang terlalu cuek. “Kenapa lagi?”
“Terlalu protektif, males gue.”
“Ga?” Si kembar menoleh bersamaan pada Tsuki. Mereka bertatapan, lalu tertawa sedetik setelah nya. “Manggil siapa lo?”
“Raga!”
“Hm...” Raga berdeham menyahut.
“Lo sadar nggak sih kalau Haru suka lo?” Haru berhenti mengetik, dia mendongak melotot pada Tsuki. Sesekali dia melirik Raga untuk melihat reaksi nya. Raga mengangguk singkat. “Tau.”
Haru meringis dalam diam. Raga tau bagaimana perasaan nya, dan laki-laki itu masih berdiam tidak membalas nya. Sakit tapi tak berdarah!
“Gue juga suka dia.” Mata Haru terbuka lebar, dia menatap Raga dengan tidak percaya. Haru tidak salah dengar kan tadi? Raga menyukai nya? Raga membalas perasaan nya? Haru senang. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam tubuh nya.
“Beneran?” Rega bertanya memastikan. Mulut nya terbuka sedikit dengan mata melotot, tidak berbeda jauh dengan 2 perempuan Jepang. Rega tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia jelas tau untuk siapa hati nya Raga. Salah, bukan hanya Rega yang tau. Seluruh mahasiswa fakultas kedokteran tau bagaimana perasaan Raga kepada Nanda.
Raga mengangguk mantap, menatap Rega sambil tersenyum. “Gue suka dia.”
“Demi apa?”
“Demi puja kerang ajaib!!!” Rega, Ashi dan Tsuki dengan serempak melempari nya dengan kulit kacang.
“Jangan bercanda g****k!”
“Gue suka Haru. Gue suka Tsuki. Gue suka Ashi. Gue suka Nanda. Gue suka semua orang. Tapi gue nggak suka lo, Ga! Najis!”
Tsuki menyerngit. “Maksud lo?”
“Gue suka kalian jadi temen gue. Masih kurang jelas apa gimana?” Senyum Haru luntur. Kupu-kupu yang ada di tubuh nya terjatuh dengan sayap yang patah, hati nya sakit, seperti teremas oleh tangan tak kasat mata. Tangan nya menutup laptop kasar. Dia berdiri, mengambil sebungkus kacang dan melempar nya tepat di wajah Raga. Berteriak lalu meninggalkan mereka dengan tas yang dia bawa asal. “Raga begok!”
***
Nanda mendesah lelah. Kampus sudah sepi, mereka sudah pulang karena tau hujan akan mengguyur kota Jakarta saat sore. Deras sekali, kilat dan suara guntur saling bersahut sahutan. Nanda sebenarnya merasa takut, tapi dia tidak bisa mengelak jika terjebak hujan adalah kesalahan nya juga, salah nya karena terlalu asik berdiam diri di perpustakaan, tanpa memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Nanda duduk di bangku panjang, menaikkan kaki nya supaya tidak terciprat air hujan. Tangan nya memainkan ponsel nya, membuka aplikasi w******p dan membuka ruang obrolan Gilang. Terakhir di lihat 10 menit yang lalu. Gilang online. Tapi dia tidak menghubungi nya sama sekali sejak 2 bulan pertama Nanda memasuki dunia kampus.
“Jahat nya….” Nanda bergumam. Mengetikkan pesan berupa u*****n dan makian pada Gilang, lalu segera dia hapus kembali karena tau Gilang tidak bisa di ganggu sekarang. Nanda hanya harus sabar. Tinggal 3 tahun. Dan dia akan bertemu dengan Gilang.
Nanda tersenyum. Membayangkan Gilang pulang dan membiarkan Nanda memukul nya habis habisan sebagai balasan karena telah berani meninggalkan nya selama itu. Tanpa kepastian lagi! Membayangkan nya saja sudah membuat Nanda merasa lega.
Nanda menyerngit saat mobil taksi memasuki gerbang kampus nya, berkendara pelan menghampiri nya. Nanda meremas tas nya, bersiap kabur jika itu hanya taksi berkedok penculikan. Demi apa Nanda sama sekali tidak menghubungi taksi online. Terlebih karena biaya nya yang mahal, Nanda tidak ingin menunggu lama. Kaca mobil turun perlahan, memperlihatkan sopir taksi yang berumur pertengahan 30-an. Beliau tersenyum pada nya setelah turun dari mobil dengan payung di tangan nya. menghampiri Nanda. “Mbak Nanda?”
Nanda mengangguk ragu, dia berdiri, melangkah mundur saat pak sopir terus mendekati nya. “Jangan takut mbak. Saya di suruh orang buat nganterin mbak ke rumah.”
Siapa? Nanda bingung. Tidak banyak orang yang tau jika Nanda terjebak hujan disini. Lebih memungkinkan jika laki-laki yang berdiri di depan nya ini datang dengan maksud untuk menculik nya.
Tersenyum maklum, pak sopir merogoh saku celana nya, mengambil dompet dan menyerahkan KTP nya ke Nanda. “Dia bilang mbak pasti takut sama saya. Maka nya, mbak bisa liat KTP saya.”
Nanda meraih nya ragu. Membaca nya cepat sambil sesekali melirik nya, lalu mengembalikan nya setelah selesai memastikan indetitas nya. “Raga yang nyuruh bapak jemput saya?”
“Bukan mbak.”
Nanda menyerngit. “Siapa? Bang Erik?”
“Bapak Gilang Mahendra.” Nanda mematung. Nama yang paling dia rindukan.
“Uang nya sudah di kirim ke rekening saya. Pak Gilang juga minta saya buat bawain payung buat mbak, kata nya jaga-jaga biar mbak nggak kehujanan waktu musim hujan gini.”
“Di mobil juga ada camilan buat mbak dari pak Gilang. Kata nya jangan telat makan lagi.”
“Ada obat dan vitamin yang udah pak Gilang resepkan, saya tinggal ngambil di apotik. Pak Gilang dokter ya mbak?”
“Mbak, ada pesen dari pak Gilang. Kata nya kalau waktu nya pulang ya pulang, jangan ngurung diri di kampus sampai lupa sama waktu, apalagi lupa makan. Mbak sering lupa makan? Nggak boleh lupa mbak! Nanti bisa maag loh mbak.”
“Pak Gilang juga bilang maaf. Saya nggak tau maaf buat apa, kata nya suruh bilang gitu ke mbak.”
“Haduh mbak… Lupa aku, tadi di suruh bilang apalagi ya?” Pak sopir membuka ponsel nya, mengingat pesan apalagi yang Gilang katakan tadi pada nya. “Ah, iya! Kata nya nggak boleh begadang sama nggak boleh belajar terlalu keras. Dia bilang, dia bakalan nunggu mbak ngucapin kalimat yang paling pak Gilang ingin dengarkan.”
Mata Nanda memerah. Dia menunduk, menangis terisak dengan bibir yang tersenyum. Lega karena Gilang masih memikirkan nya, masih peduli pada nya, bahkan rela meluangkan waktu memesankan taksi untuk Nanda pulang. Terlebih Gilang memberikan pesan yang bermakna pada nya, walau harus menggunakan perantara terlebih dahulu. Nanda merasa lega. Perasaan ditinggalkan atau dilupakan sekarang lenyap tak tersisa begitu saja. Karena pada kenyataan nya, Gilang masih mengingatnya, masih mempunyai perasaan yang sama sejak 3 bulan terakhir tidak bertemu.
“Mbak kenapa? Pak Gilang nggak bilang ke saya kalau mbak bakalan nangis. Aduh, tisu saya ada di taksi mbak. Mau saya ambilin?” Pak Sopir terlihat panik. Dia ingin mendekat menenangkan Nanda, tapi takut perempuan di depan nya akan merasa tidak nyaman.
“Mbak? Duh, mbak! Kenapa malah nangis?” Nanda tertawa mendengar nya. Menghapus air mata nya kasar, Nanda mendongak. Tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Saya seneng dia masih peduli sama saya.”