Chapter 19

1664 Kata
Nanda menengadah, menggerakkan leher nya yang terasa kaku ke kanan dan berlanjut ke kiri. Mata nya dia pejamkan erat saat rasa pusing mendera. Setelah merasa baikan, Nanda kembali berkutat dengan buku yang ada di tangan nya lalu menyalin nya ke laptop nya. “Jangan terlalu di paksa in.” Nanda menoleh saat merasakan rambut nya di usap dari samping. Nanda tersenyum, mengatakan jika dia baik baik saja lewat tatapan mata nya. “Tugas nya masih lama, lo nggak perlu kerjain sekarang.” “Kalau nggak gue kerjain sekarang, nanti malah tugas nya numpuk!” Nanda mengerang saat buku yang dia pegang di rebut paksa oleh Raga. Menatap tidak percaya pada Raga yang langsung menutup buku nya tanpa membuat lipatan terlebih dahulu. “Gue lupa tadi halaman berapa?!” Raga mendengus. Tiduran di samping Nanda dengan buku yang tadi dia rebut sebagai bantal nya. “Halaman 374.” Nanda meletakkan laptop nya di bawah. Merentangkan tangan nya tinggi tinggi menikmati semilir angin yang selalu bisa menyegarkan hati. Mata nya memandang keseliling. Banyak orang yang duduk di rumput di bawah pohon tanpa alas bersama dengan teman mereka, bercanda lalu tertawa tanpa mempedulikan ujian yang sudah ada di depan mata. “Gue nggak ngerti sama mereka yang masih bisa santai.” Nanda bergumam. Menumpukan tangan nya ke belakang, Nanda menoleh menatap Raga. Jantung nya sedikit berdesir saat memergoki Raga menatap nya sedari tadi. “Kadang santai emang di perlukan.” Raga menjawab, masih dengan mata menatap Nanda intens. Tidak terganggu dengan gerak gerik Nanda yang merasa risih di depan nya. “Bisa berhenti liatin gue?” “Ini mata gue, terserah gue mau ngapain.” “Masalah nya yang lo liatin itu gue! Jadi berhenti liatin gue kayak gitu.” “Gue nggak mau!” Nanda menimpuk wajah Raga dengan buku tulis nya. “Nyesel gue milih lo jadi temen satu kelompok gue.” Raga tertawa, menyingkirkan buku milik Nanda. Dia merubah posisi tidur nya menjadi menyamping, menatap Nanda dengan tangan yang dia gunakan untuk menumpu kepala nya. “Jadi lo lebih milih satu kelompok sama Tsuki?” Nanda menggeleng cepat, dia menatap Raga dengan ekspresi ngeri. “Bisa gila gue kalau sekelompok berdua sama itu bocah doang!” “Lo tau gue harus perang dulu sama Rega biar bisa sekelompok sama lo.” “Terus?” “Cuman memberitau. Biar lo nggak lupa bilang terimakasih.” Nanda tersenyum jahil. “Ngemis ucapan makasih ini?” “Nan?” Raga memanggil. Nanda menoleh, sepenuh nya duduk bersila di hadapan Raga. “Apa?” “Yang lo suka dari Gilang apa?” Nanda terdiam. Lalu tersenyum tipis. “Gue suka semua hal tentang dia.” “Yang nggak lo suka?” “Gue suka semua sifat buruk dan baik di diri kak Gilang. Dia terima gue apa ada nya, jadi gue harus terima dia apa ada nya juga.” “Meski dia ninggalin lo?” Senyum Nanda memudar. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang ini, karena dia dengan jelas tidak bisa menjabarkan kenapa Gilang meninggalkan nya sendirian disini, tanpa kepastian. Raga memperhatikan nya. Bagaimana pupil mata Nanda bergerak gelisah, seakan dia sudah ragu dengan apa yang dia yakini selama dua bulan terakhir. Lalu saat Nanda menghembuskan napas lelah, Raga tau Nanda sudah membuat keputusan untuk mempercayai Gilang lagi. “Liat gue coba.” Nanda menurut. Menunduk menatap Raga dengan tangan yang menompang dagu nya. Seakan lupa diri, Raga terdiam. Nanda cantik, semua laki-laki mengakui itu. Banyak orang yang hendak mendekati Nanda, tapi selalu terurungkan saat Nanda selalu di kelilingi si kembar Rega dan Raga. Yang bertahan dan mau mendekati Nanda lebih jauh hanyalah Arlan, senior nya di fakultas kedokteran. “Liat gue lebih dalem.” Nanda tersenyum tertahan. Dia mengikuti apa yang Raga katakan. “Ada cowok ganteng tepat di depan mata lo, kenapa lo harus terikat sama cowok b******k berkedok dokter itu?” Nanda terbahak. Mendorong dahi Raga sampai dia jatuh terlentang. “Ganteng darimana nya?!” “Banyak noh perempuan yang ngejar gue!” “Mereka buta.” Raga menyentuh d**a nya pelan. Menatap Nanda sambil berbisik mendramatisir.  “Cinta itu buta, Nan. Kayak cinta lo ke Gilang padahal dia nya udah minggat terus nggak ada kabar.” “Lo kok jahat sih ngomong nya!” “Kenyataan neng! Itu anak kan udah nggak peduli sama lo lagi.” “Dia peduli-“ “Daripada sama Gilang mending sama gue.” Raga menyela, dia merubah posisi nya menjadi duduk bersila di depan Nanda. “Mau jadi cewek gue?” Nanda tertawa. Bertepuk tangan random lalu menepuk pundak Raga pelan. “Lo kalau bercanda jangan keterlaluan dong. Duh, ngakak kan gue.” Raga meraih tangan Nanda, menatap nya dalam, dia tidak tertawa bahkan saat melihat Nanda terbahak di depan nya. “Gimana kalau gue serius?” Nanda ikut terdiam. Menatap Raga dengan sorot serius. “Lo tau hati gue buat siapa.” “Lo juga tau ada kemungkinan dia nggak bakalan balik buat lo.” “Sorry.” Nanda bergumam. Merapikan barang nya dan memasukkan laptop nya ke dalam tas. Meninggalkan Raga yang masih terduduk sendiri dengan mata yang mengawasi punggung Nanda. Tersenyum miris, Raga bergumam. “Kali pertama gue di tolak sama cewek.” *** “Tsuki! Jangan makan bakso gue dong! Ambil noh punya nya Rega!” “Kok gue sih? Noh Haru! Dia kan beli 2 porsi!” “Eh eh eh!! Enggak ya! 2 porsi bakso itu kurang buat gue! Ini kan hari bebas diet gue! Nggak ada yang boleh ngambil!” “Cuman dikit! Minta bakso lo, Nan!” “Kan gue udah bilang minta punya Rega!” Raga berdecak. Posisi duduk nya yang berada di tengah tengah kekacauan membuat nya tidak bisa menikmati makanan nya. Kesal, Raga mengangkat tangan nya. “Pak! Bakso kosongan 2! Nggak usah di kasih bakso yg gede, kecil semua aja pak!” “Siap, Den!” Suara gaduh sudah tidak terdengar lagi. Mereka ramai ramai melihat Raga secara bersamaan. “Masalah selesai kan? Bisa kalian duduk dan nggak usah ribut lagi?! Kita di kantin ini! Malu sama fakultas hukum!” Mereka memang berada di kantin kampus yang tempat nya berada di tengah tengah gedung fakultas kedokteran dan fakultas hukum. Kelakuan FK yang terlalu bar-bar kadang mengundang gosip dan menjadi bahan pergunjingan bagi FH. Mengatai mereka seperti binatang yang tidak memiliki aturan dan sopan santun sama sekali. “Ngapain malu? Hak gue dong mau ngapain aja!” Tsuki membalas ucapan Raga. Dia duduk kembali di kursi nya, lalu menoleh ke belakang dimana FH sedang berbisik sambil memperhatikan mereka. “Apa lo?! Minta di colok itu mata?!” “Apa gue bilang?! Semua perempuan jepang yang ada di FK itu bar-bar semua. Beda sama tokoh anime atau aktris jepang yang sering lo tonton di youtube.” Leno, perempuan bermulut amis itu sudah mulai mencibir. Tangan nya dengan anggun menyisir rambut nya, lalu menyibakkan kembali ke belakang. “Iri neng?” Keanu yang duduk di samping Ashi berucap dengan nada menyindir. Posisi duduk nya yang memang menghadap ke meja FH tidak membuat nya harus bersusah payah untuk menoleh. “Iri kenapa? Nggak guna iri sama-“ “Iri karena cewek Jepang lebih cantik dari cewek tukang nyinyir kayak kalian.” Keanu menyela, di sambut dengan suara tawa dari FK saat Tsuki dengan sok berdiri dari kursi sambil menyelipkan rambut nya di belakang telinga, sok cantik. “Cewek Jepang emang menarik, tapi cewek lokal lebih baik!” “Eh! Kita di katain menarik dong, Shi!” Leno tersenyum miring. Bergumam, tidak berharap mereka akan mendengar apa yang dia katakan. “Menarik buat di ajak ke hotel.” Nanda berdiri. Keluar dari dempetan Tsuki dan Haru lalu berjalan ke meja FH. Nanda tersenyum, menatap ramah pada tiga perempuan FH. “Boleh gue bawa sambel