Chapter 18

1505 Kata
Gilang menepati janji nya untuk masih menghubungi Nanda dalam sebulan belakang. Nanda masih mengingat seberapa antusias Gilang saat menceritakan bagaimana bekerja disana. Mengatakan jika banyak pengalaman yang bisa dia ambil. Namun saat menjelang pendaftaran kuliah, Gilang makin susah untuk dihubungi. Mereka bahkan hanya berbincang satu jam di telepon setelah Gilang selesai dengan pendaftaran kuliah nya. Lalu setelah itu, Gilang sama sekali tidak menghubungi nya. Nanda masih ngedumel di kamar. Kalung yang terbuat dari potongan kardus bekas tersemat di leher nya. Seragam SMA nya yang masih terlihat longgar di tubuh nya terhias pita warna warni di sepanjang baju bagian lengan nya. Nanda berdecak melihat cermin. Melihat Tsuki yang mengucir rambut nya menjadi 18 bagian dengan pita merah yang melambangkan fakultas kedokteran. Ingin sekali dia mengubur orang yang memberikan ide mengucir rambut sesuai dengan tanggal lahir mereka. Rasa kesal nya semakin bertambah saat melihat Tsuki hanya mengucir 2 rambut nya. Rasa iri menyergapi nya. Andai saja dia lahir 16 hari lebih awal. “Tuker nama yuk.” Nanda menyarankan. Tsuki menoyor belakang kepala Nanda sebagai respon. Tsuki mengambil tas nya dan keluar dari kamar. Meninggalkan Nanda yang masih sibuk mengikat tali sepatu nya. Tidak lupa dia mengambil tanda nama dari kardus bekas dan dia kalungkan di leher nya. Menghela nafas, Nanda mencibir pelan di depan kaca sebelum mengikuti jejak Tsuki. *** Mereka terlambat memasuki kampus. Gerbang memang masih terbuka lebar. Apalagi banyak mahasiswa baru seperti mereka yang masih berkeliaran di depan nya. Tapi tidak untuk falkutas kedokteran. Mereka sudah berbaris di lapangan dengan senior yang berdiri di hadapan mereka dengan muka masam. Lalu saat mata salah satu senior bertatapan dengan Nanda, dia mengulurkan tangan nya, meminta mereka untuk mendekat. Nanda menurut, dia menyeret Tsuki yang berjalan malas di belakang nya. Saat sudah sampai di depan hadapan senior, Nanda menunduk. Saat tak mendapatkan amukan, Nanda mendongak. Mendapati salah satu senior dengan rambut panjang menatap nya. “Ngapain disini? Mundur.” Nanda menurut lagi. Dia menyeret Tsuki menuju barisan paling belakang. “Bahan makanan yang gue minta kemarin udah dibawa?” Senior bertanya. Mahasiswa baru mengangguk. “Beras, gula sama buku taruh di keranjang. Kalau udah ikut gue ke kantin belakang. Ah, buat dua orang yang telat tadi, kasih gue duit 10 ribu buat kompensasi.” Senior langsung pergi setelah Nanda dan Tsuki menyerahkan uang nya. Diikuti maba yang sudah meletakkan bahan di keranjang yang disediakan. Kantin sudah sepi. Mungkin karena mereka kesana setelah mahasiswa sibuk dengan tugas ospek mereka masing masing. Hanya fakultas kedokteran saja yang ada disana. Jumlah mereka yang bisa dibilang tidak sedikit membuat kantin penuh. Apalagi dengan senior yang ikut bergabung. Camilan sudah tersaji di atas meja. Ada gorengan, sosis goreng, ciki beragam merk, dan cireng yang sudah dilengkapi dengan saus nya. “Ehm.” Para senior berdiri di kursi mereka. Duduk mereka terpencar, tidak bergerombol seperti senior kebanyakan. Bahkan Nanda bisa memastikan jika di satu meja paling tidak ada dua senior disana. Tapi berbeda dengan meja nya yang hanya ada satu senior di depan nya. “Kita udah tau nama kalian lewat tanda nama yang kalian pakai. Jadi, gue sebagai ketua fakultas semester 3 ngucapin selamat datang buat kalian. Nama gue Sarah Prasetya, panggil aja Sarah, jangan panggil sayang karena gue nggak bakalan noleh. Dan senior yang lain, kalian bisa kenalan sendiri.” Sarah berbicara melalui mengeras suara di tangan nya. Lalu setelah itu dia turun dari kursi nya dan duduk di sana, diikuti senior yang lain. Merasa lupa mengatakan sesuatu, Sarah kembali berdiri. “Ini cemilan buat kalian. Jangan bilang makasih, ini pake duit kalian yang gue minta kemarin. Dimakan, jangan di sisain.” Nanda mengangguk. Dia mengerti setelah kemarin menduga hal yang tidak tidak saat mereka meminta uang kepada mahasiswa baru. Satu meja paling tidak terisi 7 maba dan 2 senior. Meja yang ditempati Nanda hanya berisi 9 orang karena salah seorang senior datang terlambat karena masih harus mengantar keranjang tadi menuju aula. Posisi duduk Nanda di tengah, Tsuki di samping kiri nya dan senior di samping kanan nya. Satu perempuan disamping Tsuki dan satu cowok di samping senior. Di depan nya terisi 2 perempuan dan 2 cowok. “Nama gue Keanu.” Senior lebih dulu memperkenalkan diri nya. Mulut nya masih sibuk mengunyah bakwan. Mata nya menatap sekeliling, menatap mereka satu persatu. “Jangan kalian kira kalau udah pake tanda pengenal kalian nggak perlu kenalan sama temen kalian sendiri.” Nanda tersadar, dia menatap ke depan, menatap satu satu teman baru nya. “Gue Nanda. Samping gue Tsuki.” “Gue Ana.” “Rega.” dua orang di barisan Nanda sudah memperkenalkan diri. Kini mereka serempak menatap ke depan, meminta empat orang di depan mereka memperkenalkan diri. “Ashi.” si gadis Jepang bicara. “Haru.” “Kenan.” “Raga, abang nya dia.” Raga menunjuk ke depan dengan garpu di tangan nya, menatap Raga malas sebelum kembali berkutat dengan makanan nya. “Kalian nggak mirip.” Ashi nyeletuk. Tatapan ingin tahu nya melirik Raga dan Rega bergantian. “Nggak identik. Inget aja, Rega yang lebih cakep.” Rega menjawab. Pembawaan nya yang ramah membuat suasana di meja tidak secanggung tadi. “Cakepan juga Raga.” Ashi menyahut, lalu mendapat pelototan tidak terima dari Keanu. “Gue Arlan.” seseorang menepuk bahu Haru dan Kenan. Meminta mereka untuk bergeser, lalu setelah duduk dia langsung mengambil cireng langsung dengan tangan nya. Setelah dia memakan cireng nya, dia menatap maba di meja nya. “Wajah lo ganggu, bisa minggir?!” Arlan menatap Keanu sekilas, lalu dia menatap Ashi. “Kenapa lo doyan sama orang kayak gini sih, Shi?” “Di pelet gue.” Ashi menyahut seadanya. Tidak terganggu dengan tatapan semua orang yang tertuju pada diri nya, bertanya lewat tatapan mata nya bagaimana mereka bisa saling mengenal bahkan saat Ashi masih maba seperti mereka. “Bocil?” Arlan berucap. Semua orang di meja menatap nya, tidak tau siapa yang dipanggil. “Lo!” Arlan menunjuk Nanda. “Gue?” Arlan mengangguk. “Bocil yang ada di Banjarnegara.” “Huh?” “Relawan di Banjarnegara dulu.” Tsuki bantu mengingatkan. “Nah, Sizu aja inget.” “Tsuki, panggil Tsuki. Gue udah terbiasa sama panggilan ini bocah.” Tsuki menunjuk Nanda, masih dengan mata yang tertuju pada Arlan. “Oke. Lo nggak inget gue beneran?” Arlan memastikan sekali lagi. “Inget, si bocah rame.” “Mon maaf, gini gini gue masih senior lo. Sopan dikit.” “Nggak guna sopan sama lo.” Arlan menoyor kepala Keanu, dia berdecak pelan. “Lo yang nggak di inget. Diem!” Arlan menyerang balik. Keanu meletakkan garpu nya geram, dia menatap tajam Arlan. “Keanu ikut gue jadi relawan. Dia yang jadi ketua tim di bawah nya dokter Gilang.” Arlan menjelaskan saat melihat tatapan tanya dari Nanda. “Dia t***l, nggak usah lo jelasin dia juga nggak bakalan ngerti.” Tsuki menimpali, sedetik kemudian dia mendapat cubitan kecil di pinggang. “Gue udah asah otak sebulan terakhir. Mohon maaf, otak gue nggak tumpul lagi.” “Lo asah juga nggak guna, nggak bakalan inget.”  “Inget! Si cowok kacamata semester 3!” Nanda ngegas, raut wajah nya tidak biasa dengan mata melotot ke arah Tsuki. Tsuki mengusap wajah Nanda dengan satu tangan, lalu kembali memakan cemilan di hadapan nya. “Btw, kita makan disini nggak dimarahin ketua nya?” Raga bertanya. Si kembar dengan wajah yang berbeda. Raga dengan sifat yang lebih pendiam dan lebih tau keadaan sekitar. “Liat ke belakang. Ketua nya malah enak enakan makan disana.” Arlan menunjuk ke belakang. Sarah duduk di meja pojok, berbaur dengan mahasiswa baru lainnya. “Nggak takut fakultas yang kena sasaran jelek nya?” “Jelek darimana?! Kedokteran yang paling rajin. Absen, bahan ospek, sama visi misi udah dilakuin 2 jam yang lalu. Cuman ada dua orang yang nggak ngerasain itu tadi.” Nanda nyengir mendengar sindiran Keanu. “Kak Gilang gimana?” Nanda terdiam mendengar pertanyaan Keanu. “Ke Oxford.” “Ngapain?” “Kuliah lah bego.” Ashi bergumam, tangan nya sibuk dengan game di ponsel nya. Keanu mengabaikan nya. "Terus kerja nya?” “Pindah kesana.” “Lo ditinggal berarti?” Tsuki menoleh pada Rega. Menatap nya tajam, memperingati. Meminta nya untuk lebih menjaga ucapan nya. Rega menurut, menutup mulut nya dengan gerakan mengunci. “Dia mau fokus lanjutin s2, nggak mau diganggu dulu.” “Kalian putus berarti?” Arlan bertanya. Tsuki berdecak, dia menatap semua orang di meja nya. “Bisa nggak kalau tanya itu yang berbobot sedikit?” Tsuki masih tidak suka mengingat bagaimana Nanda yang pulang di hari itu dengan mata sembab dan wajah yang berantakan. Dia bahkan tidak berani bertanya dan hanya menepuk punggung Nanda pelan saat perempuan itu mulai menangis lagi. Tsuki bahkan tidak akan segan untuk memukul wajah si dokter agar tau posisi nya. Mereka tidak berpacaran. Hanya menjalani hubungan tidak jelas dengan dasar suka sama suka. Lalu si cowok dengan enteng nya meminta Nanda untuk tidak menghubungi nya lalu pergi keesokan hari dan meminta menunggu selama 4 tahun tanpa kejelasan. Jika dia menjadi Nanda, akan dia balas dengan menikahi cowok lain. Lalu saat Gilang pulang, dia menyadari jika dia salah dengan meninggalkan Nanda sendiri. “Ar, jangan mulai.” Ashi berucap pelan di tengah keheningan. “Huh?” “Kenapa lo selalu suka sama perempuan yang jelas jelas nggak tertarik sama lo?” Arlan gelagapan. Ucapan Ashi yang sedikit blak-blakan membuat nya salah tingkah. “Gue lebih suka Nanda sama Raga daripada cowok otak nggak guna kayak lo.” Tsuki menimpali. Raga yang nama nya ikut terseret hanya menaikkan alis nya. “Gue senior lo ya-!” “Nggak guna aja banyak gaya.” Ashi bergumam. Dia melirik pada Tsuki, menaikkan dagu nya meminta persetujuan. Tsuki tersenyum menanggapi nya. “Ini diskriminasi nama nya.” Arlan mencoba membela diri nya sendiri. “Baka!” “Aho!” Tsuki dan Ashi berbicara bersamaan. Mereka tersenyum  bersamaan dan saling mengadu tinju. “Cewek Jepang gitu ya?! Nggak tau-“ Ucapan Arlan terganti dengan pekikan keras karena Keanu menendang tulang kering nya keras di bawah meja. Keanu hanya memainkan ponsel nya, bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa. “Nu, lo-“ “Diem!” Ashi memerintah, dia menatap Keanu. “Nyebut gue, Shi! Salah apa gue nyai….” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN