Makhluk Penjaga Dibalik Bayangan

1100 Kata
Para Dokoon yang dipanggil oleh Soka langsung menyerang Jeremy dan Horma dalam dua bagian. Yang melawan Horma adalah para penyihir dengan kekuatan elemen kegelapan. Sementara yang bertarung melawan Jeremy adalah para petarung dengan senjata yang mengandung kekuatan kegelapan pula. “Apakah kau datang menangani mereka Jer?” Tanya Horma sambil bertarung dengan hati - hati. “Anda tidak perlu mengkhawatirkan saja. Kalau hanya lawan seperti ini bukanlah apa - apa.” Secara otomatis kekuatan King aktif dengan sendirinya menunggu respon dari Jeremy lagi. Sepertinya kekuatan itu akan aktif kalau ada bahaya dari kekuatan kegelapan yang mengancamnya. “Baiklah kalian lebih suka dikalahkan dengan cara seperti apa?” Jeremy mengeluarkan Otora untuk melawan musuhnya. Saat hendak melawan tiba - tiba terdengar suara di telinganya. “Tuan Jeremy, untuk mengalahkan mereka kita harus memisahkan kelompok mereka dari pemimpinnya.” “Bukankah kau adalah maksud bayangan dari dalam lorong sempit itu?” “Benar tuan.” Jeremy pun mengikuti saran dari suara tersebut. Dia memancing mereka ke tempat lain yang jauh dari jangkauan penglihatan Soka. Suatu tempat yang dikelilingi oleh rak dengan tumpukan barang - barang perlengkapan kebersihan. Sepertinya disitu adalah tempat yang digunakan para petugas untuk menyimpan tugas harian mereka. Walau dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang - barang biasa, tempat ini memiliki langit - langit yang sangat tinggi dan transparan. “Aku tidak tahu kalau orang - orang di benteng ini begitu perhatian dengan kebersihan sehingga cara mereka meletakkannya begitu rapi.” “Tuan, apakah kami memberikan saran lagi?” “Katakanlah! Kalian tidak perlu seformal itu kepadaku. Sebenarnya kalian dapat memanggilku dengan menyebut namanya saja.” “Maaf tuan, kami adalah makhluk dari zaman yang memegang teguh budaya dan kehormatan.” “Baiklah kalau begitu. Lakukan saja apa yang kalian anggap baik. Jadi saran apa yang ingin kalian berikan?” “Sekarang anda dapat menggunakan kemampuan kami di tempat ini untuk menghemat kekuatan. Dengan begitu anda akan memiliki cukup kekuatan untuk pertarungan terakhir.” “Apakah kalian benar - benar mampu melawan makhluk - makhluk kuat ini.” “Tenang saja tuan. Kami merasakan kekuatan mereka masih berada dibawah kami semua. Tapi akan lebih baik kalau kami membuktikannya langsung saja.” “Dum..dum...dum!” Terdengar suara langkah kaki yang besar dari balik kegelapan. Getaran yang dihasilkan membuat guncangan yang layaknya gempa bumi. “Apa yang telah terjadi? Mengapa aku merasakan kehadiran sosok yang sangat besar.” “Kami juga merasakan kekuatan yang tidak normal mendekati kita saat ini tuan.” “Apa mungkin ini adalah makhluk yang mengejar kita?” “Lihat atas tuan!” Tiga pasang mata yang berwarna merah menyala tampak dari balik kegelapan. Semua mata itu memiliki ukuran yang sangat besar. Tatapannya dapat membuat siapapun ciut karena terintimidasi. “Nah sekarang aku percaya kalau raksasa itu benar - benar ada. Jadi apakah kalian masih berpikir dapat mengalahkan yang itu?” “Bukan masalah tuan. Walau ukuran mereka menjadi sepuluh kali lipat dari ini sekalipun masih berada dibawah kami.” “Kalau begitu sekarang aku ijinkan kalian bertarung sebebas mungkin dan taklukan mereka!” Setelah mendapatkan perintah dari Jeremy, bayangan yang tadinya tidak berwujud itu pun keluar dari dalam cincin tersebut dengan bentuk aslinya. Bayangan itu terdiri dari tiga sosok yang dengan bentuk yang berbeda - beda. Yang pertama bentuknya sepertinya kucing yang berdiri dengan dua kali dan menggunakan pakaian seperti seorang pemburu. Makhluk itu memiliki senjata seperti pedang tipis seperti sebuah jarum yang sangat tajam pada bagian ujungnya. Dia yang pertama kali maju ke depan untuk berhadapan dengan para Dokoon yang berubah menjadi raksasa dengan bantuan kemampuan Soka tersebut. “Namaku adalah Nekon. Aku adalah ras kucing pemburu yang terakhir di dunia ini. Ya setidaknya karena aku belum bertemu dengan sesamaku setelah ratusan tahun. Sebenarnya aku ingin lebih banyak bermain - main dengan kalian. Tapi orang yang ada di sana tidak memiliki banyak waktu lagi. Jadi maaf saja kalau aku akan bertarung dengan cepat. Jadi siapa yang mau melawanku yang sudah tidak sabar ini?” “Hey kucing lucu! Apa yang kau lakukan di hadapan kami? Menyingkirlah karena membunuh binatang lemah itu terlalu memalukan,” kata raksasa yang berdiri paling kiri. “Apa yang kau katakan tadi?” Nekon menjadi sangat marah tanpa sebab yang jelas setelah mendengar perkataan para Dokoon tersebut. “Oh binatang lemah?” “Bukan! Tapi yang pertama kali kau ucapkan tadi.” Nekon berteriak sekuat tenaga. “Kuc….” Tiba - tiba raksasa itu berkata tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. “Astaga kebiasan buruknya tidak hilang setelah sekian lama berdiam di dalam lorong itu,” gumam salah satu rekannya yang berdiri dibelakang. “Sebentar lagi kita akan mengalami masalah yang lebih besar. Semoga dia mampu menguasai diri agar kita masih dipandang berguna oleh tuan Jeremy.” “Aku pun berharap yang sama.” Raksasa itu pun masih bingung akan apa yang terjadi padanya karena tidak bisa berbicara sama sekali. “Mengapa kau bingung makhluk bodoh? Apakah kau tidak bisa mencium darah busuk yang keluar dari mulutmu?” Sepertinya efek samping dari kekuatan Soka membuat para Dokoon kehilangan inderanya. Bahkan sampai mereka tidak bisa merasakan sakit sama sekali. Begitu raksasa itu meraba mulutnya maka dia pun menyadari kalau darah sudah mengalir sedari tadi. Darah berwarna hitam pekat akibat lidahnya yang berhasil dipotong oleh Nekon dengan kecepatan tinggi. “Aa...aa...aaa.” Makhluk itu masih terus berusaha untuk berbicara tapi sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. “Kau terlalu meremehkanku makhluk rendahan! Kami adalah makhluk berbudaya yang bertarung dengan keagungan dan kehormatan. Oleh karena itu aku tidak akan membuat diriku dikotori oleh darah busuk itu.” “Uwang..aja!” Raksasa itu pun melancarkan pukulan berkali - kali kepada Nekon. Tapi dengan mudah dapat dihindari olehnya tanpa harus berpindah tempat sama sekali. Dia hanya melompat di tempat dan disertai dengan sedikit tarikan nafas. “Leluhur kalian pasti malu melihat para Dokoon zaman ini. Untung saja tuan Jeremy tidak bertarung melawan musuh yang menyedihkan sepertimu. Baiklah sudah kuputuskan untuk tidak membiarkan lawan lemah sepertimu menantang tuan Jeremy. Sungguh memalukan!” Karena tidak berhasil menyerang dengan kedua tangannya, sekarang raksasa itu pun menyerang dengan menggunakan kakinya. “Crett…!” Darah hitam memancara bagaikan air mancur dari kaki raksasa. “Aaa…!” Dia berteriak kesakitan akibat kaki yang terpotong setengah oleh senjata Nekon. Tapi ternyata yang dipotong oleh Nekon adalah tulang kaki bagian depan sehingga membuat kakinya menggantung begitu saja. “Biasakan untuk mendengar orang ngomong terlebih dahulu makhluk bodoh. Kalian memang tidak memiliki kehormatan sama sekali. Para Dokoon yang sekarang mungkin lebih pantas disebut sebagai binatang hutan yang liar.” “Tutup mulutmu!” Bentak raksasa tersebut dalam keadaan susah untuk berdiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN