Hari keberangkatan Gilang…
Gilang tersenyum saat Vero menggandeng lengan kanan nya dan ibu yang menggandeng lengan kiri nya, sedangkan koper bawaan nya sedang di bawa ayah yang berjalan di belakang mereka. Telinga kiri nya terpasang earphone yang tersambung dengan ponsel. Nanda tidak mengantarnya menuju bandara. Kata nya tidak ingin menangis bombai dengan Gilang yang pergi membawa koper meninggalkan nya. Nanda hanya menunggu di kamar, menangis tertahan saat mendengar Gilang berbicara dengan keluarga nya.
“Abang kapan pulang?” Vero mendongak, menatap Gilang dengan mata memerah. Satu satu adik nya itu sudah merengek sejak dari rumah tadi, meminta Gilang tidak pergi dan harus memilih tinggal bersama keluarga nya.
“4 tahun lagi..” Suara tangis gaduh terdengar di telinga Gilang. Bukan milik Vero atau pun ibu nya, tapi milik Nanda. Pujaan hati nya itu bahkan sudah meraung memanggil nama nya.
“Pas liburan nggak bisa pulang?” Ibu menghapus air mata nya. Menatap si sulung dengan pandangan berharap. Gilang menggeleng pelan, dia tersenyum tipis. “Orang sakit bisa datang kapan aja, nggak ngaruh itu liburan apa enggak.”
“Yakin kamu nggak mau pulang?” Ibu melepaskan genggaman tangan nya. dia meraih wajah Gilang, merekam setiap detail wajah putra nya di dalam ingatan.
“Kalau aku pulang aku takut nanti nggak bisa kesana lagi. Terus kuliah aku gimana?”
“Kuliah disini, kan banyak universitas yang bagus. Kamu nggak harus kesana, kuliah ke luar negeri tapi jauh dari orang rumah itu guna nya apa?” Gilang mengecup kening ibu nya, di susul dengan meraih tangan ibu, mengecup punggung tangan nya lama. “Aku kan cari pengalaman, bu. Mumpung ada kampus ternama yang mau nerima aku, kenapa nggak aku ambil?”
“Jaga kesehatan disana. Jangan telat makan, jangan telat tidur, kalau waktu nya istirahat ya istirahat. Jangan di rumah sakit terus, jangan kerja berlebihan. Kalau sakit jangan di paksain, musim dingin nanti jangan lupa beli baju hangat. Jangan lupa-“
Gilang membawa ibu ke dalam pelukan nya. “Nggak bakalan lupa aku, bu.”
Gilang berbalik menghadap Vero, mengacak rambut adik nya. “Aku berangkat dulu, jangan nakal kalau aku tinggal!”
Gilang berjalan ke arah ayah nya. Mengambil alih koper nya lalu mencium punggung tangan ayah. “Aku berangkat dulu, yah.”
Gilang menarik koper nya menuju antrian pemesanan tiket. Tangan nya meraih satu earphone dan memasang nya di telinga kanan.
“Jangan pergi….” Suara rengekan Nanda terdengar manis di telinga Gilang. Gilang tersenyum, berdeham merespon rengekan Nanda.
“Lo nggak bisa telpon gue nanti? Seminggu sekali nggak pa-pa! Gue tungguin!”
“Tungguin gue pulang 4 tahun lagi.” Nanda menangis, suara isakan nya terdengar lebih kencang dari yang sebelum nya. “Kelamaan! Telpon gue tiap liburan!”
“Nggak bisa!”
“Kenapa?”
“Gue nggak bisa fokus kerja nanti kalau masih hubungin lo terus.”
“Kirim pesan nggak bisa?”
Gilang reflek menggeleng. “Enggak.”
“Kak….”
“Hmm?” Gilang berdeham. Kaki nya melangkah pelan. Dia menyingkir, membiarkan orang yang berjalan di belakang mendahului nya.
“Nggak takut kangen gue?”
“Engga k.” Gue bahkan udah kangen sama lo.
“Jahat!”
Mereka sama-sama terdiam. Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit kedepan. Menerawang jauh. Gilang memanggil. “Nan….”
“Apa?”
“Gue sayang sama lo….” Gilang tersenyum saat tidak mendapat jawaban dari Nanda, yang bisa dia dengar hanya suara tangisan Nanda yang semakin kencang.
“Gue cinta sama lo….” Pertama kali nya Gilang mengatakan cinta kepada Nanda kenapa harus di saat seperti ini? Di saat mereka akan berpisah dan tidak akan bertemu selama beberapa tahun ke depan. Di saat perasaan Nanda sedang kacau karena Gilang yang memberantakan nya. Gilang menatap sekeliling, melihat banyak orang yang berlalu lalang di depan nya dengan koper di tangan mereka. “Lo tau lo segala-gala nya buat gue.”
“Lo tau nggak ada yang bisa gantiin lo di hati gue.”
“Lo tau cewek di luar sana nggak ada apa-apa nya di bandingkan lo di mata gue.”
“Lo tau gue nggak bisa apa-apa tanpa lo.”
“Lo tau semua tentang gue dan gue cuman mau lo tetep di ada di sisi gue.”
Gilang menengadah. Menjaga agar air mata nya tidak jatuh saat Nanda terus bergumam ‘Jangan pergi’ pada nya.
“Jadi, Nan. Tunggu gue, gue pastiin gue bakalan balik ke lo.”
***
“Nama nya Gilang Mahendra. Dokter baru yang saya ceritakan untuk bertugas di UGD. Dia dari Indonesia, pindah kesini untuk meneruskan pendidikan nya dan akan bekerja disini untuk beberapa tahun kedepan. Berbaik-baik lah dengan nya….” Gilang membungkuk sedikit saat direktur rumah sakit secara khusus memperkenalkan diri nya. “Mohon bantuan nya.”
Dokter laki-laki menatap Gilang tidak suka, mengira jika Gilang bisa diterima di rumah sakit ini melewati jalur dalam, terlebih direktur rumah sakit secara sukarela menghabiskan satu jam sibuk nya hanya untuk memperkenalkan Gilang. Berbeda dengan dokter perempuan, mereka menatap minat pada Gilang. Menggoda nya dengan mengedipkan mata saat tatapan mereka bertemu dengan Gilang. Kemeja katun bewarna cream polos, celana jins hitam yang terlihat longgar di kaki nya, belum lagi jas dokter baru yang Gilang pakai menjuntai sampai paha, membuat mereka terus mengagumi style Gilang.
“Jangan terlalu keras pada nya. Jangan meremehkan nya dengan memberi Gilang pasien yang bisa di tangani anak magang. Gilang memang masih muda, tapi dia lebih dari cukup untuk bisa bersanding dengan kalian.” Direktur rumah sakit dengan perut buncit itu menepuk punggung tegap Gilang. Dia berlalu setelah memberi wejangan pada dokter senior, menceramahi nya habis-habisan walau sesekali menatap genit dokter dan perawat perempuan ber-rok pendek. Tipikal laki-laki mata keranjang.
“Jadi, sudah berapa lama jadi dokter?” Dokter Sam selaku ketua penanggung jawab UGD bertanya, ingin tau seberapa jauh kemampuan yang Gilang miliki.
“3 tahun termasuk koas.” Gilang melihat alis dokter Sam berkerut. “3 tahun di UGD?”
“Baru beberapa bulan. Tapi saya sering membantu dokter di UGD.”
“Sudah berapa kali kamu memimpin operasi?”
“Sehari bisa 3 kali operasi jika UGD ramai.”
Dokter Sam menatap Gilang curiga. “Kamu nggak bohong supaya bisa dapat ijin buat mimpin operasi di sini secepat nya kan?”
Gilang tersenyum tipis. “Saya nggak punya pemikiran begitu.”
“Saya nggak suka sama orang yang banyak omong. Jadi, kamu bisa mengikuti perawat Inte untuk menangani pasien lebih lanjut.”
Gilang mengangguk. Pasrah saat Inte –perawat yang dokter Sam maksud- sudah berjalan mendekati nya dan menggandeng lengan Gilang tanpa malu. “Saya Inte. Baru 3 tahun disini, jadi saya masih terbilang muda. Baru 26 tahun. Umur kamu berapa?” Inter bertanya. Tangan nya dengan telaten mempersiapkan pengobatan dan menaruh nya di troli, mendorong nya pelan ke salah satu pasien yang sudah menunggu di ranjang paling pojok. Gilang mengikuti nya. Menjaga sopan santun, Gilang menawab pertanyaan Inte. “24 tahun.”
“Loncat kelas?”
Gilang tersenyum. “2 kelas.”
Inte mengangguk sok mengerti. Dia membiarkan Gilang duduk di samping pasien. Meletakkan kain dengan lubang di tengah nya di lengan pasien yang terluka, setelah itu membersihkan nya dengan alkohol sebelum menjahit nya. “Bius.” Tangan Gilang terulur. Inte yang mengerti langsung memberikan suntikan ke tangan Gilang. Memperhatikan bagaimana jari jari Gilang dengan mantap menyuntik lengan di sekitar luka.
Menyerahkan benang jahit nya, Inte memegang gunting. “Cut.”
“Cut.” Inte menggunting benang nya setelah Gilang memerintahkan.
“Kamu sering latihan jahit waktu di Indonesia?” Inte kagum saat Gilang melakukan nya dengan cepat, jahitan nya rapi, cara Gilang meliukkan jari nya terlihat terampil. Gilang menggeleng. “Saya nggak punya waktu buat latihan. Banyak orang terluka di UGD dulu.”
“Lalu darimana kamu punya kemampuan seperti ini?” Gilang menaikkan benang nya ke atas, menunggu Inte untuk menggunting nya. “Praktek langsung. Pengalaman saya yang buat saya bisa sejauh ini.”
Gilang meletakkan alat jahit nya. menutup luka dengan perban lalu tersenyum pada pasien. “Jangan sampai basah buat 4 hari ke depan. Usahakan ganti perban nya 2 kali sehari. Minggu depan kamu bisa kesini buat lepas jahitan nya.”
Gilang berdiri. Mengikuti Inte yang mendahului nya menuju pasien selanjut nya. “keluhan d**a sakit, sulit bernapas, pencernaan tidak lancar, ada bisul di p****t nya. Jadi, yang perlu kamu lakuin cuman menghilangkan bisul nya.”
Gilang menyerngit. Pasien laki-laki yang ada di hadapan nya sudah berbaring tengkurap dengan celana yang sudah hilang entah kemana, memperlihatkan tonjolan besar di p****t nya. Menurut. Gilang mulai melakukan tugas nya. “Nggak ada anak magang emang?”
“Ada. Kenapa?”
“Pasien yang kayak gini biasanya di urus sama anak magang.”
“Salah satu dari mereka ada yang nggak masuk. Jadi kamu yang gantiin tugas nya. dokter Sam yang bilang, saya cuman nurutin apa yang dia suruh.”
Gilang tersenyum manis pada Inte. “Nggak pa-pa. Kamu nggak usah ngerasa bersalah sama saya.”
Tersipu malu, Inte sok sibuk membenarkan letak obat di troli nya. “Boleh kita nggak usah pake bahasa sopan? Lagian kita bakalan kerja sama buat 4 tahun ke depan.”
Gilang mengangguk. “Boleh.”
“Kamu sudah cari apartemen?”
“Sudah. Nggak terlalu jauh dari kampus sama rumah sakit. Jadi nggak ada masalah sekalipun aku harus jalan.”
“Kamu ambil shift malam? Yakin nggak ambil siang aja?”
“Aku butuh waktu buat belajar, jadi terpaksa ambil shift malam.”
“Sudah punya pacar?”
Gilang termenung. “Mau di panggil pacar juga belum resmi, mau di panggil bukan pacar juga kita udah deket.”
“Dia nggak marah waktu kamu bilang lanjut kuliah disini?”
Gilang tertawa kecil. “Dia nangis terus sehari sebelum aku berangkat. Kemarin aja dia nangis lagi waktu aku ngabarin udah sampai disini.”
“Pacar kamu nggak ada niatan buat nyusul kamu kesini?”
“Kayak nya enggak. Btw, dia belum jadi pacar ku.”
Gilang selesai dengan urusan nya. Berjalan menuju meja informasi dengan Inte yang berjalan mengikuti nya. “Kamu ambil libur hari apa?”
“Senin. Biar bisa istirahat total di rumah.”
Mendorong troli nya kembali ke tempat nya semula. Inte berdiri di dekat Gilang dengan tubuh menyamping, memperlihatkan tubuh nya yang terbalut seragam ketat. “Aku juga ambil libur senin, boleh aku main kesana?”
“Boleh, ajak temen kamu yang lain. Aku bisa ngadain pesta kecil kecilan.”
“Bukan itu maksud ku.” Inte menggeleng. “Boleh aku ke apartemen mu? Sendiri? Cuman aku, nggak ada yang lain.”
Menimang nimang, Gilang mengangguk. “Boleh.”
“Nginap boleh?”
Gilang menyerngit. Dia menatap Inte bingung. “Ngapain?”
“Bermalam. Banyak yang bisa kita lakuin disana.”
Gilang mendengus. Tau ke arah mana pembahasan yang Inte maksud.