Gilang tidak mengolok balik pada Vero yang mengatakan jika abang nya gila, dia terus tersenyum sambil merangkul adik nya menuju jejeran jajanan yang ada di sana. Sesekali mencium rambut adik nya reflek, mengabaikan beberapa orang menahan nafas saat melihat mereka. Penampilan Gilang tidak pernah buruk walau sesimple apapun pakaian yang di kenakan nya. membuat perempuan yang ada di dekat mereka harus melihat Gilang dua kali, mengagumi pahatan sempurna di wajah Gilang.
Vero menyeret nya menuju jejeran kembang gula. Gilang biasa nya yang mengomel betapa bahaya nya makan kembang gula di malam hari pada gigi, hanya saja dia sedang dalam perasaan yang senang sekarang, jadi dia membiarkan Vero mengambil satu.
“Abang, pengin makan takoyaki.” Vero mengadu, menunjuk pada salah satu stand paling pojok yang ramai pengunjung.
“Rame banget. Nanti aja kalau pulang kita mampir dulu cari takoyaki nya.” Vero hanya mengangguk menurut. Mengajak Gilang menuju wahana yang ada. Tangan Gilang reflek meraih ponsel nya saat merasakan getaran notifikasi. Bibir nya tersenyum lebar saat melihat Nanda yang membalas pesan nya.
G.Nanda.T
Ini lagi nemenin adek gue di pasar malem
Gilang.M
Pasar malem yang ada di daerah lo?
G.Nanda.T
Bukan, pasar malem yang ada di alun alun
G.Nanda.T
Kak Gilang lagi ngapain?
“Anjirr! Dia tanya gue lagi ngapain!” Gilang hampir melompat jika Vero tidak menggandeng tangan nya. Mata Gilang tampak berbinar binar menatap Vero dan layar ponsel nya bergantian.
“Bang! Jangan gila di sini napa!” Vero berdesis pelan, tangan nya mengapit tangan kiri Gilang mencegah hal yang bisa saja membuat nya malu. Sekali-kali mata nya melirik layar ponsel abang nya.
Gilang.M
Gue juga lagi nganterin adek gue ke pasar malem, di deket alun” juga…
G.Nanda.T
Eeh,, samaan dong…
Kakak ini lagi dimana nya?
Gilang.M
Lagi di stand makanan, mau ke daerah wahana. Lo?
G.Nanda.T
Lagi di daerah permainan, ngawasin ponakan gue mancing ikan ikan-nan
Gilang menunduk, menatap Vero yang terus menarik jaket nya. Menunjuk satu tempat yang di kerumuni orang orang. Gilang menyimpan ponsel nya, menggenggam tangan Vero dan berjalan cepat menuju kerumunan itu.
“Misi, permisi….” Gilang berujar pelan, tangan nya masih menggenggam Vero agar tetap berada di samping nya. Dan saat Gilang berada di barisan paling depan, mata nya langsung melihat seseorang yang tertiban bianglala yang sudah di pindah kan. Pemilik bianglala itu terlihat menelepon ambulans mencari bantuan.
“Bang, bantuin….” Vero bergumam pelan, mata nya sudah berkaca kaca, mulai takut dengan apa yang ada di hadapan nya.
“Tetap di samping abang, jangan kemana mana, kalau mau ngelakuin sesuatu ijin dulu sama abang, oke?” Vero mengangguk, baru lah Gilang maju ke depan masih sambil menggenggam tangan Vero. Gilang mengeluarkan dompet nya, memberikan kartu identitas jika dia adalah dokter saat seseorang memegang tangan nya yang hendak memeriksa korban. “Saya dokter.” Dia hanya mengangguk percaya. Membiarkan Gilang memeriksa daerah d**a dan bagian perut nya. Gilang mendekatkan telinga nya di d**a korban, mencoba mendengar detak jantung nya walau samar-samar.
Dilepaskan nya tangan Vero. Gilang memberikan ponsel nya pada Vero, menyuruh nya melakukan panggilan dengan Rian yang sudah di pastikan masih berada di kamar tidur karyawan rumah sakit. Vero menurut. “Aku harus bilang apa?”
Gilang menoleh pada Vero, menimang apakah harus menyuruh Rian datang dengan mobil pribadi atau ambulans rumah sakit. “Minta bantuan, suruh Rian membawa ambulans RS ke sini.”
Tangan Gilang menekan perut nya. “Hemopneumothorax.” Gilang bergumam.
Mata nya melirik Vero, mengambil alih ponsel nya dan mulai berujar. “Dia kayak nya ngalamin hemopneumothorax sama cidera limpa. Gue nggak yakin, nggak ada sesuatu yang bisa gue jadiin alat di sini.”
“Gue kesana. 30 menit lagi.”
“Terlalu lama! 10 menit. Suara paru paru nya bahkan berkurang di sisi kiri.”
“Ck. Gue dateng kesana secepat yang gue bisa. Lo lakuin segala hal biar dia tetap bernapas sampai gue datang kesana.”
“Oke.” Gilang menutup panggilan nya, melempar ponsel nya pada Vero yang duduk di samping nya. Tangan nya dengan cekatan memeriksa cidera lain nya. Tangan nya berhenti saat memegang kaki kiri nya, dia membuka pelan celana bagian bawah yang di kenakan korban.
“Udah ancur.” Gilang bisa mendengar Vero sudah menangis sesegukan di samping nya. Mata nya melihat sekeliling, berharap ada sesuatu yang bisa membantu.
“Tolong ambilkan papan itu.” Gilang menunjuk ke arah papan tripleks panjang yang ada di bawah mesin. Gilang mengambil tali tambang yang terlilit di bekas jatuhan bianglala tadi. Mematahkan tripleks nya menjadi dua lalu mulai melakukan pembebatan di kaki nya, meminimalisir pergerakan yang nanti akan terjadi. Gilang menatap jam tangan nya. “Kenapa lama sekali?”
Rian datang di samping nya, ikut menaikkan korban ke brankar yang sudah di siapkan di samping tubuh korban. “Lama, huh? Gue bahkan masih punya waktu tiga menit dari sepuluh menit yang lo janjiin ke gue.” Rian mendengus, membiarkan petugas membawa korban ke ambulans. Rian, Gilang dan Vero mengikuti nya dari belakang.
“Gue nggak bisa ikut.” Rian yang sudah masuk ambulans menatap Gilang lama lalu melirik Vero sekilas.
“Oke, masih ada dokter yang lain di sana…” Rian mengangguk, menutup pintu ambulans setelah mengacungkan ibu jari pada nya. Gilang yang melihat nya hanya tertawa sekilas dan kembali berfokus pada Vero yang masih menangis di samping nya.
“Udah nggak pa-pa, kita pulang ya?” Vero hanya mengangguk. Tangan kanan Gilang menggenggam tangan Vero, sedangkan tangan kiri Gilang memainkan ponsel nya, membuka notifikasi yang sudah muncul sedari tadi.
G.Nanda.T
Kak, lo emang slalu bisa di andelin kalau ada kecelakaan J
G.Nanda.T
Gue udah bilang belom sih kalau lo itu hebat?
***
“Nan?” Nanda menoleh. Menatap Hani yang sedari tadi memanggil nama nya.
“Lo gila?” Nanda terbahak, tidak seperti biasa nya teman sebangku nya ini menanyakan hal seperti itu. “Enggak lah.”
“Tapi lo sedari tadi senyum senyum sendiri.”
“Jam nya pak Gilang kan kosong, cuman orang b**o doang yang nggak senang dengar jam kosong.”
“Pak Gilang?”
Nanda yang tadi nya menunduk kini mendongak. “Maksud gue pak Gumilang.”
“Siapa Gilang?”
“Eh, tugas fisika udah lo kerjain belum? Gue nyontek dong….” Hani makin tersenyum saat menyadari jika Nanda sedang malu sekarang, cuping telinga nya sudah merah dan dengan cara kikuk nya mengalihkan pembicaraan tadi. Nanda tidak pandai berbohong. Hani sebagai teman dekat nya sudah mengetahui nya sejak lama. Jari Hani menoel pelan pipi Nanda, menggoda nya terang terangan. “Gilang siapa?”
Pipi Nanda semakin memanas, tangan nya reflek bergerak menutupi kedua pipi nya sambil memejamkan mata nya.
“Nan, siapa Gilang?”
“Dokter.” Nanda menjawab pelan.
Hani yang tak terlalu terdengar mendekat. “Siapa?”
“Dokter!” Nanda berteriak pelan di telinga Hani, berlari pelan meninggalkan kelas yang memang sudah kosong sedari tadi.
“Dokter dimana?” Hani mengejar sambil berteriak balik.
***
Gilang lagi lagi membawa Vira ke ruangan nya. Bukan masalah tentang pasien nya lagi, tapi masalah jas dokter Vira yang dengan enteng nya dia ikatkan di pinggang. Tidak menghormati profesi yang di sandang nya, membuat pasien yang lain merasa tidak nyaman, belum lagi rasa terhina saat jas dokter kebanggan semua orang digunakan seperti itu.
“Gue capek tau ngurusin lo mulu.” Vira hanya nyengir duduk manis di depan Gilang. Seolah kesalahan nya beberapa hari yang lalu tidak membuat nya jera, Vira kembali berulah. Semakin mempertebal make up nya, mengobati pasien asal-asalan, selalu terlambat datang ke rumah sakit.
“Gue udah bilang ke abang lo kalau gue udah lepas tangan ngurusin lo.”
“Ehh, jangan…” Vira merengek, tangan nya bersidekap di meja kerja Gilang. Menatap Gilang dengan mata berkaca kaca yang dia sengaja. Gilang memajukan duduk nya, menumpukan tangan nya di meja dengan siku nya. Menatap mata Vira dalam sebelum mendorong keras kepala Vira ke belakang. Gilang berdiri, keluar ruangan di ikuti Vira yang mengelus pelan jidat nya.
“Gue serahin lo sama Rian.” Gilang berbalik, menatap Vira yang sudah tidak peduli dengan jidat nya dan balik menatap Gilang putus aja.
“Siapa aja kecuali Rian.” Gumam Vira pelan, mencekal tangan Gilang dan menggenggam nya dengan kedua tangan nya. Mata nya dia buat sesedih mungkin, berkedip cepat menatap Gilang sok cantik.
“Nggak usah sok cantik! Nggak bakalan napsu gue.” Vira menganga. Dia kembali menatap Gilang tajam. “Gue emang cantik!”
“Tapi gue nggak napsu!”
“Banyak cowok lain yang napsu liat gue!”
“Tapi bukan gue!” Tangan Gilang menyentak tangan Vira. Membuka pintu kantor nya dan berjalan pelan menuju UGD.
“Lo nggak suka gue berarti lo nggak normal!”
“Nggak pa-pa gue nggak normal yang penting nggak suka sama lo.”
Vira berdecak. “Lo kenapa nggak suka gue sih?!”
“Lo nggak bisa serius.”
“Gue bisa serius kok kalau tentang menjalin hubungan.”
Gilang berhenti melangkah, berbalik menatap Vira dengan sorot aneh. “Lo gila?”
“Tipe cewek lo yang kayak gimana?”
Mengalah. Gilang lebih memilih meladeni Vira terlebih dahulu, menyandarkan tubuh nya di dinding koridor dengan tangan terlipat di depan d**a. “Yang bertanggung jawab.”
“Kayak gue dong!”
“Yang bertanggung jawab selain lo! Lagian lo bertanggung jawab nya dimana? Pasien lagi sakit lo tinggalin gitu aja, mana yang nama nya bertanggung jawab?!”
“Mereka nggak sakit beneran! Gue tanganin secara serius juga percuma. Lagian ya, Lang! Otak pintar gue terlalu berharga kalau harus ngelayani orang kayak mereka.”
Gilang menjitak keras dahi Vira. “Lo ada di rumah sakit. Lakuin tugas lo dengan bener! Terserah mereka mau sakit bohongan atau apapun, asal lo udah ngelayani mereka. Itu tugas lo! Tugas gue! Tugas semua orang yang menyandang sebutan dokter.”
“Kalau gue lakuin tugas gue, lo bakalan suka sama gue?”
Gilang mendengus. “Nggak! Lo bukan tipe gue!”
“Terus yang gimana?!”
“Yang nggak pake make up menor, pendek, rambut panjang sebahu, mata belo, cocok pake baju apapun meski baju yang dia pake kegedean, tanggung jawab dan nggak pernah lari dari masalah.”
Vira menyerngit. “Kok gue kayak kenal cewek kayak gitu.”
Gilang meluruskan punggung nya, berjalan selangkah lebih dekat dengan Vira. “Satu lagi yang paling penting! Dia bukan cewek kayak lo!”
“Apa masalah nya sama cewek yang kayak gue?!”
Tangan Gilang setengah terangkat, menyapa Rian yang berjalan melewati nya. “Rian!”
Rian berhenti melangkah. Menoleh pada Gilang tanpa ada niatan untuk mendekat. Dengan malas dia bertanya. “Apa?”
“Anak magang yang lo awasin udah cabut kan?” Rian mengangguk menjawab pertanyaan Gilang. “Boleh gue tambahin satu orang buat lo?”
Rian mengangkat satu alis nya, dia menunjuk Vira dengan dagu nya. “Dia maksud lo?”
“Nggak mau! Otak dia nggak beres! Ogah gue ngurusin cewek manja kek gitu.” Rian menggeleng cepat.
“Otak nya encer. Cuman kelakuan nya kayak ubur ubur lagi b***k. Ambil aja, lo lagi kurang orang kan?”
“Gue emang kurang orang, tapi gue nggak mau ngambil dia. Nggak butuh!”
“Dia lebih teliti pas mendiagnosa, kalau lo yang ngajarin, beuh! Jadi dokter berbakat ini cewek!”
“Gue nggak mau!”
Vira yang berdiri di tengah pembicaraan mereka bergumam. “Ngedengar pujian lo kok gue ngerasa terhina ya?”
“Ambil aja!”
“Apa penawaran lo?”
Gilang tersenyum. “Gue siap gantiin shift lo kapan pun dan dimana pun.”
“Nggak cukup! Gue bisa nyuruh dokter junior buat gantiin gue.”
“Masalah operasi bisul biar gue yang tanganin.”
“Nggak cukup! Yang lain.”
“Lo bisa ambil operasi manapun yang lo mau.”
Rian diam. Memperhatikan wajah tersenyum Gilang. “Lo pikir gue bakalan bilang iya? Naikin lagi tawaran nya!”
“Perlu gue bilang ini?”
Rian menyerngit. Menunggu Gilang meneruskan ucapan nya.
“Bilang kalau lo suka-“
“Gue ambil!” Rian menyela. Dia berdecak, menatap Vira untuk mengikuti nya lalu berjalan terlebih dahulu ke UGD, ada laporan tentang pasien nya tadi. Gilang tersenyum mengejek ke Vira. “Lo tau seberapa keras nya dia kalau ngelatih anak magang.”
“Jangan Rian, please!” Gilang meninggalkan Vira yang sudah mengadu pada perawat di bagian informasi. Tangan nya memainkan ponsel nya, membuka notifikasi yang muncul.
G.Nanda.T
Gue sekolah di SMA Kartini, deket kok sama rs tempat lo kerja
Gilang.M
Mau gue jemput lo pulang sekolah nanti?
G.Nanda.T
Gue pulang sore entar, mungkin jam 3. Bukan nya lo udah ganti shift ya?
Gilang.M
Gue ganti shift mulai besok. Nanti gue pulang jam 2.
Lo mau gue jemput? Tapi gue cuman bawa motor
G.Nanda.T
Oke, gue kabarin entar kalau udah bel pulang sekolah
Gilang.M
Ga pa pa?
G.Nanda.T
Apa nya?
Gilang.M
Gue bawa motor, gue nggak kepikiran mau jemput lo, jadi gue cuman bawa motor.
G.Nanda.T
Gak pa pa lah… emang kenapa kalau pake motor?
Gilang.M
Panas,
G.Nanda.T
Kan udah sore,
Gilang.M
Kayak nggak tau Jakarta aja, sore jam 3 juga masih bisa di bilang panas di sini
G.Nanda.T
Enakan bawa motor, jadi bisa nyelip kalau macet :v
Gilang.M
Iya in biar cepet :v
G.Nanda.T
Iya
Gilang.M
Ha?
G.Nanda.T
Kata nya suruh di iya in biar cepet,,
Gilang.M
Anjir :v
Gilang tertawa, memasukkan ponsel nya ke saku jas nya saat tidak mendapat balasan dari Nanda. Dia berjalan mendekati Rian. Mata nya sesekali melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 1 siang. Sebentar lagi. 2 jam lagi dia akan bertemu dengan Nanda, sudut bibir nya terus berkedut, tidak bisa menahan senyuman nya lebih lama.
“Ada apa?” Gilang bertanya, ikut membaca data yang ada di tangan Rian. Mengangguk sekali, mengerti saat tau apa yang Rian pikirkan.
“Dia pinter tapi kelakuan nya kayak monyet.” Rian bergumam, masih sibuk membaca data Vira.
“Dia seumuran sama lo masa.” Rian berucap, menatap Gilang yang tadi nya bercanda gurau dengan perawat yang ada di balik meja informasi.
“Kan wajar.”
“Nggak wajar kalau dia itu sepinter lo tapi masih jadi anak magang, seumuran sama lo lagi.”
Gilang tertawa. “Mungkin gue nya aja yang terlalu hebat.”
“Please! Nggak usah PD! Lo itu cuman terlalu nekat, nggak usah di banggain.”
“Berkat ketekatan gue, gue bisa di sini berdiri di samping lo.”
“Kalau gue lebih nekat dari ini, tingkat gue bisa lebih tinggi dari lo.”
“Ngimpi!”
Rian menendang tulang kering Gilang sambil berjalan saat melihat Vira yang berjalan memutar menghindari nya, mengabaikan Gilang yang menunduk mengelus cepat kaki nya dan sesekali mengumpat pelan.
***
Sudah jam tiga kurang lima menit, Gilang sudah menunggu di depan gerbang SMA Nanda, sesekali melihat ponsel nya menunggu pesan nya di balas.
G.Nanda.T
Gue otw gerbang,
Gilang hanya mengangguk, tidak membalas pesan Nanda dan menyimpan ponsel nya di dasbor motor Vario hitam nya. Menunggu Nanda sambil sesekali melihat ke dalam sekolah, banyak murid perempuan di sana. Gilang membaca plakat SMA Kartini, sedetik kemudian dia tertawa pelan. Wajar jika banyak murid perempuan yang sekolah di sini karena memang SMA Kartini adalah SMA khusus perempuan.
Dia duduk di jok depan motor nya, masih mengenakan helm merah nya dengan jaket bomber hitam yang dia sampirkan di stang, membiarkan kemeja putih nya tertiup angin sore.
“Cakep cakep tukang ojek.” Gilang otomatis menoleh pada gerembongan murid yang tak jauh dari nya. Sedikit mencibirkan bibir nya saat tau jika dia yang mereka bicarakan.
“…Lang!”
“Kak Gilang!” Gilang menoleh ke asal suara, menatap Nanda yang berjalan cepat ke arah nya.
“Masa gue di kira tukang ojek sama murid di sini.” Gilang mengadu saat Nanda sudah ada di depan motor nya.
Nanda hanya tertawa, memperbaiki kerah kemeja Gilang yang berantakan tadi. “Cakep cakep gini masa di kira tukang ojek sih.”
Gilang ikut tertawa, menyisir rambut nya ke belakang dengan gaya sok keren dan menyeringai kecil ke arah Nanda. “Gue cakep kan ya?”
Gila. Kadar kepedean nya memang harus di kurangi!
***