nya? Di meja gue habis, dan gue terlalu males buat teriak minta sambel ke mamang. Boleh ya?” Leno tersenyum balik, menyodorkan mangkuk kecil berisi sambel yang ada di samping nya. “Ambil aja, dihabisin juga nggak pa-pa. Kan kalian punya obat buat diare.” “Duh, baik banget sih….” Nanda duduk di samping teman nya Leno, tersenyum manis kepada nya sebelum kembali menatap Leno. Tangan nya membuka tutup mangkuk, memainkan sambel dengan sendok kecil yang sudah disiapkan. Lalu dengan bruntal menumpahkan isi nya yang kebetulan tinggal sedikit ke arah Leno, tepat di baju bagian depan nya, membasahi tas bermerek yang memang Leno pangku. “Aduh, sorry! Tangan gue kepeleset!” Leno menjerit tertahan. Segera berdiri mengamankan tas nya, dia menatap Nanda berang. “Maksud lo apaan sih?!” “Sorry. Tas nya mahal ya? Ke hotel gih, biar bisa di beliin tas baru sama sugar daddy lo.” Nanda balik menatap nya. Dia tidak terima saat teman teman nya di hina dengan cara yang tidak semesti nya. Nanda berbalik, menghampiri teman teman nya yang sudah bersorak kegirangan. “Maksud lo sugar daddy yang ninggalin lo dan lebih milih kuliah di luar negeri itu?” Nanda menghentikan langkah nya. Teman teman Nanda sudah memudarkan senyum nya, mereka serempak menatap Leno dengan sorot tidak suka. “Abis di tinggalin terus nggak ngebiarin cowok lain deket sama lo. Setia banget!! Kayak dia nggak sadar kalau dia udah di buang!” Nanda berbalik. Tangan nya tergenggam erat di samping badan nya, rahang nya terkatup, menahan amarah yang tiba-tiba memuncak. “Dia cowok gue, wajar dong kalau gue setia.” Leno tersenyum meremehkan, tau jika Nanda terpancing dengan apa yang dia katakan. “Ah,… Daddy sugar jadi pacar, romantis banget!!!” Nanda hendak bergerak maju menyerang Leno, tapi terhenti saat Raga sudah berdiri di depan nya menghalangi. Kedua tangan Raga terangkat, menutup telinga Nanda di masing masing sisi. Dia mendekatkan wajah nya, hampir dengan posisi memeluk. “Jangan di dengerin!” Nanda mendongak, menatap Raga dengan mata memerah. “Dia ngehina gue….” “Abaiin. Anggep aja angin lalu.” Air mata Nanda mengalir. Bibir nya bergetar. “Dia ngehina temen gue.” Raga semakin merapatkan tubuh nya, bergerak memeluk Nanda. Nanda sedang dalam emosi yang baik, dia sering marah marah tak jelas hanya karena masalah kecil, dia sering menangis hanya karena ada seekor anak kucing sendirian mencari induk nya, dia sering melamun dan tertawa saat mereka memergoki nya. Raga tau bagaimana perasaan Nanda. Raga juga tau bagaimana perasaan Nanda kepada Gilang. Raga tau jika dia tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk menggantikan Gilang di hati Nanda. Raga tau, tapi akal sehat nya terus meminta nya untuk mendekati Nanda, berharap ada celah dimana dia bisa menerobos paksa. Benar apa yang orang orang katakan. Cinta itu buta. Tidak peduli jika orang yang kita cintai malah pergi memilih orang lain, kita masih mencintai nya. Bohong jika Raga bilang hati nya tidak sakit melihat Nanda terus memikirkan Gilang. Tapi apa yang bisa Raga lakukan? Dia tidak bisa berterus terang pada Nanda untuk membalas perasaan nya. Melihat Nanda yang seperti ini terus membuat Raga ingin melindungi nya. Merengkuh tubuh rapuh nya, tidak mempedulikan apa yang orang lain katakan tentang harga diri nya. Tangan Raga meraih belakang kepala Nanda, mendekatkan Nanda semakin dalam di d**a nya, berbisik lirih di telinga nya. “Ada gue….” “Bucin.” Leno hanya bergumam lirih, tapi Raga yang posisi nya lebih dekat membuat nya bisa mendengar apa yang perempuan itu ucapkan. Geram, Raga meraih botol kecap dengan satu tangan yang masih merengkuh Nanda, lalu dia lemparkan botol kecap tepat di wajah Leno. “Bacot!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN