Ini sudah tiga bulan sejak dia berada di Inggris. Sudah dua bulan sejak dia menjalani aktivitas pendidikan nya. Dan sudah dua bulan juga dia tidak menghubungi Nanda. Rindu, tentu saja. Gilang sangat ingin menghubungi Nanda, mendengar suara manis nya walau Gilang yakin dia akan mendengar suara amarah dan tangisan saat Gilang nekat menghubungi nya. Tubuh nya remuk. Seakan 3 bulan tidak cukup untuk tubuh nya terbiasa dengan kegiatan rutin yang Gilang jalani. Gilang terpaksa harus meminum berbagai vitamin untuk menjaga tubuh nya tetap vit. Memeriksakan tubuh nya saat sempat agar tidak menganggu aktivitas keseharian nya.
Gilang berbaring di ranjang saat tidak ada pasien darurat malam ini. Dia ingin memejamkan mata nya sejenak, tapi terus terganggu saat mendengar celotehan John, teman baru nya. “Dokter yang masuk kenapa cuman kita berdua?! Kemana dokter yang lain? Gimana kalau ada kecelakaan kontruksi seperti dulu? Kita cuman berdua loh ini! Kalau ada operasi darurat terus siapa yang bakalan ngurus UGD?!” John. Dokter berambut pirang dengan kulit bening itu terus berjalan mondar-mandir di hadapan Gilang.
Jengkel. Gilang meraih bantal di bawah kepala nya lalu melemparkan ke wajah John. “Bisa diem? Gue besok ada kelas pagi!”
Kelepasan, Gilang memakai bahasa Indonesia. John memutar bola mata nya, meraih bantal nya tadi dan balik melempar nya ke Gilang. “Pake bahasa Inggris. Hampir nggak ada yang tau apa yang kamu omongin!”
“Aku mau tidur.”
John mengendik. “Tidur tinggal tidur.”
“Kalau kamu berisik terus gimana aku bisa tidur?!” Gilang setengah berteriak. Dia turun dari ranjang, menghampiri perawat yang sedang bertugas. Meraih mouse dan mulai mencari data pasien milik nya. John mendekat. Ikut melihat data yang Gilang baca. “Data siapa?”
Tidak mendapat jawaban, John membaca nama data nya sendiri. Lalu mendorong kepala Gilang kesal. “Gilang Mahendra.”
“Kenapa?! Aku juga butuh pemeriksaan!”
“HB kamu turun drastis. Trombosit kamu hampir masuk ke zona danger, terus apa ini? Kamu minum obat tidur?!”
Gilang reflek menggeleng. “Enggak! Itu udah bulan lalu. Nggak tau kenapa masih ada di tubuh aku.”
John menyerngit. Dia mendekatkan mata nya ke layar. “Rusuk kamu retak?”
“Mungkin efek jatuh dari tangga kemarin. Masih sakit, tapi nggak terlalu.”
“Tangga apa?”
Gilang duduk di bawah meja informasi, mengeluarkan ponsel nya. “Tangga apartemen. Lift nya mati, aku terlalu mengantuk, jadi jatuh sedikit.”
Menghela napas pasrah. John ikut duduk di samping Gilang, mengintip layar ponsel Gilang yang memperlihatkan foto Gilang dengan perempuan berponi rata yang tersenyum manis. “Kalau kangen mending telpon aja.”
“Terlalu beresiko. Nggak mau.”
“Resiko apaan? Takut kamu bakalan nekat pulang kalau denger suara dia?”
“Itu tau.”
John mencibir. “Dasar b***k cinta.”
“Dia punya daya tarik sendiri, buat aku nggak bisa berkutik kalau berhadapan sama dia.”
“Maksud mu daya tarik dia masih terlalu kecil dan cocok buat jadi anak SMP?”
Gilang tertawa. “Itu salah satu nya. Tapi aku lebih suka liat dia ngomel terus marah-marah nggak jelas.”
“Tsundere?”
“Semacam itu.”
“Kenapa kamu nggak ngasih kabar dia kayak kamu ngasih kabar ke keluarga mu? Walau kamu cuman ngirim foto sama bilang kalau kamu oke.” John berkomentar. Dia sering memergoki Gilang mengirim pesan pada ibu nya berupa foto selfie dan sebaris kalimat yang John yakin berupa kabar nya selama disini. Walau setelah ibu nya membalas, Gilang tidak pernah membalas nya kembali. Saat John bertanya alasan nya, Gilang menjawab takut ibu nya akan menangis dan merengek meminta nya pulang.
John sedikit kasihan pada Gilang. Teman nya itu masih tergolong muda, usia nya baru pertengahan dua puluhan. Waktu dimana Gilang bersenang senang harus dia gunakan untuk meneruskan pendidikan dan mengurus orang yang terluka. Gilang juga berada di negeri orang sendirian. Tanpa kerabat, tanpa teman, dan tanpa keluarga.
John masih ingat bulan pertama Gilang datang di UGD. Berpakaian rapi dengan wajah fresh walau dia selalu menjadi bulan-bulanan dokter senior, bisa tersenyum pada siapapun walau dia sangat lelah, tidak menolak perintah mengobati pasien dengan mental terganggu atau pasien dengan luka yang tidak bisa di logika. Saat Gilang membuktikan diri nya dengan menangani pasien pneumuthorax sendirian, dia sudah tidak diremehkan lagi. Semua dokter –laki laki maupun perempuan- sudah menyambut nya ramah, tidak lagi berpikiran jika Gilang datang melalui koneksi orang dalam.
“Sudah makan?” John melihat mata Gilang membola, lalu dengan polos nya Gilang menoleh pada John, menyengir sambil mengusap belakang kepala nya.
“Makan jam berapa tadi?”
“Jam 11 siang.”
John mendengus. Gilang selalu lupa makan, rasa lapar di perut nya tidak pernah Gilang urus sama sekali. John merasa dia seperti ibu Gilang, menyuruhnya melakukan ini itu yang seharusnya sudah Gilang sadari sedari awal. “Makan sekarang!”
“UGD nanti kamu yang ngurus. Kalau ada banyak pasien gimana?”
John mendorong bahu Gilang. “Cepat makan maka nya!”
“Nggak mau! Berhenti mengatur ku! Kamu bukan ibu apalagi ayah ku!”
Menjitak kepala Gilang, John melotot. “Umur ku sudah 30 tahun! Anggap aku sebagai saudara mu!”
Gilang membuka mulut nya, sok terkejut. “Aku lupa sama fakta jika kamu sudah tua.”
“30 tahun itu belum tua! Masih tahap dewasa!”
“30 tahun di negara ku semua laki-laki sudah beristri!”
“Yang benar? Kenapa laki-laki di negara mu terlalu bernapsu?”
“Mereka melakukan nya dengan benar! Tidak ada yang salah menikah di usia 20-an!”
“Umur 20 sudah menikah? Bocah laki-laki umur segitu sudah ada perempuan yang mau?!”
Gilang berdecak. “Kamu nya saja yang tidak laku.”
“Aku laku! Cuman belum ada yang pas saja!”
“Ya ya terserah kamu.”
“Percaya sama aku! Banyak perempuan yang ngantri buat jadi pendamping hidup ku!”
“Iya, aku percaya.”
“Gilang! Aku bilang-“
“Aish! Diam!”
***
Ini hari senin. Hari libur nya. Hari dimana dia bisa merebahkan tubuh nya di kasur empuk seharian penuh tanpa khawatir dengan jam kerja dan jam kuliah nya. Gilang keluar dari rumah sakit dengan topi di kepala nya, menyembunyikan rambut kusam yang sudah 3 hari dia tidak keramas. Celana panjang dengan robekan di bagian lutut dia padukan dengan hodie putih dan tas di pundak nya.
Tidak ada yang mengira jika Gilang salah satu staf dokter di UGD dengan penampilan nya yang seperti ini. Gilang lebih terlihat seperti turis yang datang berkunjung ke negara orang dan kebetulan sedang mengalami masalah sampai harus keluar dari pintu rumah sakit. Gilang berjalan pelan melewati trotoar. Menikmati suasana ramai dan kendaraan yang bersalipan di samping nya, ini waktu nya orang beraktivitas, waktu nya mereka bekerja dan menuntut ilmu. Gilang tersenyum dalam diam. Dia suka saat melihat penderitaan orang yang harus bangun pagi untuk memulai aktivitas nya sedangkan diri nya sendiri menikmati hari dengan tidur santai di apartemen nya.
“Morning, sir!” Anak kecil berwajah asian berdiri di depan Gilang dengan setangkai bunga mawar merah di genggaman nya. Mata nya yang belo berkedip lucu, rambut nya yang di kucir 2 tinggi bergoyang mengikuti sapuan angin. Nama nya Mia. Perempuan berumur 5 tahun yang pernah Gilang selamatkan karena dia memiliki gejala demam berdarah. Beruntung Gilang segera membawa nya ke rumah sakit, jika tidak Mia akan menderita lebih lama, atau yang parah nyawa nya mungkin tidak akan tertolong.
Gilang berjongkok, meletakkan lutut nya di tanah, mensejajarkan tinggi mereka. Gilang tersenyum, menerima bunga yang Mia sodorkan. “Morning, and thanks Mia.”
“Sama-sama. Kamu mau pulang?” Bahasa Inggris yang Mia lafalkan masih terdengar lucu, itu karena lidah Mia yang terlalu pendek, menyebabkan Mia kesulitan mengucapkan beberapa huruf tertentu.
“Iya. Hari ini aku tidak ada kelas, jadi aku bisa tidur di rumah seharian.”
Mia mengenggam tangan besar Gilang, menarik nya untuk mengikuti Mia masuk ke dalam rumah nya. “Mommy baru saja memasak. Dia minta aku menunggu kamu disini, kata nya kita harus sarapan bersama.”
Gilang menurut. Menghentikan langkah Mia lalu menggendong nya, sesekali dia mencium pipi Mia. “Terimakasih tawaran nya Mia.”
“Mommy bilang kamu sering lupa buat makan. Apa alarm yang aku kasih sedikit membantu?” Gilang tertawa. Minggu lalu Mia berdiri di depan rumah, menunggu Gilang dan memberikan jam weker dengan alarm yang sudah di atur. Tidak terlalu berguna, karena Gilang sering tidur di rumah sakit. Tidak mungkin Gilang membawa jam weker nya yang akan berakibat lemparan bantal karena rekan nya akan terganggu.
“Membantu sekali. Terimakasih.” Gilang tersenyum menenangkan, Mia yang mendengar nya tertawa. Menyenangkan bocah kecil dengan sedikit kebohongan Gilang rasa tidak terlalu buruk. Mereka memasuki rumah, berjalan menuju dapur dan mendudukan Mia di meja makan. Gilang mendekati Pace –ibu Mia-, membantu memindahkan makanan yang sudah perempuan itu buatkan.
“Gilang! Aku senang kamu menerima ajakan sarapan ku.” Senyum di bibir perempuan berumur awal 40-an itu mengembang, membuat kerutan halus di ujung mata nya terlihat. Pace memang cantik di usia nya yang sudah terbilang tua, dia sering melakukan perawatan di salon, menghilangkan keriput yang mulai ketara di wajah nya.
“Mia menatap ku dengan penuh pengharapan. Terlalu jahat jika aku menolak nya.” Gilang duduk di samping Mia. Menerima uluran tangan Mia yang meminta nya untuk duduk di pangkuan Gilang. Pace datang, tangan nya menunjuk putri nya dengan raut wajah jenaka. “Siapa yang meminta mu untuk duduk disana?”
“Gilang! Kamu yang meminta ku kan?” Gemas. Gilang mencium pipi Mia. “Lihat, mom! Gilang tidak keberatan sama sekali.”
Pace mendekat, menggendong Mia agar tidak duduk di pangkuan Gilang. “Dia lelah, biarkan dia sarapan dengan benar. Oke?”
“Oke!” Mia mengangguk semangat. Dia menoleh pada Gilang dengan tatapan bersalah. “Maaf….” Pace mendudukkan nya di meja, membiarkan Mia memilih sendiri makanan nya, lalu dia duduk di samping Gilang. Pace mengambilkan Gilang nasi dan setumpuk lauk di atas nya. “Gimana hari mu?”
“Baik, selalu lebih baik dari hari sebelumnya.”
Pace tertawa, dia meletakkan piring berisi nasi di hadapan Gilang. “Karena kamu bisa melihat pacar Indonesia mu itu?”
Gilang tersenyum, dia meminum air madu hangat buatan Pace. “Cuman itu yang bisa ngobatin rasa lelah ku.”
Hari Senin memang berkah bagi Gilang. Bukan hanya karena hari libur nya, tapi karena dia bisa melihat Nanda dari foto yang Tsuki posting di laman i********: nya. Entah kenapa, Tsuki selalu melakukan nya setiap hari senin. Meluapkan rasa frustasi nya di caption yang tertulis dengan foto absurd memperlihatkan sekumpulan anak FK yang datang dengan wajah malas.
“Kenapa nggak pulang?”
“Takut nggak bisa mikir jernih dan nekat nyulik dia kesini.”
“Kamu nggak punya pikiran kalau dia bakal suka sama laki-laki lain?”
Gilang tertegun. “Huh?”
Meletakkan sendok nya, Pace menatap Gilang dengan sorot keibuan nya. “Aku lihat dari foto yang kamu simpan, dia itu cantik. Pasti banyak orang yang ngantri buat dapetin hati nya.”
“Aku tau kalian berkomitmen dalam diam. Hanya saja, kamu pergi tanpa membuat ikatan apapun pada nya, terlebih kamu nggak ngabarin dia sama sekali. Ibarat kata, kamu nggak peduli sama dia yang tersiksa nunggu kabar dari kamu sementara kamu terus cari kabar terbaru dia lewat sosial media.”
“Itu curang nama nya. Kamu egois. Kamu cuman mikirin diri kamu sendiri. Apa yang kamu lakuin dengan liat foto terbaru dia sama aja dengan muasin rasa rindu kamu. Sementara dia?”
“Nggak ada yang tau kapan hati mulai berubah. Kamu juga nggak tau kalau ada laki-laki yang berusaha gigih buat deketin dia. Kamu nggak tau kapan hati dia goyah, kapan nama kamu sudah tidak ada di pikiran nya lagi, kapan dia sudah melupakan mu sepenuhnya dan nggak peduli sama kamu lagi.”
Pace tersenyum, memberikan sorot menenangkan saat Gilang berpikir keras dengan apa yang dia katakan. “Ini sudah bukan soal kepercayaan. Ini soal menghargai. Kamu sudah nggak menghargai dia dengan tidak memberi nya kabar. Jadi, jangan salahkan dia jika dia memilih laki-laki lain selain kamu.”